Kamis 10 Februari 2022, 05:10 WIB

Episentrum Keolahragaan Nasional 2022

Agus Kristiyanto Profesor analisis kebijakan pembangunan olahraga FKOR UNS Surakarta, Tim Sport Development Index (SDI) Pusat, Tim Ahli Revisi UUSKN, dan Tim Pengembang Roadmap DBON | Opini
Episentrum Keolahragaan Nasional 2022

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

SEPANJANG 2022 ini pemerintah akan melakukan orientasi 'secara ketat' penganggaran keolahragaan nasional demi memberhasilkan tanggung jawab besar keolahragaan. Istilah tanggung jawab besar tersebut dikemukakan Menpora Zainudin Amali pada rapat kerja dengan Komisi X DPR pada akhir Januari 2022. Tanggung jawab besar yang dimaksudkan berkaitan dengan implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional (PPPN).

Ditegaskan pula bahwa semua kegiatan dan program keolahragaan selama tahun anggaran 2022 harus mengait kepada implementasi DBON dan PPPN. Prioritas alokasi yang demikian menjadi opsi karena kedua tanggung jawab besar tersebut belum mendapatkan penganggaran spesifik.

 

 

Momentum awal DBON 

Sebagai sebuah perencanaan strategis yang besar, DBON telah sukses disosialisasikan ke berbagai kota besar terpilih se-Indonesia pada penghujung 2021. Masyarakat kini sudah sangat memahami bahwa DBON memiliki tiga tujuan utama, yakni 1) meningkatkan budaya olahraga, 2) meningkatkan kapasitas, sinergi, dan produktivitas olahraga prestasi, dan 3) meningkatkan ekonomi nasional berbasis olahraga. Kerangka kerja (frame work) apa yang semestinya menjadi orientasi bersama, memang, sebaiknya sudah mulai dilakukan di tahun ini.

Setiap orang akan 'memandang langit yang sama' pada saat mereka melakukan aksi berkontribusi mewujudkan tujuan DBON dari posisi masing-masing; pertama, upaya meningkatkan budaya olahraga semestinya dilakukan dengan menumbuhkan angka partisipasi, kebugaran, literasi fisik, dan angka kecukupan ruang terbuka olahraga dalam satu paket. Formula baru wajib ditambahkan untuk membangun habituasi, intervensi, dan keteladanan dalam membangun gaya hidup sehat aktif sepanjang hayat.

Jalur yang digunakan ialah informal, formal, dan nonformal. Sasaran khalayak ialah masyarakat usia 10 tahun ke atas. Tantangan dasarnya pada angka partisipasi kondisi existing yang baru sekitar 32%, sementara angka kebugaran 24%. Tidak cukup diselesaikan dengan menumbuhkannya secara linear dari tahun ke tahun, tetapi harus tumbuh secara eksponensial menuju capaian ideal kelak pada 2045.

Kedua, upaya meningkatkan kapasitas, sinergi, dan produktivitas olahraga prestasi dilakukan dengan cara yang sangat spesifik. Kapasitas berorientasi pada soal kelayakan, kompetensi, integritas, dan dedikasi SDM olahraga. Sinergi merujuk pada jalinan integral antarkomponen yang berkontribusi menumbuhkan secara kuat performa olahraga. Simbiosis yang dibangun berupa simbiosis mutualisme dan komensalisme, bukan parasitisme. Bekerja sama lebih ditekankan, bukan yang penting sama-sama bekerja. Selanjutnya merit system sudah selayaknya menjadi 'kiblat' di balik semangat sinergi yang terus ditumbuhkan.

Sementara itu, esensi dari produktivitas adalah menghasilkan 'produk luaran' yang sangat tergantung dari mutu raw input, mutu input lingkungan serta mutu tranformasi (proses) dari sebuah 'mesin produksi'. Produktivitas olahraga prestasi sebenarnya sudah sangat terbantu dengan kebijakan tentang 14 cabang olahraga prioritas di DBON. Meskipun barangkali masih ada sikap pro-kontra, memberikan skala prioritas dapat menyebabkan sistem kerja 'mesin produksi' bekerja efektif dan lebih efisien. Informasi tentang sistem promosi dan degradasi atas 14 cabang olahraga prioritas perlu secara transparan disampaikan ke publik. Hal itu bertujuan memicu produktivitas prestasi cabang olahraga yang saat ini belum termasuk prioritas.

Ketiga, peningkatan ekonomi berbasis olahraga selalu dihubungkan dengan potensi besar sport industry dan sport tourism yang belum tergarap secara optimal. Ekonomi berbasis olahraga tumbuh di berbagai event olahraga berjenjang dalam bentuk kejuaraan dan festival. Ekonomi olahraga dipersyarati pertumbuhan angka partisipasi masyarakat dalam berolahraga. Partisipasi yang tinggi akan mendongkrak volume kebutuhan barang dan jasa.

Dari laporan Sport Development Index (SDI) 2021 dapat disampaikan bahwa angka estimasi belanja barang dan jasa olahraga masyarakat Indonesia dalam satu tahun sebesar Rp43,8 triliun. Sebuah angka fantastis sebagai akibat langsung animo kolektif masyarakat dalam berolahraga. Nilai ekonomi semakin dahsyat manakala diuraikan secara lebih luas lagi pada ranah lain sport industry dan sport tourism.

 

 

Akselerasi sepak bola nasional

Berdasarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional, sepak bola kini menjadi urusan setidaknya 12 kementerian, Kapolri, 34 gubernur, dan sekitar 500 bupati/wali kota seluruh Indonesia. Sebuah 'formula tidak main-main' bahkan amat sangat dahsyat berenergi untuk mengakselerasi sepak bola di masa depan. Maju bersama mengakselerasi persepakbolaan nasional oleh Agus Kristiyanto (2021) dalam artikelnya yang berjudul Universitas dan Sepak Bola meliputi empat persoalan inti; pertama, pengembangan bakat calon pesepak bola. Keberbakatan dalam sepak bola dipahami secara utuh baik dalam pendeteksiannya maupun dalam tahap pemanduannya. Jumlah anak berbakat dapat diasumsikan hanya 6%-8% dari jumlah populasi anak yang ada.

Beruntung jika mereka yang berbakat telah berada di lingkungan dan keluarga yang welcome anak-anak mereka kelak boleh menjadi pesepak bola. Artinya aspek keberbakatan bukan hanya urusan pengembangan instrumen, melainkan juga pembangunan mindset, iklim penghargaan, dan penguatan akses untuk mendapatkan kesempatan meraih masa depan gemilang. Bakat wajib disertai pertumbuhan ekspektasi dan aneka daya dukung.

Kedua, peningkatan jumlah dan kompetensi wasit dan pelatih sepak bola. Informasi yang sering disampaikan Ketum PSSI, misalnya, jumlah sekolah sepak bola (SSB) ada 5.000-an, jumlah klub sepakbola tidak kurang dari 950-an. Namun, jumlah pelatih existing baru sekitar 7.000 orang. Padahal secara ideal, kebutuhan SDM bukan hanya pelatih dan wasit, melainkan juga SDM lain yang relevan.

Ketiga, pengembangan sistem kompetisi persepakbolaan yang bersifat berjenjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan sebuah proses pengasahan yang mempertajam performa prestasi pesepak bola. Secara individual dan kolektif memberikan aneka respons pengalaman yang memperkuat kematangan bertanding dan kematangan juara. Kontinuitas dan mutu kompetisi menjadi tantangan tersendiri. Ke depan kompetisi berangsur diarahkan menuju pola-pola industri event sepak bola yang out of the box.

Keempat, penyediaan prasarana dan sarana stadion sepak bola di seluruh Indonesia sesuai dengan standar internasional, dan training center sepak bola. Keberadaan stadion sepak bola menjadi sebuah magnet tersendiri bagi geliat persepakbolaan dalam jangka panjang. Stadion merupakan sebuah 'istana sakral' bagi panggung kompetisi kesebelasan. Training center menjadi satu kesatuan kebutuhan dari keberadaan sebuah stadion sepak bola. Menjadi baik tempat khusus untuk berlatih hal-hal spesifik dari para pesepak bola maupun sebagai tempat mengevaluasi performa yang tak mungkin bisa dideteksi di tengah lapangan.

Tidak berlebihan bila episentrum kebijakan olahraga pada 2022 ialah memang berupa aneka program dan kegiatan yang memiliki fungsi pemantik capaian DBON dan PPPN. Program kegiatan untuk mencapai tujuan dikembangkan sebagai katalisator lahirnya formula anggaran spesifik olahraga agar tidak kehilangan momentum terbaiknya. Memberjalankan proses perwujudan tujuan DBON dan PPPN tidak bisa menunggu. Ibaratnya peluit wasit sudah ditiup atau suara letusan pistol start sudah menggema di angkasa dan harus mulai berlari, berkecepatan, dan mewujudkan akselerasi.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Pelibatan Siswa untuk Bina Damai

👤Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma 🕔Senin 04 Juli 2022, 05:05 WIB
Usaha mewujudkan perdamaian positif yang tidak hanya mensyaratkan ketiadaan kekerasan langsung, tetapi juga eliminasi kekerasan struktural...
Dok pribadi

Usaha Rintisan, Belajar Dari Sebuah Karya Seni

👤Kurnianing Isololipu, Staf pengajar Prodi Ilmu Administrasi Bisnis Unika Atma Jaya, Jakarta, Kepala Atma Jaya Inkubator Bisnis 🕔Minggu 03 Juli 2022, 22:10 WIB
SUDAH hampir sebulan terakhir berita tentang start up (perusahaan rintisan) yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK)...
Dok pribadi

Menakar Arah Kebijakan E-commerce Indonesia

👤Rachmad Erland, Analis Perdagangan Ahli Madya Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag 🕔Minggu 03 Juli 2022, 20:30 WIB
PERDAGANGAN melalui sistem elektronik atau biasa disebut niaga elektronik/e-commerce menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar ekonomi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya