Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Evaluasi Indonesia Masters 2026: PBSI Bidik Target Besar 2028 dan Proyeksi Ranking Dunia

Khoerun Nadif Rahmat
25/1/2026 20:38
Evaluasi Indonesia Masters 2026: PBSI Bidik Target Besar 2028 dan Proyeksi Ranking Dunia
Bendera PBSI.(Antara)

PERSATUAN Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) langsung mematok target ambisius sebagai bagian dari evaluasi total ajang Indonesia Masters 2026. Di tengah gelombang regenerasi yang mulai membuahkan hasil, federasi kini fokus pada pematangan pemain muda menuju sasaran antara di 2026 dan puncaknya pada Olimpiade Los Angeles 2028.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, Eng Hian, mengungkapkan bahwa capaian satu gelar juara dan satu runner-up di Istora Senayan menjadi indikator positif proses transisi. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih didominasi pemain senior, wajah semifinalis hingga finalis tahun ini sepenuhnya milik barisan pemain muda.

"Tahun ini, kita melihat dari semifinalisnya, dari para pemain yang masuk semifinalis, itu jumlahnya adalah dari pemain-pemain regenerasi muda. Di mana di tahun lalu mungkin belum diperhitungkan sama sekali, tahun ini kita melihat progresnya sudah terlihat lebih baik," ujar Eng Hian.

PBSI telah menyusun cetak biru menuju Olimpiade 2028. Eng Hian menegaskan, pada akhir 2026 nanti, Indonesia harus memiliki fondasi kuat dalam peringkat dunia. Targetnya, sektor tunggal putra menempatkan setidaknya tiga wakil di jajaran 15 besar dunia, sementara ganda putra dibidik memiliki dua pasangan di posisi 10 besar.

Untuk tunggal putri, tantangan lebih berat disasar dengan mendorong para pemain muda masuk ke jajaran 30 besar tahun ini, sebelum menembus 16 besar pada masa kualifikasi Olimpiade.

"Road to Olympic sudah kita buat progresnya. Di 2026 ini, kita target utamanya adalah untuk top elite-nya yang sudah prioritas kita," tambahnya.

Evaluasi tajam juga menyasar sektor ganda. Sementara duet muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin mampu menembus final meski akhirnya kalah 19-21 dan 13-21 dari wakil Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, sorotan justru tertuju pada pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana yang dinilai stagnan. PBSI mengisyaratkan adanya kemungkinan perombakan pasangan jika performa tidak membaik berdasarkan target yang ditetapkan.

"Kalau memang sudah maksimal kita mencoba segala cara, tapi performa atlet ini tidak meningkat dan kita masih melihat potensi untuk bisa dikembangkan dengan pemain lain, tentunya itu akan menjadi solusi," tegas Eng Hian.

Di sektor ganda campuran, PBSI juga menuntut Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel dkk untuk segera naik kelas dari level Super 300 ke Super 500 guna menciptakan persaingan sehat menuju kualifikasi Olimpiade.

Keberhasilan Alwi Farhan yang menjadi kampiun usai menekuk wakil Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, dengan skor telak 21-5 dan 21-6, disambut hangat. Namun, PBSI menyadari tantangan nonteknis berupa ekspektasi publik dan tekanan media sosial bagi atlet muda.

Eng Hian secara khusus meminta dukungan dwri berbagai pihak untuk menjaga iklim yang kondusif. Menurutnya, proteksi terhadap mentalitas pemain muda sangat krusial agar mereka tidak terbebani oleh riuh rendah netizen. "Ini sangat membantu atlet untuk mengurangi tekanan negatif," pungkasnya. (Ndf/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya