Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
HASIL di MotoGP Argentina pekan lalu, menjadi modal besar Francesco Bagnaia menghadapi MotoGP Amerika Serikat yang akan berlangsung di Sirkuit COTA, akhir pekan ini. Pembalap tim Ducati itu finis di posisi lima MotoGP Argentina setelah gagal meraih poin di Qtar dan Mandalika.
"Dengan apa yang didapat di Argentina saya akan lebih kompetitif di Amerika. Tahun lalu saya sudah kompetitif di sana, dan saya pikir tahun ini bisa sedikit lebih baik," kata Bagnaia.
"Satu hal yang menurut saya bisa sangat penting adalah tidak memiliki tekanan, menjadi pintar, tenang, dan memulai kembali dari apa yang telah kami lakukan di Argentina. P5 pastinya bukan tujuan utama, tapi sangat membantu untuk kedepannya, untuk mulai berpikir ulang untuk berada di atas," jelasnya.
Penampilan Bagnaia dalam tiga seri awal tahun ini memang jauh harapan. Pembalap yang tahun lalu menjadi menjadi runner up ini, digadang-gadang akan mendominasi balapan tahun ini. Pengembangan yang berlebihan sepeda motor GP22 tunggangannya, membuat Bagnaia tidak siap untuk awal musim 2022. (Crashnet/OL-15)
Masalah utama Francesco Bagnaia sepanjang musim MotoGP 2025 lalu berakar pada ketidakcocokan antara gaya balapnya dengan karakteristik Desmosedici GP25.
Kecepatan Francesco Bagnaia sebenarnya masih terlihat di beberapa sesi latihan dan balapan, meski performanya inkonsisten sepanjang musim 2025.
Berbeda dengan Formula 1 yang memiliki serikat resmi pebalap, MotoGP hingga kini belum memiliki wadah tersebut.
Pembalap Ducati Lenovo Francesco Bagnaia menyelesaikan sesi tes ini dengan berada di posisi 10 dalam waktu 1 menit 29,731.
Bagnaia musim ini memang lebih banyak berkutat menghadapi problem keseimbangan dari motor Desmosedici GP25.
Manajer tim Ducati Davide Tardozzi menegaskan tim sudah berusaha semaksimal mungkin memperbaiki koneksi Francesco Bagnaia terhadap motornya.
Inspirasi desainnya diambil dari model-model legendaris seperti Ducati 60 (1949) hingga Gran Sport Marianna (1955), motor balap pertama karya insinyur legendaris Fabio Taglioni.
Kecepatan Francesco Bagnaia sebenarnya masih terlihat di beberapa sesi latihan dan balapan, meski performanya inkonsisten sepanjang musim 2025.
Aprillia menebar ancaman di sisa seri akhir musim ini. Pembalap mereka, Marco Bezzecchi, berada di performa tertinggi untuk bersaing memperebutkan gelar juara di setiap balapan.
Bagnaia musim ini memang lebih banyak berkutat menghadapi problem keseimbangan dari motor Desmosedici GP25.
Manajer tim Ducati Davide Tardozzi menegaskan tim sudah berusaha semaksimal mungkin memperbaiki koneksi Francesco Bagnaia terhadap motornya.
Bagnaia, gagal menunjukkan performa konsisten seperti dua musim sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved