Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Gempa Laut Maluku, Fenomena Langka Subduksi Ganda di Indonesia Timur

Lina Herlina
02/4/2026 09:05
Gempa Laut Maluku, Fenomena Langka Subduksi Ganda di Indonesia Timur
Ilustrasi.(Freepik)

GEMPA bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,4 yang mengguncang Laut Maluku pada Kamis (2/4) dini hari tidak hanya mengejutkan warga di sekitar Ternate, tetapi juga menyoroti fenomena geologi langka di wilayah Indonesia Timur. Para ilmuwan mengungkapkan bahwa peristiwa ini merupakan cerminan dari tekanan kompleks akibat tabrakan dua lempeng bumi dari arah berlawanan.

Analisis Tektonik: Sistem Subduksi Ganda

Gempa yang terjadi pada pukul 06.48 WITA (22.48 UTC) ini memiliki kedalaman sekitar 30-35 kilometer dengan pusat 126 km barat laut Ternate. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta United States Geological Survey (USGS), gempa ini memiliki mekanisme oblique-reverse, yakni perpaduan antara sesar naik dan sesar geser.

Yang menarik perhatian para ahli Ialah lokasinya yang berada di zona pertemuan dua sistem subduksi aktif: Lempeng Sangihe dan Lempeng Halmahera. Kedua lempeng samudera ini saling menunjam dari arah berlawanan, menciptakan zona pertemuan tektonik yang sangat rumit.

"Gempa ini tidak berasal dari Sangihe Thrust yang dangkal, melainkan bentuk deformasi internal akibat interaksi dua sistem subduksi yang saling menekan. Ini menunjukkan ada pembagian tegangan (stress partitioning) yang sangat dinamis di wilayah timur Indonesia," ujar Ardy Arsyad, perwakilan Pusat Studi Gempa Sulawesi (CSES).

Ancaman Tsunami Lokal dan Deformasi Intraslab

Berbeda dengan gempa megathrust yang terjadi pada bidang kontak antarlempeng utama, gempa ini terjadi di dalam lempeng (intraslab) dengan bidang sesar yang relatif curam. Meski demikian, kekuatan M 7,4 tetap membangkitkan ancaman nyata berupa tsunami lokal berskala kecil.

Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa potensi tsunami tidak hanya dipicu oleh gempa dangkal di zona subduksi utama, tetapi juga bisa muncul akibat deformasi kompleks di laut dalam.

Risiko Amplifikasi dan Likuefaksi

Dari sisi kebencanaan, Pusat Studi Gempa Sulawesi memperingatkan beberapa risiko ikutan yang harus diwaspadai oleh masyarakat dan pemerintah daerah:

  • Amplifikasi Gelombang Seismik: Peningkatan kekuatan guncangan di daerah dengan karakteristik tanah lunak.
  • Potensi Likuefaksi: Wilayah dengan sedimen jenuh air diimbau waspada terhadap fenomena tanah bergerak yang dapat merusak infrastruktur.
  • Gempa Susulan (Aftershocks): Potensi guncangan lanjutan yang dapat memperparah kerusakan pada bangunan yang sudah retak.
Rekomendasi Mitigasi: Pemerintah daerah didorong untuk segera melakukan evaluasi cepat terhadap infrastruktur kritis dan memperkuat kesiapsiagaan pesisir terhadap tsunami lokal berbasis peta risiko geologi.

Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan memastikan informasi hanya diperoleh dari kanal resmi BMKG. "Fenomena di Laut Maluku ini adalah bukti bahwa kita hidup di wilayah dengan dinamika tektonik paling kompleks di dunia," tutup Ardy. (i-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya