Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
Lanskap pasar keuangan global pada 2026 diperkirakan memasuki fase baru yang lebih kompleks. Setelah bertahun-tahun didorong stimulus moneter dan likuiditas melimpah, investor kini menghadapi lingkungan investasi yang menuntut kehati-hatian serta fokus pada kekuatan fundamental ekonomi.
Analisis terbaru Elev8 menunjukkan bahwa tahun ini akan ditandai pertumbuhan ekonomi global yang moderat, tekanan inflasi yang belum sepenuhnya reda, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Kombinasi faktor tersebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan berbagai kelas aset.
Laporan tersebut memprediksi pertumbuhan ekonomi masih melambat. Negara-negara maju masih dibayangi tingginya utang, produktivitas yang stagnan, serta tantangan demografi. Sementara itu, negara berkembang memiliki peluang ekspansi, meskipun tetap rentan terhadap gejolak eksternal.
Di sisi kebijakan, bank sentral di negara maju diperkirakan mendekati akhir siklus pelonggaran moneter. Penurunan suku bunga tambahan kemungkinan terbatas karena inflasi belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini membuat biaya pinjaman tetap tinggi dan berpotensi menahan ekspansi sektor bisnis maupun konsumsi. Amerika Serikat diproyeksikan menghadapi kebijakan fiskal yang lebih ketat akibat defisit anggaran yang meningkat, yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Dolar AS diperkirakan melemah secara bertahap, meski penurunan tajam dinilai kecil tanpa adanya krisis besar.
Dalam kondisi tersebut, emas diperkirakan tetap menjadi aset lindung nilai utama. Permintaan logam mulia ini berpotensi didorong pembelian bank sentral, ketidakpastian global, serta kemungkinan pelemahan mata uang utama. Harga emas pun dinilai berpeluang bertahan tinggi secara struktural.
Komoditas energi juga menjadi perhatian. Produksi minyak global diperkirakan tidak meningkat signifikan, sementara risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik tetap tinggi. Situasi ini berpotensi memicu volatilitas harga energi yang berdampak langsung pada inflasi dan biaya produksi industri.
Sementara itu, pasar aset digital diperkirakan memasuki fase konsolidasi setelah lonjakan harga dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa katalis baru, pergerakan harga kripto cenderung datar, meskipun volatilitas tetap tinggi. Investor disarankan lebih selektif dan tidak mengandalkan momentum spekulatif semata.
Di Asia, pertumbuhan ekonomi menunjukkan pola yang beragam. Tiongkok dan India diperkirakan melambat setelah fase ekspansi panjang, sedangkan Jepang dan Korea Selatan berpotensi mencatat perbaikan berkat stimulus fiskal dan kebijakan industri yang agresif. Divergensi ini mencerminkan pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi global.
Risiko struktural juga tetap membayangi. Potensi koreksi sektor teknologi, khususnya perusahaan yang berinvestasi besar pada kecerdasan buatan, dapat terjadi apabila investasi tersebut belum menghasilkan keuntungan nyata. Selain itu, meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok berisiko mengganggu rantai pasok global.
Krisis utang pemerintah menjadi perhatian lain. Kenaikan rasio utang terhadap PDB di berbagai negara memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal. Jika kepercayaan pasar menurun, imbal hasil obligasi dapat melonjak dan memicu tekanan pada sistem keuangan.
Dalam skenario ekstrem, bank sentral mungkin kembali menggunakan pelonggaran kuantitatif untuk menjaga stabilitas pasar. Namun langkah ini berisiko memperpanjang tekanan inflasi dan menciptakan distorsi harga aset.
"Secara keseluruhan, 2026 dipandang sebagai masa peralihan dari era likuiditas murah menuju era investasi berbasis kualitas. Investor tidak lagi dapat mengandalkan kenaikan harga yang ditopang stimulus, melainkan harus mengedepankan analisis fundamental, diversifikasi, dan disiplin manajemen risiko," tulis laporan tersebut.
Strategi portofolio yang seimbang antara aset berisiko dan aset lindung nilai menjadi kunci menghadapi ketidakpastian. Emas, obligasi berkualitas tinggi, serta sektor defensif dinilai tetap menarik, sementara aset berisiko tinggi membutuhkan seleksi yang lebih ketat.
Perubahan ini menandakan bahwa peluang keuntungan tetap ada, tetapi membutuhkan pendekatan yang lebih matang dan realistis. Kemampuan membaca tren jangka panjang serta mengantisipasi risiko global akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan investasi sepanjang tahun ini. (E-3)
DIPLOMASI energi yang dilakukan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Tokyo, Jepang, dinilai menjadi sinyal kuat pergeseran posisi Indonesia dalam peta kekuatan global.
Otorita IKN telah mengeluarkan 65 perjanjian kerja sama senilai sekitar Rp70 triliun untuk mempercepat pembangunan di Kalimantan Timur.
Kerja sama ini akan fokus pada penerapan jangka panjang teknologi artificial intelligence (AI)/kecerdasan buatan pada bidang keuangan.
Bear market adalah kondisi pasar ketika harga aset turun secara signifikan dan berlangsung dalam periode yang relatif panjang.
KETIDAKPASTIAN ekonomi global membuat aktivitas merger dan akuisisi (M&A) segmen menengah atau mid-market melambat sepanjang 2025.
Pada Desember 2025 porsi konsumsi tercatat sebesar 74,3% kemudian turun menjadi 72,3% pada Januari 2026 dan kembali menurun menjadi 71,6% pada Februari 2026.
PT Pintu Kemana Saja (Pintu) mencatat peningkatan volume perdagangan per pengguna sebesar 45% pada Februari 2026.
KETIDAKPASTIAN ekonomi global membuat aktivitas merger dan akuisisi (M&A) segmen menengah atau mid-market melambat sepanjang 2025.
Platform investasi aset kripto Pintu meluncurkan program eksklusif Pintu VIP bagi pengguna dengan aktivitas perdagangan dalam volume besar.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai kunjungan OJK dan Bareskrim ke kantor perusahaan di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.
Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Jafar menyoroti revisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings.
Industri startup Indonesia yang semakin kompetitif tidak selalu memberikan ruang bertahan bagi perusahaan teknologi finansial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved