Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari mendorong adanya penyegaran dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) diminta menerapkan sistem promosi-degradasi dalam penetapan cabang olahraga prioritas DBON.
Hal itu disampaikan Okto saat Kongres KOI di Jakarta, Jumat (30/6). Menurutnya, ada sejumlah cabang nomor olimpiade yang tidak masuk dalam DBON memiliki potensi berprestasi di ajang internasional.
Okto mencontohkan cabang gulat yang meraih prestasi saat SEA Games 2023 Kamboja dengan memenangi enam medali emas, enam medali perak, dan dua medali perunggu. Selain itu, 14 atlet yang dikirim seluruhnya meraih medali.
Baca juga : Lifter Merah Putih Matangkan Strategi Jelang Olimpiade 2024
"Promosi dan degradasi perlu dilakukan. Jika melihat cabor (unggulan DBON) tidak berprestasi gantikan sama cabang yang memiliki potensi besar," kata Okto.
DBON disahkan dalam Peraturan Presiden pada 9 September 2021 atau bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional ke-38. Dalam peta jalan olahraga nasional itu, Kemenpora menetapkan 14 cabang prioritas yang mengandalkan teknik dan akurasi yaitu bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, panahan, menembak, wushu, karate, taekwondo, balap sepeda, atletik, renang, senam artistik, dayung dan pencak silat. Selain itu ada tiga cabang lain termasuk dalam pengembangan industri olahraga, yakni sepak bola, bola basket, dan bola voli.
DBON merupakan program pembangunan olahraga jangka panjang 2021-2045 yang mencakup olahraga pendidikan, olahraga masyarakat, dan olahraga prestasi. Salah satu target dari DBON yakni Indonesia mampu meraih prestasi terbaik di Olimpiade.
Baca juga : Ketua KOI Sebut Hasil Asian Games Jadi Bahan Evaluasi untuk Olimpiade Paris 2024
Okto menyatakan sebanyak 36 federasi yang turun di SEA Games 2023 Kamboja, hanya 36% di antaranya yang merupakan cabang yang masuk dalam DBON.
Sementara, 40% dari cabang non-DBON mencetak sejarah, 34% cabang non-DBON menorehkan rekor baru, dan 25% cabang non-DBON keluar sebagai juara umum di pesta olahraga terbesar di kawasan Asia Tenggara tersebut.
Okto mengatakan, cabang non-DBON tidak boleh luput dari perhatian. Semua cabang harus mendapatkan perlakuan yang adil sesuai proporsinya. Sebab, semua cabang memiliki beban moral prestasi dan tantangan masing-masing.
Baca juga : Komite Olimpiade Indonesia Serukan Kampanye #StandforIndonesianSport
"Campur tangan pemerintah diperlukan. Banyak cabang olahraga yang mengadakan turnamen internasional membutuhkan dukungan," jelas Okto.
Okto memahami Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan untuk olahraga masih sangat kecil, kurang dari 0,1%. Tentu angka yang ada saat ini masih jauh dari ideal untuk pembinaan alokasi olahraga.
"Sementara negara-negara lain, contoh sederhana seperti Singapura sudah berani mengalokasikan 4% anggarannya untuk olahraga," jelas Okto.
Baca juga : PP PTMSI Kukuh 6 Atletnya yang Ikut SEA Games Kamboja
Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo menyambut baik usulan KOI soal penyegaran DBON. Dito setuju dengan usulan bahwa perlu segera ada penyegaran DBON terkait promosi dan degradasi.
"DBON sangat membantu dalam peningkatan prestasi. Tapi kita memang harus fleksibel melihat dinamikanya. Kami bersama dengan KOI, KONI, kita formulasikan bagaimana DBON yang sudah sangat baik ini bisa lebih baik lagi. Kami akan duduk bersama untuk review agar kita modifikasi," kata Dito.
"Cabor non-DBON kalau memiliki kapasitas, target skala internasional, pemerintah akan memiliki perhatian khusus," lanjutnya.
Pada bagian lain, Okto meminta momentum kongres harus dimanfaatkan seluruh federasi olahraga Indonesia untuk bersama-sama meningkatkan prestasi di kancah tertinggi termasuk Olimpiade. (Z-5)
Anggota Komite Eksekutif KOI dituding menekan salah satu atlet kickboxing Indonesia.
Saat ini, pengurus sepak takraw sudah ditetapkan, yaitu Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PB PSTI) periode 2025-2029 yang dipimpin Ketua Umum Surianto.
KOMITE Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) mengakui telah menyepakati secara bersamaan soal target SEA Games 2025.
KOI menyampaikan secara terbuka dan diplomatis penjelasan mengenai situasi yang terjadi di Indonesia.
KOI memahami bahwa keputusan terkait penolakan visa terhadap atlet Israel membawa konsekuensi tersendiri dalam hubungan dengan IOC.
KOI menegaskan adanya konsekuensi tegas bagi atlet bulu tangkis yang terbukti terlibat dalam praktik pengaturan skor.
Tata kelola organisasi yang profesional dan pemenuhan standar global menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar jika ingin melangkah lebih jauh di level internasional.
Indonesia juga mendorong agar SEA Games lebih memprioritaskan Olympic Number.
“Di atas lapangan itu bercucuran keringat dan air mata. Tadi mereka sampai jatuh-jatuhan. Ini hasil terbaik mereka,”
KOI menyampaikan secara terbuka dan diplomatis penjelasan mengenai situasi yang terjadi di Indonesia.
KOI memahami bahwa keputusan terkait penolakan visa terhadap atlet Israel membawa konsekuensi tersendiri dalam hubungan dengan IOC.
Keikutsertaan Indonesia di AYG dan ISG bukan semata untuk berkompetisi, melainkan juga sebagai upaya diplomasi olahraga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved