Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Petik Pelajaran Berharga di Indonesia Masters 2026

Khoerun Nadif Rahmat
25/1/2026 20:33
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Petik Pelajaran Berharga di Indonesia Masters 2026
Indonesia Masters 2026(dok.PBSI)

LANGKAH pasangan muda ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, untuk mencetak sejarah di rumah sendiri harus terhenti di partai final BWF World Tour Super 500 Indonesia Masters 2026.

Tampil di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (25/1), Raymond/Joaquin tak kuasa menahan laju wakil Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, dan harus puas menjadi runner-up usai kalah dua gim langsung 19-21 dan 13-21.

Meski gagal meraih gelar, capaian menembus final turnamen Super 500 di kandang sendiri tetap menuai apresiasi besar. Hasil itu menjadi final Super 500 pertama bagi pasangan muda tersebut.

Joaquin mengakui permainan mereka di partai puncak tidak keluar sepenuhnya jika dibandingkan laga-laga sebelumnya. "Permainan kita bisa dibilang kurang all out dibanding babak sebelumnya," ujarnya singkat.

Salah satu faktor yang diakui memengaruhi performa adalah adaptasi lapangan. Sejak babak awal hingga semifinal, Raymond/Joaquin selalu bermain di lapangan dua, sementara final digelar di lapangan satu.

"Kesulitannya ada di lapangan. Kita belum pernah main di lapangan satu. Jadi masih butuh adaptasi anginnya," kata Joaquin.

Pada gim pertama, duel berjalan ketat hingga poin-poin akhir. Namun, kesalahan sendiri di momen krusial membuat momentum berbalik. "Di poin akhir saya melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan," ujar Joaquin.

Raymond pun merasakan tantangan serupa. Selain adaptasi teknis, atmosfer final di Istora memberikan tekanan tersendiri. "Perbedaan pasti ada karena beda court. Adaptasi angin yang paling krusial," ucap Raymond.

Terkait gaya bermain mereka yang ekspresif, Joaquin menjelaskan hal itu merupakan arahan pelatih Chafid Yusuf untuk meningkatkan kepercayaan diri. "Kalau mau tengil, tengil saja, tapi tidak boleh berlebihan," kata Joaquin.

Raymond menambahkan, dirinya sejatinya lebih tenang di lapangan, namun atmosfer Istora kerap membuatnya terbawa emosi. "Kalau saya sebenarnya lebih fokus menenangkan diri, tapi itu refleks saja," ujarnya.

Di luar lapangan, chemistry keduanya terbangun sejak lama. Joaquin menyebut mereka pernah sekamar selama setahun, yang membuat komunikasi di lapangan semakin solid. "Dari hal kecil itu komunikasi di lapangan jadi lebih enak," katanya.

Kegagalan di final itu menjadi pelajaran penting bagi Raymond/Joaquin untuk menghadapi level pertandingan yang lebih tinggi ke depan, sekaligus modal berharga dalam proses pematangan sebagai pasangan elite ganda putra Indonesia. (Ndf/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya