Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
JANNIK Sinner tampil meyakinkan di perempat final Wimbledon 2025, meski mengundang kekhawatiran sejak sebelum pertandingan dimulai. Penonton di Lapangan No.1 langsung memperhatikan ketika petenis Italia itu membuka jaketnya dan memperlihatkan pelindung tebal di lengan servisnya—pertanda cedera siku saat melawan Grigor Dimitrov.
Tapi cedera tidak menghalangi Sinner untuk melibas Ben Shelton, unggulan kidal asal Amerika Serikat, dengan skor meyakinkan 7-6(2), 6-4, 6-4. Sinner memastikan tempatnya di semifinal Wimbledon untuk kali kedua dalam kariernya.
Set pertama memperlihatkan performa dominan Sinner—ia memenangkan 27 dari 29 poin servis, menghasilkan 15 winner, dan hanya satu unforced error. Semua ini tercapai meski lawannya, Shelton, memiliki servis mematikan yang melesat hingga 140 mph dan belum pernah kalah di tie-break sepanjang turnamen.
Namun, drama terjadi di awal set kedua. Saat kedudukan 3-2, Sinner tampak meringis dan memegangi sikunya usai gagal mengembalikan bola. Ia berhenti sejenak di baseline, memutar lengannya, dan memaksa penonton menahan napas. Meski begitu, tak ada perubahan berarti dalam kualitas permainannya.
“Rasanya jauh lebih baik dari kemarin, saat saya hanya sempat latihan 20 menit,” ungkap Sinner setelah pertandingan. Ketika ditanya apakah ia bermain dalam kondisi sakit, ia hanya menjawab diplomatis, “Saat berada di tengah pertandingan yang menegangkan, saya coba untuk tidak memikirkannya.”
Shelton, yang menjalani musim lapangan rumput impresif dan menembus peringkat 10 besar dunia, sempat membuat tekanan di awal set kedua dengan dua break point. Namun, semua upaya itu dimentahkan Sinner. Bahkan ketika Shelton memanggil fisioterapis untuk menangani pergelangan kaki kirinya di penghujung set, Sinner justru mengambil alih momentum dan mengunci keunggulan dua set langsung.
Di set ketiga, pertandingan tetap berlangsung ketat. Shelton menyelamatkan dua match point, tetapi akhirnya kehilangan fokus dan melakukan double fault keenamnya saat menghadapi match point ketiga. Tak butuh waktu lama, Sinner melaju ke net, menjabat tangan lawan, dan mengepalkan tangan ke udara dengan tangan kanan—sikunya tampaknya tak terasa sakit lagi saat itu.
Berbeda dengan kemenangannya atas Dimitrov—yang harus mundur karena cedera—kemenangan kali ini jelas dan tanpa keraguan. “Kali ini rasanya sangat berbeda. Saya sangat senang. Wimbledon adalah turnamen paling spesial dan bisa kembali ke semifinal sangat berarti bagi saya,” ujar Sinner.
Dengan performa solid dan mental baja meski dalam kondisi fisik yang belum 100%, Sinner kini tinggal dua langkah lagi untuk meraih gelar Grand Slam perdananya di rumput London. (Wimbledon/Z-2)
Carlos Alcaraz datang ke Australia setelah mengoleksi enam gelar Grand Slam. Namun, Australia Terbuka masih menjadi satu-satunya turnamen mayor yang belum pernah ia menangi.
Flavio Cobolli menjadi penentu gelar setelah bangkit dari ketertinggalan untuk menundukkan Jaume Munar.
Meski tampil tanpa dua petenis utama, Jannik Sinner dan Lorenzo Musetti, tuan rumah tetap menunjukkan dominasi.
JANNIK Sinner menutup musim 2025 yang penuh gejolak dengan cara paling manis. Di hadapan publik Turin, Senin (17/11) WIB, petenis Italia itu mempertahankan gelar ATP Finals.
Jannik Sinner kembali menjuarai turnamen akhir musim tanpa kehilangan satu set pun dan memperkecil jarak rivalitasnya dengan Carlos Alcaraz.
Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner melaju ke final ATP Finals 2025 usai menang meyakinkan di semifinal Turin.
Boris Becker baru berusia 17 tahun, tujuh bulan, dan 15 hari ketika ia mengalahkan Kevin Curren pada 1985, menjadikannya juara tunggal putra Wimbledon termuda sepanjang masa.
Swiatek mengalahkan Guo Hanyu, petenis dari babak kualifikasi, dengan skor meyakinkan 6-3, 6-1.
Sinner memilih untuk fokus ke pemulihan cedera yang didapatnya di Wimbledon 2025.
Juara Wimbledon 2025 Jannik Sinner memberikan hadiah berupa bola tenis bertanda tangan kepada Pangeran George dan Putri Charlotte.
Carlos Alcaraz mengaku kekalahannya atas Jannik Sinner di Wimbledon memotivasinya untuk terus berkembang.
Jannik Sinner berhasil mengukir sejarah di Wimbledon setelah menundukan rivalnya Carlos Alcaraz 4-6, 6-4, 6-4, 6-4.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved