Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ini Tiga Pemicu Utama Banjir Tapanuli Selatan

mediaindonesia.com
06/12/2025 14:50
Ini Tiga Pemicu Utama Banjir Tapanuli Selatan
Kondisi saat banjir di Tapsel.(Antara)

BANJIR yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, mendorong pemerintah pusat melakukan penelusuran cepat atas penyebabnya.

Sebagai langkah awal, KLH/BPLH telah melakukan inspeksi mendadak terhadap dua perusahaan yang beroperasi di Batang Toru.

Jika ditemukan pelanggaran terkait pemanfaatan ruang atau aktivitas yang menambah potensi bencana, pemerintah siap menempuh langkah penegakan hukum. Upaya ini dilakukan untuk menekan risiko banjir serupa terjadi di masa mendatang.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan bahwa pihaknya telah memetakan sejumlah faktor yang memperparah bencana tersebut.

Kajian awal dilakukan melalui pemantauan udara dan tinjauan langsung di lokasi untuk membaca kondisi aktual di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru.

Wilayah tersebut diketahui mengalami tekanan berat akibat pemanfaatan ruang yang berlangsung masif selama bertahun-tahun. Temuan awal ini nantinya akan divalidasi lewat verifikasi lapangan yang lebih menyeluruh.

Hanif menegaskan bahwa terdapat tiga aktivitas yang memberikan kontribusi besar terhadap memburuknya kondisi hidrologis di Tapanuli Selatan.

Faktor pertama adalah keberadaan hutan tanaman industri (HTI). Pembukaan lahan skala besar untuk HTI dinilai menurunkan daya resap tanah. Kondisi ini memicu kenaikan limpasan air hujan dan mempercepat aliran air menuju sungai sehingga banjir lebih mudah terjadi.

Kedua, pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) juga disebut sebagai sumber tekanan lingkungan. Proses penataan bentang alam dan perubahan struktur sungai untuk kepentingan proyek kerap mengganggu kestabilan ekosistem dan memicu gangguan pada pola aliran di hulu DAS Batang Toru.

Ketiga adalah aktivitas penambangan emas di sekitar aliran sungai. Operasi tambang tersebut dapat merusak struktur tanah, memperlebar sungai, menambah sedimentasi, dan menurunkan kapasitas sungai untuk menahan debit air. 

"Semua ini memberi kontribusi signifikan terhadap tekanan lingkungan," ujar Hanif. (H-1)

 
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik