Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Teguran Presiden Prabowo Jadi Pecut Kebangkitan Kolektif Bali Tangani Sampah

Arnoldus Dhae
04/2/2026 23:04
Teguran Presiden Prabowo Jadi Pecut Kebangkitan Kolektif Bali Tangani Sampah
Masyarakat beserta aparat instansi pemerintah bergotong royong membersihkan sampah di Bali.(MI/Arnoldus Dhae)

TEGURAN Presiden Prabowo Subianto tentang sampah di Bali saat ini membangunkan kesadaran kolektif masyarakat Bali untuk menangani sampah. Sampah di Pulau Dewata itu menjadi momok bagi masyarakat, terutama di Bali yang terkenal dengan destinasi pariwisata dunia. 

Saat ini banyak komunitas masyarakat Bali ramai-ramai turun membersihkan sampah di beberapa titik publik, baik destinasi, kompleks pemerintah dan pemukiman penduduk padat yang selama ini menjadi persoalan tersendiri dalam penanganan sampah. 

Bentuk Perhatian Presiden

Anggota DPRD Kabupaten Badung Puspa Negara mengatakan, teguran Presiden Prabowo Subianto adalah tanda bahwa presiden sayang terhadap Bali yang menjadi etalase Indonesia di mata dunia. 

"Presiden sayang dengan Bali. Kenapa tidak bisa tangani sampah dengan baik. Mari kita sadar, jaga kebersihan  dengan aksi nyata berkelanjutan. Jadikan teguran ini sebagai momentum untuk segera berbenah, jengah,  fokus dan konsisten mengelola sampah di Bali," ujarnya, Rabu (4/2). 

Ia mengatakan, persoalan sampah di Bali mendadak mengguncang dunia,  setelah Presiden Prabowo menegur kepala daerah. Situasi itu tentu paradoks dengan dinobatkanya Bali sebagai World Best Destination 2026 versi TripAdvisor beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, ada juga statement  dari Fodors sebuah biro perjalanan USA, bahwa Bali tidak layak dikunjungi tahun 2025 karena masalah sampah, macet, prilaku buruk beberapa wisman, tingginya aksi kriminalitas.  

"Paradoksial yang lainya bahwa tingginya eskalasi netizen di medsos yang menayangkan Bali sepi turis, tapi faktanya jumlah kunjungan Wisman naik 11% dari 6,3 juta tahun 2024 menjadi 7,05 juta tahun 2025.  Hal ini menunjukkan ada yang perlu diperbaiki segera dalam mengelola Bali," ujarnya. 

Sampah Belum Terselesaikan

Bahwa sampah masih merupakan persoalan yang belum terselesaikan sampai saat ini, baik di darat maupun di pantai. Sampah darat masih menumpuk di mana-mana dan belum menunjukkan adanya sistem yang clean & clear. 

Sementara sampah pantai datang setiap tahun di musim angin barat atau west monson dimana sampah beratus-ratus ton menyerbu pesisir terutama di Kuta, Legian, Kedongan, Jimbaran, dan Kelan. Semua pantai yang menghadap ke arah barat. 

Kabupaten Badung yang menjadi ikon destinasi wisata Bali, dengan panjang garis pantai kurang lebih 82 km, yang sebagian menghadap arah barat, mulai dari Pantai Labuan Sait Pecatu, Pantai Jimbaran, Kedonganan, Pantai Kelan, Pantai  Tuban, Pantai Kuta, Legian, Seminyak, Batu Belig,  Petitenget, Berawa, Batu Bolong, Canggu, Cemagi, Munggu, Pereranan hingga Pantai Seseh. 

Semua pantai ini dipastikan tiap tahun menerima sampah kiriman dalam jumlah yang fantastis dengan komposisi campuran kayu gelondongan, ranting dan varian sampah plastik. 

Di era 1980-an, turis masih belum sebanyak sekarang. Sampah pantai atau pesisir sangat berguna bagi masyarakat untuk kayu bakar, dan aktivitas lainnya, seperti untuk bahan bakar pembuatan bata, pamor, dan sejenisnya. 

Demikian halnya sampah ranting yang hanyut dan menepi ke pinggir sungai atau pantai. Sampah ranting itu bisa dimanfaatkan menjadi lemekan atau pupuk untuk tanaman pantai seperti katang-katang, padang gulung, pandan, ketapang, camplung, waru, dan sejenisnya.

Namun kini di era tahun 1990-an masyarakat tidak lagi memanfaatkan sampah pesisir tersebut karena tidak lagi menggunakan kayu bakar. Di samping itu, hal tersebut disebabkan jenis sampah yang semakin pekat dengan campuran plastik dan sejenisnya yang sulit untuk dipilah, akibatnya pantai terlihat kotor karena sampah di musim angin barat menepi dalam jumlah banyak, didominasi sampah plastik. 

Upaya Pemprov Bali

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, berbagai upaya keras telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat, meskipun belum optimal. 

"Karena kita berhadapan dengan alam/sampah kiriman yang jumlahnya luar biasa. Sejauh ini Pemda Badung dan Bali melalui DLHK sudah bekerja keras dengan menyiapkan tenaga kebersihan standby di pantai setiap pagi. Demikian halnya peralatan seperti Loader, Barber rake, traktor, truk sampah hingga  tim khusus yang didukung oleh masyarakat,  para pedagang pantai, pengelola pantai, balawista, para pelaku usaha, dan stakeholders, mereka bahu-membahu membersihkan sampah kiriman ini, tetapi volume yang begitu besar dan datang terus-menerus setiap saat di sejak Desember sampai Februari nanti," ujarnya. 

Ia menjelaskan, seiring tiupan angin barat, pagi dibersihkan siang sudah muncul, siang dibersihkan sore dia menepi dan seterusnya. Di musim angin barat ini sampah pesisir bisa ditanggulangi dengan  teknologi yakni penjaringan sampah mengapung di tengah laut, tambahan infrastruktur seperti alat pemisah sampah dengan pasir, pengangkutan dan TPST tempat pembuangan sampah pesisir yang jumlahnya sangat fantastis, bisa mencapai 200 ton perhari di Pantai Samigita saja. 

Ia mengatakan, seluruh masyarakat Bali dan stakeholder lainnya perlu lebih fokus dan super  prioritas dalam mengelola sampah. 

"Sentilan Bapak Presiden adalah sebagai warning atau peringatan agar kita selalu aware atau peduli, di tengah Bali dan jajaran pemerintah yang sudah dan terus berbenah untuk menguatkan manajemen sampah dari hulu ke hilir," ujarnya.

Bali perlu dukungan nyata dari pemerintah pusat berupa managemen dan  pembangunan infrastruktur, mesin atau peralatan pengolahan sampah modern yang ramah lingkungan dan paripurna. 

Sampah adalah tanggung jawab semua pihak, setiap individu memproduksi sampah dan wajib ikut mengelola sampah dengan bijak, serta turun tangan menjaga kebersihan lingkungan. (OL/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya