Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Laut Maluku Zona Aktif, Ahli Ingatkan Potensi Tsunami Lokal usai Gempa M7,3

Atalya Puspa    
02/4/2026 08:53
Laut Maluku Zona Aktif, Ahli Ingatkan Potensi Tsunami Lokal usai Gempa M7,3
Ilustrasi.(Freepik)

GEMPA bumi berkekuatan magnitudo 7,3 yang mengguncang Laut Maluku pada Kamis (2/4) pagi kembali menegaskan tingginya aktivitas tektonik di kawasan tersebut. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu zona paling kompleks dan aktif di dunia karena karakteristik geologinya yang unik.

Anggota Pusat Studi Gempa Nasional, Daryono, menjelaskan bahwa Laut Maluku bukan sekadar perairan biasa. Kawasan ini berada dalam sistem subduksi ganda yang menciptakan tekanan tektonik luar biasa besar.

Keunikan Sistem Subduksi Ganda

Menurut Daryono, kondisi tektonik di Laut Maluku dipicu oleh lempeng yang terjepit dari dua arah. Hal ini menyebabkan akumulasi energi yang besar dan kerap dilepaskan dalam bentuk gempa bumi dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

"Zona Laut Maluku dikenal unik karena berada dalam sistem subduksi ganda. Kondisi ini menciptakan tekanan luar biasa yang kerap dilepaskan dalam bentuk gempa bermekanisme sesar naik. Mekanisme inilah yang menjadi pemicu utama tsunami karena mampu mengangkat dasar laut secara tiba-tiba," ujar Daryono, Kamis (2/4).

Rekam Jejak Sejarah Tsunami di Laut Maluku

Sejarah mencatat bahwa kawasan Laut Maluku telah berulang kali dihantam tsunami, mayoritas dalam skala lokal hingga menengah. Berikut adalah catatan peristiwa tsunami yang pernah terjadi di kawasan tersebut:

  • Tahun 1845: Di Kema, Minahasa Utara, gelombang laut menggenangi daratan dua kali dan surut jauh sebanyak tiga kali.
  • Tahun 1857 & 1859: Tsunami dilaporkan mampu mengangkat material hingga ke atap bangunan di pesisir.
  • Tahun 1871-1927: Kejadian tsunami tercatat di Kepulauan Sangihe-Talaud (1871), Laut Maluku (1899), dan Halmahera Utara (1927).
  • Era Modern: Tsunami kecil tercatat mengikuti gempa signifikan pada tahun 1965, 1996, 2014, dan 2019.

Bahaya Tsunami Lokal yang Datang Cepat

Daryono menekankan bahwa meskipun tsunami di Laut Maluku umumnya berskala kecil hingga menengah, sifatnya yang lokal justru sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan jarak antara sumber gempa dengan pemukiman penduduk di pesisir sangat dekat.

"Banyak wilayah pesisir dan pulau kecil berada sangat dekat dengan sumber gempa, sehingga waktu tiba tsunami bisa hanya dalam hitungan menit tanpa banyak kesempatan untuk peringatan dini," tegasnya.

Selain deformasi vertikal dasar laut akibat gempa M 7,3, potensi pemicu lain seperti longsoran bawah laut juga patut diwaspadai. Karakteristik dasar laut yang curam di wilayah ini dapat memicu pergerakan massa tanah saat diguncang gempa kuat.

"Kawasan Laut Maluku mungkin tidak sepopuler zona megathrust Sumatra dalam hal tsunami besar, tetapi tetap aktif dan berisiko tinggi. Kewaspadaan menjadi kunci utama," pungkas Daryono. Masyarakat di wilayah pesisir diminta tetap siaga terhadap potensi tsunami lokal yang dapat datang dalam waktu singkat setelah guncangan gempa dirasakan. (I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya