Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Gelondongan Kayu di Banjir Tapanuli Mayoritas dari Penebangan

Apul Iskandar Sianturi
02/12/2025 16:27
Gelondongan Kayu di Banjir Tapanuli Mayoritas dari Penebangan
Kerusakan alam sekitar Kawasan Wisata Danau Toba(Dok Walhi)

DIREKTUR Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara Rianda Purba menyampaikan terkait gelondongan kayu yang terbawa saat banjir bandang dan longsor di Tapanuli Raya. Menurut Rianda, kayu-kayu gelondongan itu berasal dari Harangan Tapanuli, ekosistem Barang Toru.

"Gelondongan Ini seluruhnya merupakan kayu-kayu yang dipotong, mayoritas kayu bekas tebangan senso (gergaji mesin). Nah, kan nggak akan kita sangka, pernyataan pemerintah bahwa itu kayu lama yang sudah lapuk. Tapi yang jelas ini kayu senso dan banyak kayu-kayu baru bekas potongan. Tidak mungkin kayu-kayu yang dibawa hujan tersebut bekas sensoan," kata Rianda dalam keterangannya, Selasa (2/12). 

Atas peristiwa tersebut, lanjut Rianda, tampak kejahatan yang selama ini disembunyikan. Hal ini tentu mengungkap kebenaran yang selama ini bahwa telah terjadi deforestasi secara besar-besaran dan dilakukan secara terorganisir baik legal maupun pun ilegal.

"Salah satunya di jembatan Trikora, Kecamatan Batang Toru. Itu kan Sungai Batang Toru, jelas di atasnya adalah tambang emas Martabe. Sepanjang aliran sungai dan bibir sungai sepanjang 13 km dibangun infrastruktur PT Batang toru, kemudian juga ada aktivitas atas tanah di kecamatan sekitar aliran Sungai Batang Toru yang dilakukan secara legal. Ini merupakan faktor-faktor penyebab banjir ini. Jelas banjir ini adalah bencana ekologis yang disebabkan oleh segelintir orang dan perusahaan," beber Rianda. 

Selain itu juga di Tapanuli Tengah di hulu-hulunya juga banyak  aktivitas fungsi lahan dari hutan dibuka menjadi perkebunan sawit.

"Kita melihat langsung di lapangan, kita bekerja disana bahwa sejak 2014-2015, pemerintah banyak mengeluarkan kawasan hutan alami dari kawasan hutan nonhutan, alih fungsi berjalan masif terjadi seperti untuk tambang emas, pembangunan PLTA, untuk praktik perkebunan rakyat kecil, logging dan kemudian alih fungsi hutan diikuti dengan pembukaan hutan menjadi kebun sawit di wilayah hulu yang menjadi wilayah tangkap air, sehingga saat hujan terus-menerus banjir bandang langsung terjadi di beberapa wilayah di Sumut," kata Rianda. (AP/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik