Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan. Antara lain karena sedikitnya 129.000 rumah hancur, 89.582 hektare (ha) sawah rusak, dan 112 pasar luluh lantak di Aceh.
Hal demikian sangat berdampak terhadap perekonomian warga hingga bermuara kepada dunia pendidikan generasi dan berujung kebodohan masa depan bangsa. Itu terasa dari banyak santri pesantren, mahasiswa dan pelajar yang mulai sulit kembali ke perantauan tempat menuntut ilmu, karena kesulitan keuangan keluarga.
Mereka yang seharusnya sudah mempersiapkan diri dan administrasi untuk melanjutkan smester genap ke depan, ternyata masih banyak yang belum ada kepastiannya. Bahkan tidak sedikit yang kini harus bertahan bersama orangtua di lokasi pengungsian.
Terutama para santri, mahasiswa atau pelajar dari lokasi rusak parah, terutama di pedalaman terpencil. Jangankan biaya hidup di rantau mencari ilmu dan membayar uang pendidikan, ongkos untuk transpor kembali ke kampus saja tidak mampu.
Merespon persoalan yang sangat komplikasi tersebut, manajemen Universitas Syiah Kuala (USK) melakukan kebijakan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa terdampak banjir Sumatra 2025. Ini merupakan bentuk solidaritas serta komitmen kampus mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa di tengah situasi sulit.
Universitas jantung hati masyarakat Aceh itu, tentu harus membuka pendataan yang dimulai sejak tanggal 28 November 2025. Itu dilakukan melalui verifikasi guna memastikan bantuan tepat sasaran bagi mahasiswa terdampak banjir.
Sesuai data hasil verifikasi, total mahasiswa USK yang terdampak bencana banjir dan longsor mencapai 3.706 orang. Adapun rincian kategorinya adalah: 1.099 mahasiswa terdampak berat, 1.350 sedang, 1.263 ringan, serta 5 mahasiswa yang orangtua meninggal dunia akibat musibah tersebut.
Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof Marwan, melalui Media Indonesia, Jumat (30/1) menyampaikan pihaknya memberikan perhatian khusus bagi mahasiswa yang kehilangan orang tua dalam bencana ini.
"Kepada anak-anak kami yang terdampak bencana dan orang tuanya telah meninggal dunia mendapat perhatian khusus. Insya Allah kami gratiskan UKT-nya hingga lulus sarjana," kata Rektor Marwan.
Keputusan strategis ini nantinya dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Rektor. Ini merupakan bentuk empati institusi untuk memastikan masa depan pendidikan anak bangsa tidak terputus akibat musibah banjir.
Dikatakan Marwan, terkait skema keringanan, yang bukan orangtua mereka meninggal dunia akibat bencana itu, tentu ada penjelasan lebih detail. Masing-masing sesuai kategori yang telah ditentukan.
"Mahasiswa yang terdampak berat, diberikan pembebasan UKT selama satu semester. Sementara bagi yang terdampak kategori ringan dan sedang, cukup membayar 50 persen saja pada semester ini," tutur Rektor lulusan Doktor Birmingham University, Inggris itu.
Disampaikannya, bantuan keringanan UKT ini dilakukan dengan pertimbangan proporsional dan mengedepankan rasa kemanusiaan. Harapannya, dapat meringankan beban ekonomi keluarga mahasiswa sehingga segera bangkit dan menyelesaikan studi dengan baik.
"Semangat pendidikan harus tetap hidup meski di tengah situasi sulit. Dengan kebersamaan, empati, dan kolaborasi, kita akan segera pulih dan bangkit menjadi lebih baik," tutur Marwan.
Adapun Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan, Prof Mustanir mengatakan, pendaftaran keringanan UKT itu masih berpeluang kepada mahasiwa korban bencana yang mungkin belum mengetahui informasi. Apalagi, banyak di antara mereka yang waktu libur semester pulang ke tempat orangtua mereka di kawasan terisolir karena tidak ada sinyal telepon.
Bahkan jangankan jaringan telpon, listrik saja di kampung halaman mereka belum hidup. Tentu mereka tidak tahu pengumuman keringanan UKT tersebut.
"Mereka juga masih ada peluang untuk mendaftar dan akan diverifikasi debagaana seharusnya. Kita sediakan media pendaftaran anak-anak yang tertinggal itu dengan skema berbeda dari sebelumnya," tambah Wakil Rektor Prof Mustanir yang juga imam besar masjid Taqwa Kampus Universitas Syiah Kuala itu. (MR/E-4)
SUNGGUH miris nasib penyintas banjir di kawasan Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.
Keputusan ini diambil lantaran delapan desa di Aceh Tengah masih terisolasi total akibat kerusakan infrastruktur yang parah pascabencana banjir dan tanah longsor.
PEMERINTAH Kota (Pemko) Padang, Sumatra Barat, mempercepat pemulihan saluran irigasi Gunung Nago sebagai langkah darurat mengatasi krisis air bersih di Kecamatan Pauh dan Kuranji.
BENCANA alam yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 25 November 2025 lalu meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga, termasuk di wilayah Tapanuli Tengah.
GREENPEACE Indonesia menilai rencana pengalihan izin 28 perusahaan yang dicabut Satgas Penertiban Kawasan Hutan kepada Danantara sebagai preseden buruk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved