Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Perguruan Tinggi Harus Bergerak Bantu Pemulihan di Lokasi Bencana Sumatra

Putri Rosmalia Octaviyani
01/1/2026 14:42
Perguruan Tinggi Harus Bergerak Bantu Pemulihan di Lokasi Bencana Sumatra
Penyaluran bantuan untuk korban bencana di Tapanuli Selatan.(Dok. Pribadi)

‎KOLABORASI menjadi kunci dalam upaya mempercepat pemulihan usai terjadinya bencana Sumatra. Salah satu yang berperan penting dalam proses tersebut adalah kolaborasi mahasiswa dan perguruan tinggi.

Melalui keterlibatan langsung di lapangan, pengabdian menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, kepedulian, dan kearifan lokal, sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai mitra masyarakat dalam menghadapi dan memulihkan dampak bencana.

‎“Bantuan kesehatan dalam situasi bencana tidak hanya soal pengobatan, tetapi tentang menjaga keberlangsungan hidup dan martabat masyarakat terdampak. Layanan yang cepat, humanis, dan berkelanjutan menjadi kunci agar proses pemulihan dapat berjalan lebih baik,” ujar Dekan Fakultas Kesehatan, Universitas Aufa Rohyan, Arinil Hidayah, yang turut turun langsung ke lapangan di Tapanuli Selatan, dalam keterangannya, Kamis, (1/1).

Dalam aksi tersebut juga ikut serta jajaran mahasiswa di wilayah terdampak bencana dan dosen, yakni Arinil Hidayah, Nurul Hidayah Nasution, Ahmad Safii Hasibuan, Lucy Widasari, dan Hapiz Arlanda Sani. Tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat semata. Lebih dari itu, kegiatan ini dimaknai sebagai ikhtiar bersama untuk membangun kembali ketahanan sosial masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai Martabe—hadir secara nyata, bertanggung jawab, serta bangkit bersama secara bermartabat.

Hal senada disampaikan Anto J. Hadi. Di sela kegiatan pendampingan di lokasi pengungsian, ia menegaskan bahwa pengabdian harus melampaui respons darurat semata.

“Pengabdian ini bukan hanya soal bantuan, tetapi tentang Martabe—bagaimana kita hadir, bertanggung jawab, dan membangun kembali ketahanan masyarakat secara bersama-sama,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pemulihan pascabencana. Kehadiran kampus di tengah masyarakat harus diwujudkan melalui keterlibatan langsung, kerja kolaboratif dengan pemerintah desa dan warga, serta pendampingan yang berkelanjutan. “Kami ingin kampus benar-benar turun ke lapangan agar pemulihan berjalan bermartabat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa nilai Martabe tidak berhenti sebagai konsep budaya, melainkan hadir sebagai praktik nyata yang selaras dengan visi Universitas Aufa Royhan untuk menjadi institusi yang unggul, kompetitif, dan berkarakter. Melalui keterlibatan langsung sivitas akademika di tengah masyarakat terdampak bencana, kampus tidak hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi aksi kemanusiaan, tetapi juga menanamkan nilai empati, tanggung jawab sosial, dan kepemimpinan beretika.

Dalam bingkai visi tersebut, Martabe dimaknai sebagai fondasi pembentukan insan akademik yang berdaya saing secara intelektual sekaligus kokoh secara moral. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya