Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Empat Kasus DBD di Meranti pada Awal 2026, Dinkes Imbau Masyarakat Terapkan 3 M Plus

Media Indonesia
20/1/2026 16:17
Empat Kasus DBD di Meranti pada Awal 2026, Dinkes Imbau Masyarakat Terapkan 3 M Plus
Ilustrasi(Freepik.com)

KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kepulauan Meranti turun signifikan pada Januari 2026 dibandingkan dengan kasus tahun lalu. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, terdapat delapan kasus dengue dari awal tahun hingga per 19 Januari dnegan rinciaan sempat kasus demam berdarah dengue sedangkan sisanya adalah demam dengue. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, SH, MM melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Widya Nengsih, menegaskan kasus dengue pada Januari 2026 cukup terkendali bila dibandingkan dengan kasus 2025. 

"Berdasarkan laporan puskesmas dan rumah sakit hingga 19 Januari 2026, total kasus dengue tercatat delapan kasus, dengan empat di antaranya merupakan kasus DBD. Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu," jelas Widya pada awak media. 

Kasus DBD pada Januari 2026 yakni dua kasus dari wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang, satu kasus dari Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat. Hingga kini, belum ada laporan kasus dbd dari wilayah lain.

"Secara epidemiologis, angka incident rate (IR) dengue sementara di Kepulauan Meranti pada Januari 2026 berada di kisaran 1,86 per 100.000 penduduk. Angka tersebut dinilai cukup rendah jika dibandingkan dengan kondisi sepanjang tahun 2025," ungkapnya.

Pada tahun 2025 terdapat 425 kasus infeksi dengue, yang terdiri dari 178 kasus DBD (dua kasus meninggal dunia) dan 247 kasus DD (demam dengue). 

Dinas Kesehatan tetap meningkatkan kewaspadaan, terlebih saat musim penghujan yang berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

"Kami terus melakukan pemantauan kasus secara rutin, penguatan surveilans sebagai bentuk kewaspasaan dini di puskesmas, serta mendorong pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masyarakat. Fogging dilakukan sesuai indikasi epidemiologis, bukan sebagai langkah utama," tegas Widya.

Dinkes mengimbau masyarakat menerapkan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang tempat yg berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, serta langkah tambahan (plus) seperti menggunakan lotion atau obat nyamuk, memakai kelambu, memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk.

"Kita tetap mengimbau masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Program 3M Plus harus terus dilaksanakan, baik ada maupun tidak ada kasus, sebagai upaya pencegahan dini DBD," kata Widya.

Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami demam tinggi lebih dari dua hari, sebagai langkah antisipasi. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya