Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Proyeksi 2026: Investasi tak Lagi Ditopang Likuiditas Murah

Ihfa Firdausya
17/2/2026 20:46
Proyeksi 2026: Investasi tak Lagi Ditopang Likuiditas Murah
ilustrasi(Antara)

Lanskap pasar keuangan global pada 2026 diperkirakan memasuki fase baru yang lebih kompleks. Setelah bertahun-tahun didorong stimulus moneter dan likuiditas melimpah, investor kini menghadapi lingkungan investasi yang menuntut kehati-hatian serta fokus pada kekuatan fundamental ekonomi.

Analisis terbaru Elev8 menunjukkan bahwa tahun ini akan ditandai pertumbuhan ekonomi global yang moderat, tekanan inflasi yang belum sepenuhnya reda, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Kombinasi faktor tersebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan berbagai kelas aset.

Laporan tersebut memprediksi pertumbuhan ekonomi masih melambat. Negara-negara maju masih dibayangi tingginya utang, produktivitas yang stagnan, serta tantangan demografi. Sementara itu, negara berkembang memiliki peluang ekspansi, meskipun tetap rentan terhadap gejolak eksternal.

Di sisi kebijakan, bank sentral di negara maju diperkirakan mendekati akhir siklus pelonggaran moneter. Penurunan suku bunga tambahan kemungkinan terbatas karena inflasi belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini membuat biaya pinjaman tetap tinggi dan berpotensi menahan ekspansi sektor bisnis maupun konsumsi. Amerika Serikat diproyeksikan menghadapi kebijakan fiskal yang lebih ketat akibat defisit anggaran yang meningkat, yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Dolar AS diperkirakan melemah secara bertahap, meski penurunan tajam dinilai kecil tanpa adanya krisis besar.

Dalam kondisi tersebut, emas diperkirakan tetap menjadi aset lindung nilai utama. Permintaan logam mulia ini berpotensi didorong pembelian bank sentral, ketidakpastian global, serta kemungkinan pelemahan mata uang utama. Harga emas pun dinilai berpeluang bertahan tinggi secara struktural.

Komoditas energi juga menjadi perhatian. Produksi minyak global diperkirakan tidak meningkat signifikan, sementara risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik tetap tinggi. Situasi ini berpotensi memicu volatilitas harga energi yang berdampak langsung pada inflasi dan biaya produksi industri.

Sementara itu, pasar aset digital diperkirakan memasuki fase konsolidasi setelah lonjakan harga dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa katalis baru, pergerakan harga kripto cenderung datar, meskipun volatilitas tetap tinggi. Investor disarankan lebih selektif dan tidak mengandalkan momentum spekulatif semata.

Di Asia, pertumbuhan ekonomi menunjukkan pola yang beragam. Tiongkok dan India diperkirakan melambat setelah fase ekspansi panjang, sedangkan Jepang dan Korea Selatan berpotensi mencatat perbaikan berkat stimulus fiskal dan kebijakan industri yang agresif. Divergensi ini mencerminkan pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi global.

Risiko struktural juga tetap membayangi. Potensi koreksi sektor teknologi, khususnya perusahaan yang berinvestasi besar pada kecerdasan buatan, dapat terjadi apabila investasi tersebut belum menghasilkan keuntungan nyata. Selain itu, meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok berisiko mengganggu rantai pasok global.

Krisis utang pemerintah menjadi perhatian lain. Kenaikan rasio utang terhadap PDB di berbagai negara memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal. Jika kepercayaan pasar menurun, imbal hasil obligasi dapat melonjak dan memicu tekanan pada sistem keuangan.

Dalam skenario ekstrem, bank sentral mungkin kembali menggunakan pelonggaran kuantitatif untuk menjaga stabilitas pasar. Namun langkah ini berisiko memperpanjang tekanan inflasi dan menciptakan distorsi harga aset.

"Secara keseluruhan, 2026 dipandang sebagai masa peralihan dari era likuiditas murah menuju era investasi berbasis kualitas. Investor tidak lagi dapat mengandalkan kenaikan harga yang ditopang stimulus, melainkan harus mengedepankan analisis fundamental, diversifikasi, dan disiplin manajemen risiko," tulis laporan tersebut.

Strategi portofolio yang seimbang antara aset berisiko dan aset lindung nilai menjadi kunci menghadapi ketidakpastian. Emas, obligasi berkualitas tinggi, serta sektor defensif dinilai tetap menarik, sementara aset berisiko tinggi membutuhkan seleksi yang lebih ketat.

Perubahan ini menandakan bahwa peluang keuntungan tetap ada, tetapi membutuhkan pendekatan yang lebih matang dan realistis. Kemampuan membaca tren jangka panjang serta mengantisipasi risiko global akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan investasi sepanjang tahun ini. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik