Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Renungan Isra Mi'raj di Pidie Menghibur Kesedihan Korban Banjir Sumatra

Amiruddin Abdullah Reubee
18/1/2026 19:29
Renungan Isra Mi'raj di Pidie Menghibur Kesedihan Korban Banjir Sumatra
Tausiah memperingati Isra Mi'raj 1447 H dan renungan musibah banjir Sumatra di Masjid Al-Falah Sigli, Kabupten Pidie, Aceh, Minggu (18/1).(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PERISTIWA Isra Mi'raj merupakan sebuah rahmat atau hadiah luar biasa untuk menghiburkan Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu A'laihi Wasallam. Perjalanan Nabi di akhir malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aksa, lalu bertemu dengan Allah untuk menerima ibadah salat 5 waktu itu adalah kegembiraan tiada terhingga ditahun Ammul Husni yaitu tahun duka cita Rasullullah. 

Kala itu Sang Nabi Muhammad ditinggal pergi atas wafatnya Sang paman Abu Thalib, yang merupakan sosok tokoh paling berjasa dalam perjuangan Nabi menyebarkan Agama Islam. Lalu disusul lagi kepergian istri Saiyidah Khatijah binti Kwailid yang merupakan orang tercintanya pendukung da'wah ditengah kekejaman kaum Quraish. 

Pada tahun itu pula Rasulullah di usir oleh penduduk Thaif dengan melempari batu hingga luka pada kaki Nabi sampai mengucurkan darah dan lekat di sandal beliau. Rasul menghadapi kekerasan dan hinaan teramat sangat karena mereka enggan menerima ajaran Islam. 

Tetapi Rasul justru berdoa: "Wahai Tuhanku, tunjukilah kaum ku, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui," demikian antara lain disampaikan Doktor Teungku Muhammad Hatta Lc dalam ceramah Isra Mi'raj 1447 H, di Masjid Agung Al-Falah Sigli, Ibukota Kabupaten Pidie, usai Shalat Subuh Berjemaah, Minggu (18/1). 

Dikatakan Abiya Hatta, panggilan Akrab Doktor Muhammad Hatta, bahwa musibah banjir Sumatra yang begitu dahsyat hingga meluluhlantakkan Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, agar menjadi hikmah luar biasa di balik peristiwa tersebut. Setelah musibah besar ini berakhir semoga Allah akan melimpahkan ruah rahmat kepada hambanya terutama mereka yang sabar. 

Karena itu jutaan korban banjir di lebih separuh kawasan Provinsi Aceh dan tetangga Sumatra Utara serta Sumatra Barat untuk yakin di balik cobaan Allah ada rahasia luar biasa bagi mereka. Kemudian perlu meningkatkan keimanan bahwa apa yang terjadi itu tidak luput dari kehendak dan kekuasaan yang maha kuasa. 

Dengan meningkatkan keimanan dari menafsirkan betapa kedahsyatan peristiwa banjir besar yang memporakporandakan infrastuktur, pendidikan, dan perekonomian, maka akan lebih percaya bahwa Allah hadir di kala susah. Lalu hadir pula membawa kegembiraan yang melebihi kerugian banjir kalau itu. 

"Bercontohlah kepada tahun duka cita Rasulullah yang diganti dengan peristiwa Isra Mi'raj. Sebuah peristiwa luar biasa yang malam itu ditentukan salat lima waktu. Satu-satunya amal ibadah yang mendapatkan langsung dari Allah tanpa perantara Malaikat Jibril," tutur Abiya Hatta. 

Saat mendengar tausiah yang menyentuh jiwa itu, ratusan jemaah terlihat khidmat dengan wajah temenung. Mereka tampak larut dalam renungan penuh makna dibalik bencana 24-27 November 2025 lalu. 

Adapun Kepala Dinas Syariat Islam, Kabupaten Pidie, Drh Teungku Fadli kepada Media Indonesia mengatakan, peringatan Isra mi'raj yang digelar di Masjid Agung Al-Falah Sigli, oleh Pemerintah Kabupaten Pidie itu, merupakan renungan bersama berapa hebatnya kekuasaan Allah menurunkan hujan hingga menenggelamkan bumi. Namun sesuai janji nya bahwa di balik kesusahan itu akan menguatkan ke imanan kepada Nya. Setelahnya ada kegembiraan, kenikmatan dan hikmah tiada tara. 

Peringatan Isra Mi'raj dan renungan peristiwa banjir Sumatra itu digelar oleh Pemkab Pidie bersama Jemaah Safari Subuh Masjid Al-falah, bertepatan setelah shalat subuh berjemaah, supaya lebih khidmat dan khusyuk merenungi betapa tidak berdaya manusia ini ketika Allah memerintahkan alam. Kemudian dibalik musibah banjir, dapat membukanya wahana berfikir betapa pentingnya menjaga kelestarian alam ber keseimbangan. 

"Melalui contoh nyata akibat kerusakan alam itu dapat melahirkan kesadaran untuk memelihara kelestarian alam dan tidak merusak lingkungan hidup. Bahwa banjir yang sesungguhnya Rahmah Allah, tidak akan berubah menjadi musibah besar kalau bukan ulah tangan manusia merusak nya," tambah Fadli. 

Bersamaan dengan Renungan Isra Mi'raj Panitia Safari Subuh Masjid Al-Falah Sigli, juga membuka dikasi untuk perlengkapan dan furnitur isi rumah bantuan untuk masyarakat tidak mampu. Rumah bantuan yang di bangun untuk keluarga miskin di Kemukiman Laweueng, Kecamatan Muara Tiga itu adalah rumah bantuan ke 14 unit dari sedekah patungan jemaah Al-Falah. (H-1) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya