Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Babak Baru Perseteruan SEAblings vs Knetz, Boikot hingga Larangan Nonton Drakor

 Gana Buana
17/2/2026 18:25
Babak Baru Perseteruan SEAblings vs Knetz, Boikot hingga Larangan Nonton Drakor
Babak Baru Perseteruan SEAblings vs Knetz.(Twitter (X))

DI awal 2026, linimasa media sosial tidak lagi hanya dipenuhi dengan ulasan drama Korea (drakor) terbaru, melainkan dengan tagar perlawanan. Fenomena SEAblings vs Knetz menjadi salah satu perang digital terbesar dalam sejarah internet Asia Tenggara.

Konflik ini melampaui sekadar perdebatan antar penggemar, melainkan menyentuh isu sensitif mengenai rasisme, harga diri nasional, dan kekuatan ekonomi regional.

Kronologi Awal: Insiden Kamera di Konser DAY6

Perseteruan ini bermula dari kejadian di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026 lalu. Dalam konser grup band asal Korea Selatan, DAY6, sejumlah fansite master asal Korea kedapatan membawa kamera DSLR profesional dengan lensa panjang, yang secara eksplisit dilarang oleh pihak penyelenggara karena mengganggu kenyamanan penonton lain.

Protes yang dilayangkan penonton lokal Malaysia di platform X (Twitter) justru ditanggapi dengan serangan defensif oleh oknum netizen Korea (Knetz). Komentar yang awalnya membela etika fansite berubah menjadi hinaan rasial yang merendahkan masyarakat Asia Tenggara, menyebut mereka sebagai "negara miskin" dan menggunakan istilah-istilah dehumanisasi.

Lahirnya Solidaritas SEAblings

Istilah SEAblings (Southeast Asia Siblings) muncul sebagai simbol persatuan netizen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Merasa dihina secara kolektif, mereka melakukan serangan balik yang terorganisir. Tidak hanya melalui roasting atau meme satire, tetapi juga melalui tekanan ekonomi.

Mengapa Muncul Larangan Menonton Drakor?

Salah satu strategi yang digunakan SEAblings adalah menyuarakan boikot terhadap konten hiburan Korea Selatan. Berikut adalah alasan utama di balik gerakan tersebut:

  • Kekuatan Pasar: Asia Tenggara adalah salah satu konsumen terbesar K-pop dan drakor di dunia. Netizen ingin menunjukkan bahwa tanpa dukungan kawasan ini, industri hiburan Korea akan mengalami kerugian besar.
  • Menuntut Rasa Hormat: Gerakan ini bertujuan untuk memberi pelajaran kepada oknum netizen dan industri Korea agar lebih menghargai penggemar internasional tanpa memandang status ekonomi negara asal.
  • Protes Terhadap Rasisme: Berhenti menonton drakor dianggap sebagai bentuk protes nyata terhadap normalisasi perilaku rasis yang sering dilakukan oknum Knetz di ruang digital.

Dampak Konflik bagi Penggemar

Apakah gerakan boikot drakor ini efektif?

Secara statistik, terjadi penurunan engagement pada beberapa platform streaming di kawasan ASEAN selama puncak konflik. Hal ini memaksa beberapa agensi besar di Korea Selatan untuk merilis pernyataan maaf guna meredam kemarahan penggemar.

Bagaimana nasib drakor di Indonesia ke depannya?

Meskipun drakor tetap memiliki basis penggemar setia, konflik ini memicu gelombang baru "nasionalisme konten", di mana penonton mulai lebih melirik serial lokal atau drama dari negara Asia lainnya (seperti Thailand atau Tiongkok) sebagai alternatif hiburan.

Catatan Redaksi: Perseteruan digital ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak tentang pentingnya etika lintas budaya di era globalisasi. Rasisme dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan, baik di dunia nyata maupun di ruang siber.

Kesimpulan

Konflik SEAblings vs Knetz adalah titik balik dalam dinamika hubungan antara industri hiburan Korea Selatan dengan penggemarnya di Asia Tenggara. Seruan untuk tidak menonton drakor bukan sekadar kemarahan sesaat, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa rasa hormat adalah harga mati dalam interaksi global. Bagi para penggemar, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk bersikap kritis dan tetap menjunjung tinggi solidaritas regional.

FAQ (Frequently Asked Questions)

  1. Apa arti SEAblings? Gabungan dari kata SEA (Southeast Asia) dan Siblings (saudara), merujuk pada solidaritas netizen Asia Tenggara.
  2. Siapa yang memulai rasisme? Konflik dipicu oleh komentar ofensif oknum Knetz di media sosial menanggapi protes aturan konser di Malaysia.
  3. Apakah pemerintah ikut campur? Beberapa lembaga komunikasi di negara ASEAN mulai memantau rasisme digital ini untuk mencegah konflik yang lebih luas di dunia nyata. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik