Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA maya kembali dihebohkan dengan cara unik netizen Asia Tenggara, yang akrab disapa SEAblings, dalam menghadapi komentar miring atau rasisme dari netizen Korea Selatan (KNetz). Alih-alih menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Korea yang baku, mereka justru "mempersenjatai" diri dengan Aksara Jawa, Aksara Thai, hingga bahasa daerah yang sangat lokal.
Taktik ini terbukti ampuh membuat lawan bicara kehilangan kata-kata karena keterbatasan teknologi penerjemah.
SEAblings adalah istilah kolektif untuk netizen dari negara-negara Asia Tenggara (South East Asians), seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Malaysia. Solidaritas ini biasanya muncul saat salah satu negara di kawasan ini mendapat perlakuan diskriminatif atau komentar rasis dari netizen negara lain, terutama KNetz.
Perselisihan ini sering kali dipicu oleh isu-isu sensitif dalam industri K-Pop, mulai dari standar kecantikan, perlakuan terhadap idol asal Asia Tenggara, hingga masalah perampasan budaya. Di sinilah SEAblings menunjukkan kekuatan kolektif mereka sebagai salah satu basis massa digital terbesar di dunia.
Salah satu senjata paling mematikan yang digunakan netizen Indonesia dalam aliansi SEAblings adalah Aksara Jawa (Hanacaraka). Penggunaan aksara tradisional ini bukan tanpa alasan.
Secara teknis, algoritma penerjemah populer seperti Google Translate atau Papago, yang sangat diandalkan netizen Korea, masih kesulitan memproses Aksara Jawa secara akurat, apalagi jika dicampur dengan dialek slang atau bahasa prokem.
Saat KNetz mencoba menerjemahkan "serangan" balik dari netizen Indonesia, mesin penerjemah seringkali hanya menampilkan hasil kosong atau terjemahan yang tidak masuk akal.
Hal ini menciptakan rasa frustrasi di pihak lawan sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi netizen lokal. Selain itu, penggunaan aksara ini juga menjadi cara efektif untuk menyampaikan pesan rahasia di kolom komentar tanpa bisa dipahami oleh pihak luar.
Selain aksara, penggunaan bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa (ngoko), Tagalog (Filipina), hingga bahasa Thai yang menggunakan slang khusus, menjadi amunisi tambahan. Kekuatan bahasa daerah terletak pada konteks budayanya. Sebuah kata dalam bahasa daerah bisa memiliki makna yang sangat dalam atau sarkastik yang tidak akan bisa dipahami oleh orang luar meskipun mereka menggunakan kamus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas lokal kini menjadi instrumen kekuatan di ruang digital global. Netizen tidak lagi merasa inferior dengan bahasa ibu mereka, melainkan menjadikannya identitas yang membanggakan sekaligus alat pertahanan.
Banyak yang bertanya mengapa taktik sederhana ini begitu efektif. Jawabannya terletak pada ketergantungan masyarakat digital pada alat bantu terjemahan. Ketika alat tersebut gagal, komunikasi dua arah terputus, dan dominasi narasi berpindah ke tangan mereka yang menguasai bahasa-bahasa "unik" tersebut.
KNetz, yang biasanya sangat vokal di forum-forum lokal seperti Pann atau TheQoo, mendadak kehilangan taring saat harus berhadapan dengan ribuan komentar dalam aksara kuno yang tidak terbaca oleh sistem mereka.
Fenomena SEAblings vs KNetz ini bukan sekadar keributan antar fans. Secara sosiologis, ini adalah bentuk perlawanan terhadap hegemoni budaya tertentu. Netizen Asia Tenggara mulai menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan besar jika bersatu.
Penggunaan unsur budaya lokal dalam konflik digital ini secara tidak langsung juga memicu generasi muda untuk kembali mempelajari aksara dan bahasa daerah mereka agar bisa ikut serta dalam "diplomasi digital" ini.
Kesimpulannya, penggunaan Aksara Jawa dan bahasa daerah oleh SEAblings adalah bukti bahwa kearifan lokal bisa menjadi senjata modern yang sangat relevan. Di tengah arus globalisasi, menjaga akar budaya ternyata tidak hanya penting untuk pelestarian, tetapi juga sebagai perisai di dunia maya yang semakin tanpa batas. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved