Sabtu 27 Agustus 2022, 13:15 WIB

Hidup Sederhana Demi Menyelamatkan Bumi 

Gurgur Manurung, Praktisi lingkungan dan sosial politik, alumni Pascasarjana IPB Bogor  | Opini
Hidup Sederhana Demi Menyelamatkan Bumi 

Dok pribadi
Gurgur Manurung

 

GURU besar ilmu lingkungan Universitas  Indonesia (UI) Mohammad Surjani ketika mengajar kami di mata kuliah ekologi manusia di pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), berulangkali mengatakan ilmu lingkungan sarat dengan spiritualitas. Percuma kita menjadi doktor ilmu lingkungan hidup jika hanya teori saja. Ilmu doktor lingkungan tetapi gaya hidup tamak, untuk apa?

Ia mengatakan ada tiga tokoh yang harus diteladani agar bumi tidak terjadi pemanasan global; Nabi Isa (Yesus), Nabi Muhammad, dan Mahatma Gandhi. Ketiga tokoh ini gaya hidupnya minimalis. Yesus mengajarkan pengikutnya untuk berdoa, "Berikanlah pada kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." 

Yesus mengajarkan pengikutnya agar meminta makanan atau rejeki secukupnya. Jika manusia bergaya hidup lebih dari kebutuhan, sesungguhnya ada unsur ketamakan. Apakah kita sadar bahwa diameter dan luas Bumi tidak pernah bertambah sementara jumlah penduduk terus meningkat? Jika hal ini tidak dipikirkan manusia bagaimana masa depan Bumi? Bukankah Bumi sudah makin panas?
    
Jika keliling dan luas Bumi tidak bertambah di satu sisi, sementara di sisi lain pertumbuhan penduduk  terus bertambah, bagaimana dengan janji Tuhan dalam Alkitab yang menjanjikan kepada Abraham bahwa anak cucunya seperti bintang di langit dan pasir di pantai? Jika janji itu digenapi, bukankah akan terjadi pemanasan global dan kelaparan? Bagaimana sesungguhnya janji Allah itu kepada Abraham? 

Denny Boy Saragih, alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU dan doktor teologia dari Skotlandia, mengatakan bahwa janji Tuhan sudah digenapi. Oleh karena sudah digenapi maka kita diberi hak membatasi jumlah penduduk dengan cara kontrasepsi. "Dalam konteks inilah manusia diberikan akal budi," katanya.
 
M Surjani mengutip perkataan Nabi Muhammad yang mengatakan, "Makanlah sebelum lapar, dan minumlah sebelum haus."  M Surjani yang mendapat guru besar ilmu lingkungan dari Universitas Paramadina yang didirikan guru bangsa Nurcholis  Madjid itu menafsirkan bahwa manusia tidak boleh tamak. 

Manusia harus membatasi dirinya akan kesadaran bahwa bumi ini memiliki daya dukung yang sangat terbatas. Manusia yang kini terancam pemanasan global (global warming) harus secara sadar agar hidup sesuai kebutuhan saja. Makan sebelum lapar dan minum sebelum haus memiliki makna yang sangat dalam. Cara makan orang lapar berbeda dengan orang yang tidak lapar. Cara minum yang haus berbeda dengan cara minum orang yang belum haus.

M Surjani juga mengutip Mahatma Gandhi yang mengatakan, "Bumi cukup untuk manusia tetapi tidak cukup bagi  orang serakah."  Makna dari pernyataan itu adalah bahwa semua manusia di kolong langit ini menyadari bahwa diameter Bumi konstan, karena itu dibutuhkan perilaku hemat dan konsumsi sesuai kebutuhan saja.

Sebab, jika jumlah manusia yang mengeksplorasi alam akan membuat kerusakan dan mengakibatkan kelaparan. Dampak dari kerusakan alam akan berdampak bagi semua umat manusia dan keanekaragaman hayati (biodiversity). 

Dalam kehidupan sehari-hari saya tidak begitu suka makanan yang mahal, pakaian yang mahal, kendaraan yang mahal atau apapun di luar kebutuhan saya. Sejak kecil saya tidak begitu tertarik dengan mode atau  barang  yang disebut bergengsi. Saya hanya menggunakan yang dibutuhkan, kendaraan yang dibutuhkan, rumah yang dibutuhkan. Kebutuhan cukup dan wawasan yang luas itulah kebahagiaan. Gaya hidup saya yang ala kadarnya sering mendapat protes dari ibu dan kini istri juga protes hal yang sama. Tidak pernah memikirkan pakaian apa yang penting masih ada untuk dipakai. Jika dibeli dipakai, kalau tidak dibeli  saya memakai yang ada saja. 
    
Dalam pengamatan saya banyak orang menyulitkan diri sendiri seperti orang baru berkeluarga kredit rumah, mobil, perabot rumah tangga, hingga alat komunikasi yang mahal sehingga kesulitan membayar. Kesulitan membayar mengakibatkan keluarga yang tidak memiliki kehangatan. Berulangkali saya katakan keluarga muda harus mengutamakan kehangatan keluarga. Cukup banyak keluarga tidak membawa anak-anak rekreasi karena penghasilan habis membayar kredit barang yang kadang tidak menjadi kebutuhan mendesak.
 
Selain itu bisa saja terjadi balita hingga remaja tidak mendapakan gizi yang memadai karena penghasilan habis untuk membayar kredit. Alasan mereka pada umumnya adalah investasi. Cukup banyak orang tua mengutamakan investasi rumah dan barang dibandingkan investasi pendidikan, gizi dan menambah wawasan anak-anak. Tetangga kami ada yang bermobil mewah, rumah luas dengan cara kredit tetapi anak-anaknya makan mi instan hampir setiap hari. Saya sering mengingatkan agar gizi anak jauh lebih penting dari investasi barang dan berbagai investasi lain. 
    
Hidup sederhana itu penuh makna. Cara berpikir kita harus secara utuh yang dimulai dari kesadaran bahwa diameter Bumi tidak pernah bertambah. Oleh karena itu luas dan keliling bumi yang Tuhan titipkan kepada kita harus dijaga bersama. Berpikir kesadaran akan luas dan keliling bumi terbatas, mengajak keluarga, dan komunitas untuk menyadari. Pakar ilmu lingkungan dari Universitas Padjajaran (Unpad) almarhum Prof Otto Sumarwoto mengatkan atur diri sendiri. Bumi akan selamat jika dimulai dari diri sendiri.
    
Bagi saya aneh jika orang sudah berpendidikan baik tetapi gaya hidupnya tidak minimalis. Semakin baik pendidikan seseorang sejatinya hidupnya makin minimalis atau makin sederhana. Rasanya sangat norak seorang terpelajar dengan gaya hidup mewah. Kaum intelektual biasanya hidupnya minimalis. Mereka yang mempertontonkan kemewahan di luar kebutuhan adalah orang-orang yang tidak percaya diri. Kita yang percaya akan kuasa Tuhan sejatinya hidup minimalis seperti yang dikatakan Yesus, Nabi Muhammad, dan Mahatma Gandhi. Hidup sederhana, memikirkan keadilan bagi manusia dan alam adalah panggilan hidup.

Baca Juga

MI/RM Zen

Terima Kasih, Anies Baswedan

👤Akhmad Mustain, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 13:41 WIB
Masyarakat Jakarta tetap patut berterima kasih kepada Anies karena sudah memimpin Ibu Kota...
Dok. Pribadi

Pengakaran Kesaktian Pancasila

👤Syaiful Arif Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila Kontributor Jurnal Tahswirul Afkar Lakpesdam PBNU 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 05:00 WIB
Bagi Ki Hadjar yang merupakan anggota BPUPKI-PPKI, Pancasila ialah dasar negara yang mencerminkan kemuliaan martabat...
Dok pribadi

Koperasi dan UMKM Sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi

👤Moch Daniel Halim Badran, Bendahara Umum HMI Badko Jabodetabeka-Banten 2021-2023, Direktur Eksekutif Indonesia Youth Corner 🕔Jumat 30 September 2022, 21:15 WIB
KOPERASI memang memerlukan keuntungan, namun itu bukan tujuan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya