Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PROSES identifikasi dua jenazah yang ditemukan di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan menghadapi sejumlah kendala teknis. Kondisi jenazah, terutama yang ditemukan di kedalaman berbeda, menyebabkan pemeriksaan sidik jari tidak selalu memungkinkan.
Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Sulsel pun mengerahkan metode alternatif seperti odontologi (gigi) dan DNA untuk menegaskan identitas dengan ketelitian tinggi, meski membutuhkan waktu lebih lama, khusus untuk jenazah pria, lantaran jenazah perempuan sudah berhasil diidentifikasi dan telah diserahkan pada keluarga, Rabu (21/1).
Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes M. Haris, mengungkapkan bahwa tantangan utama terletak pada kondisi jenazah saat ditemukan sehingga kemungkinan bisa menghambat pemeriksaan identifikasi.
Meski kedua jenazah ditemukan dalam waktu berdekatan, kondisi fisik keduanya disebut berbeda signifikan akibat faktor lokasi temuan. Salah satu jenazah ditemukan di kedalaman sekitar 400 meter, sementara yang lain di kedalaman 200 meter. Perbedaan ini mempengaruhi tingkat kerusakan jaringan.
Metode Primer dan Sekunder
Menghadapi kendala tersebut, tim Dokkes tidak terburu-buru menetapkan identitas. Mereka mengedepankan prinsip ketelitian dan ketepatan dengan beralih ke metode identifikasi primer dan sekunder lainnya.
"Kita upayakan semaksimal mungkin. Kami bekerja sejak pagi setelah menerima jenazah pria. Mudah-mudahan kita mendapatkan hasil secepatnya," ujar Haris.
Untuk jenazah kedua, yang diduga sidik jarinya sudah sulit diperiksa, tim fokus pada metode lain. "Kami masih berproses. Kami upayakan dengan data primer yang lain dari gigi, tulang (osteologi), dan DNA. Itu kami usahakan," tegas Haris.
Ia menjelaskan, usia dapat diperkirakan dari kondisi gigi dan sejumlah parameter tulang lainnya. Namun, semua itu masih dalam tahap pemeriksaan mendalam.
Haris juga mengungkap tantangan lain, yaitu kecocokan data antemortem (sebelum meninggal) dari keluarga. Mereka memberikan foto yang diberikan adalah foto lama saat korban masih muda, sementara wajah jenazah dapat berubah drastis akibat faktor cuaca dan waktu, setelah meninggal.
"Kami selalu minta keluarganya untuk memberikan data-data yang tepat," katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut kasus ini sebagai disaster tertutup (closed disaster), berbeda dengan bencana massal di area terbuka yang ramai masyarakat.
"Kalau ini di gunung, hutan, kemungkinan besar masyarakat atau orang yang melintas di situ tidak ada. Jadi yang kita dapatkan, nanti data itu diperiksa dengan sangat cermat," paparnya.
Proses pencocokan dilakukan secara komprehensif, mulai dari data umum (seperti warna kulit, rambut, ciri badan), tanda khusus (tanda lahir, tato, bekas operasi), hingga data antemortem definitif seperti catatan medis dan DNA, yang menjadi jalur terakhir untuk konfirmasi positif.
Meski telah mendapatkan foto dari keluarga, Haris menegaskan bahwa pengenalan wajah dari foto saja tidak dapat diandalkan.
"Tidak bisa dipastikan karena wajah seseorang yang sudah meninggal, apalagi terkena cuaca dan kondisi tertentu, akan berubah. Tidak bisa dipastikan kesamaannya dengan foto saat masih hidup," jelasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Didik Supranoto menegaskan komitmen tim untuk menginformasikan perkembangan begitu ada kepastian. "Pada prinsipnya, kami akan segera merilis apabila sudah ada perkembangan dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh tim Dokkes," tutupnya.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa KKP, dinyatakan hilang sejak Sabtu (17/1) di Pegunungan Bulusaraung. Pesawat tersebut mengankut 10 penumpang, yang terbang dari Yogyakarta Tujuan Makassar.
Dari 10 penumpang (7 awak kabin dan 3 penumpang) baru dua yang ditemukan dengan kondisi sudah tidak bernyawa lagi. Satu jenazah berjenis kelamin perempuan, korban Florencia Lolita Wibisono sudah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.
Sementara jenazah pria masih dilakukan identifikasi. Sementara itu, delapan korban lainnya, masih dalam pencarian. (LN/E-4)
MEMASUKI hari kelima operasi pencarian, Tim SAR berhasil menemukan korban ketiga jatuhnya pesawat ATR 42-500.
TRAGEDI jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulusaraung menyisakan duka yang sangat mendalam.
DI tengah duka mendalam, keluarga Florencia Lolita Wibisono, pramugari yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT), menyampaikan rasa terima kasih.
TIM SAR gabungan yang dipimpin Basarnas RI melanjutkan pencarian korban pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1).
TIM Disaster Victim Identification (DVI) gabungan berhasil mengidentifikasi jenazah pertama dari kecelakaan pesawat melalui metode sidik jari.
TIM Disaster Victim Identification (DVI) gabungan berhasil mengidentifikasi jenazah pertama dari kecelakaan pesawat melalui metode sidik jari.
DI tengah medan ekstrem berupa lembah curam dan tebing terjal, tim SAR gabungan kembali membuktikan ketangguhannya.
TIM SAR gabungan masih melakukan pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved