Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Geologi dari Kementerian ESDM mengungkapkan gerakan tanah yang terjadi di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terjadi karena adanya kombinasi kondisi geologi alamiah dan curah hujan tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan longsor susulan jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Seperti yang dikatakan Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria bahwa wilayah terdampak tersusun atas batuan gunungapi tua yang telah mengalami pelapukan lanjut hingga menyebabkan daya ikat tanah melemah, terutama pada lereng dengan kemiringan sedang hingga curam yang banyak dijumpai di kawasan tersebut. Berdasarkan kajian teknis, infiltrasi air hujan ke dalam lapisan tanah pelapukan meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan kekuatan geser material lereng.
“Ketika gaya pendorong melampaui gaya penahan, pergerakan massa tanah tidak terhindarkan dan memicu longsoran berskala luas. Curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian menjadi faktor pemicu utama. Air hujan mempercepat proses kegagalan lereng yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi kritis,” terangnya.
Data sementara mencatat sebanyak 114 jiwa terdampak dalam peristiwa tersebut. Dari jumlah itu, 21 orang berhasil diselamatkan, enam orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih dalam proses pencarian. Gerakan tanah juga menyebabkan kerusakan lahan, permukiman, serta mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Menurut Lana, Badan Geologi juga menyoroti peran struktur geologi berupa sesar dan rekahan yang berkembang di wilayah Bandung Barat. Struktur tersebut meningkatkan permeabilitas batuan sehingga air lebih mudah meresap ke dalam lereng dan memperbesar potensi terbentuknya bidang gelincir. Sebagai langkah mitigasi, masyarakat yang bermukim di sekitar lereng curam dan sempadan alur sungai diimbau segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Aparat daerah diminta memasang rambu rawan longsor serta meningkatkan sosialisasi mengenai tanda-tanda awal gerakan tanah. "Keselamatan warga harus menjadi prioritas. Masyarakat diminta mematuhi arahan pemerintah daerah dan BPBD setempat, terutama selama musim hujan masih berlangsung,” terangnya.
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono membeberkan rangkaian bencana alam yang terjadi sejak awal tahun, mulai dari banjir hingga longsor tidak bisa dilepaskan dari kerusakan lingkungan dan tata ruang yang tidak terkendali. Banjir terjadi hampir di semua wilayah, seperti Bekasi, Karawang, Bandung, hingga daerah lainnya. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan fungsi hutan dan lahan pertanian menjadi fungsi lain.
“Secara geografis Jabar merupakan wilayah dengan kontur pegunungan dan aktivitas vulkanik tinggi, serta memiliki tingkat curah hujan yang besar. Kondisi itu menjadikan Jabar subur. Namun, sekaligus rentan terhadap pergerakan tanah jika tata ruang tidak dijaga dengan ketat. Ini harus menjadi komitmen bersama ke depan. Kebijakan lingkungan tidak boleh hanya bagus di atas kertas, tapi harus dijalankan secara tegas,” ucapnya.
Secara khusus, Ono menyoroti kondisi wilayah DAS Citarum, termasuk kawasan Bandung Barat dan Lembang, yang sejak puluhan tahun lalu sebenarnya telah menjadi fokus penanganan pemerintah. Namun dalam praktiknya, berbagai regulasi dinilai belum berjalan optimal. Faktanya, di hulu Citarum, bahkan di titik nol, kawasan hutan sudah berubah menjadi kebun sayuran. Di Lembang, selain kebun sayuran, banyak vila dan objek wisata yang berdiri di kawasan yang tidak sesuai peruntukannya.
“Tragedi longsor di Desa Pasirlangu harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk bertindak tegas menertibkan bangunan dan pemanfaatan lahan yang melanggar aturan, demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak di masa mendatang. "Intinya pemerintah sudah harus bertindak tegas dengan menertibkan bangunan dan pemanfaatan lahan yang dapat menyebabkan bencana terulang,” tandasnya. (H-2)
GUNUNG Api Marapi kembali mengalami erupsi malam tadi, Rabu (18/6) pukul 20:09 WIB, masyarakat diminta tidak memasuki dan tidak melakukan kegiatan dalam radius 3 km
"Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental Gunung Awu serta potensi ancaman bahayanya, maka tingkat aktivitas hingga tanggal 31 Maret 2025 pada level II atau waspada,"
Bulan Desember ini merupakan awal musim hujan dan di mana curah hujan mulai meningkat di sekitar wilayah Gunung Tangkuban Parahu.
KELURAHAN Cisarua di Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Selain korban jiwa, ribuan warga yang selamat dari bencana harus diungsikan ke tempat aman. Hal ini menjadi perhatian khusus PTPN dengan langkah tanggap darurat bencana.
Dengan tambahan tersebut, total kantung jenazah yang diterima hingga saat ini berjumlah 55 kantung. Dari jumlah itu, sebanyak 41 jenazah telah berhasil diidentifikasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan akan berupaya maksimal menemukan seluruh korban yang masih tertimbun dalam peristiwa longsor di Desa Pasirlangu.
PADA pencarian hari kelima di lokasi longsor di Bandung Barat, tepatnya Kampung Pasir Kuning, Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, tim berhasil mengevakuasi dua body part.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan Tim Disaster Victim Identification (DVI) telah berhasil mengidentifikasi 20 jenazah korban bencana tanah longsor Cisarua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved