Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
TIADA aksi dan solusi yang dianggap paling mulia dikerjakan manajemen Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh, dalam sepekan terakhir. Kecuali mereka membentuk tim guna terjun lapangan melakukan apa saja untuk menolong atau membantu korban bencana alam banjir di Pulau Sumatra, khususnya Aceh.
Sesuai pantauan Media Indonesia, pada Kamis (4/12) manajemen sekolah SD, SMP, dan SMA yang didirikan Chaiman Media Group Surya Paloh berasal donatur lain, sudah enam hari mengarungi lumpur banjir. Tujuannya adalah untuk memberi bantuan menyelamatkan mereka yang tersisa.
"Puncak banjir terjadi pada Rabu (26/11) malam dan Kamis (27/11) dini hari. Hari ketiga Sabtu, 29 November, kami sudah mulai turun ke lokasi kawasan Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, membawa nasi bungkus dan makanan siap saji. Ternyata bermanfaat sekali banyak korban sudah sudah behari-hari tidak mendapat makanan," tutur Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie Marthunis Bukhari kepada Media Indonesia, Kamis (4/12).
Dikatakan Marthunis, hingga kini relawan Sekolah Sukma Bangsa Pidie terus menelusuri kawasan Pidie Jaya, termasuk menjangkau daerah yang paling parah dan minim sentuhan bamtuan. Target utama adalah menyalurkan bantuan kepada mereka yang masih belum berdaya.
Bantuan berupa makan siap saji dan bahan makan pokok itu berkat kerjasama Yayasan Sukma dan Media Group. Lalu juga membawa baju layak pakai sumbangsih dari wali murid atau warga Sekolah Sukma Bangsa Pidie.
"Hingga kini, paling dibutuhkan korban di lokasi banjir adalah bahan makanan dan pakaian. Karena rumah mereka sudah tenggelam lumpur sampai ke jendela, tidak ada lagi bahan makan yang tertinggal. Hanya baju di badan yang tersisa," tutur Marthunis.
Sedikitnya ada 100 orang relawan yang diturunkan ke lokasi banjir Sumatra itu. Mereka adalah guru, karyawan Sekolah dan siswa SMA atau anggota OSIS yang ikut berpartisipasi.
Melihat penderitaan korban yang sangat sulit ditengah krisis bahan makanan, Tim Relawan Kemanusiaan Sekolah Sukma Bangsa Pidie juga membawa peralatan pembersihan lumpur sendimen banjir, seperti sekrup, cangkul, gerobak kecil (grek) dan lainnya, untuk membersihkan lumpur dalam rumah.
Menurutnya sekarang mereka sedang fokus di berapa titik paling parah di Pidie Jaya. Antara lain yaitu Kecamatan Meurah Dua, meliputi Desa Beurawang, Teupin Pukat, Sagoe Mesjid, Manyang Cut dan Nlang Cut.
"Bahkan rumah guru Sekolah Sukma Pidie asal Pidie Jaya juga tertutup lumpur hingga satu setengah meter. Sepeda motor di dalamnya ikut terkubur," kata Marthunis.
Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala SMA Sukma Pidie, Sugeng Handayani. Ia mengaku pihaknya telah membuka open donasi untuk korban bencana banjir Sumatera. Kepada siapa saja yang ingin menyumbang atau berdonasi silahkan melalui nomor rekening Bank BSI 7335666644 atas nama Izzati Silmina M (pengurus OSIS SMA). Satu lagi melalui rekening Bank Aceh 05502203032008 atas nama Remija Najwa.
Pihak Sekolah Sukma Bangsa Pidie sangat berharap uluran tangan para donatur di mana saja berada. Sedikit saja sumbangan ini sangat berati bagi mereka dibalik lumpur bencana dan terancam kelaparan.
Atau boleh juga menybang dalam bentuk benda yang bisa diantar langsung kepada mereka korban selamat. Baik mereka yang masih bertahan sekitar bekas rumah atau telah berkumpul di titik pengungsian.
"Kepada donatur yang telah memercayai kami, tiada terhingga nilainya. Insya Allah dalam waktu cepat beberapa hari ini terus kami salurkan kepada saudara kita yang terdampak. Sekolah Sukma Bangsa lahir dari uluran tangan donatur pasca-tsunami Aceh 26 Desember 2004. Kini kami juga terpanggil membantu yang lain. Terima kasih kepercayaan ini, hanya Yang Maha Kuasa sanggup membalasnya," tutup Marthunis. (MR/E-4)
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
LAILATUL BARA'AH atau yang akrab disebut Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh dirayakan dengan penuh khidmat.
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
Selain pembersihan bangunan, personel juga melakukan normalisasi pada 42 hektare lahan terdampak agar dapat digunakan kembali oleh masyarakat.
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan.
Keputusan ini diambil lantaran delapan desa di Aceh Tengah masih terisolasi total akibat kerusakan infrastruktur yang parah pascabencana banjir dan tanah longsor.
Rapat konsolidasi membahas klaster infrastruktur, mencakup jalan, jembatan permanen, jembatan bailey, serta infrastruktur sungai seperti irigasi, daerah aliran sungai hingga sumur bor.
NASIB korban banjir di Provinsi Aceh hingga Rabu (28/1) belum ada perubahan berarti. Sudah 63 hari para penyintas bencana dahsyat itu masih dipenuhi lumpur dalam rumah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved