Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
TRADISI atau budaya lokal yang selama ini banyak yang dinilai negatif, hendaknya dikurangi atau bahkan kalau bisa dihilangkan. Seiring dengan kemajuan zaman serta kemajuan teknologi, tradisi atau budaya semacam itu sudah tidak relevan lagi.
Hal itu disampaikan anggota DPR-RI, Abdul Fikri Fakih, usai menghadiri acara Gelar Wicara Berbagi Cerita Lokal di Hotel Karlita Kota Tegal, Senin (27/10). Acara dihelat Balai Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI, bekerja sama dengan DPR-RI.
"Sebagai contoh, pertunjukan wayang yang biasanya berlangsung lama semalam suntuk, bisa disajikan dalam format yang lebih singkat tapi tetap menarik bagi generasi muda," ujar Fikri.
Di sisi lain, kata Fikri, sekarang ada kecenderungan generasi muda lebih menyukai budaya luar negeri ketimbang budayannya sendiri. Hal semacam itu juga bisa dikurangi dengan mengembangkan budaya ,lokal sendiri.
"Itu tugasnya para budayawan untuk bisa tetap merawat budaya sendiri, sambil mengurangi budaya budaya yang negatif dan sudah tidak relevan lain. Ya, para budayawannya yang harus lebih iniovatif lagi," jelas Fikri.
Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, yang menjadi salah satu nara sumber dalam acara tersebut, menyampaikan sesuatu yang tidak konteks seperti masalah mistik yang ada dalam budaya lokal memang sudah waktunya dihilangkan atau paling tidak diminimalisir.
"Seperti yang dilakukan mendiang dalang Ki Enthus Susmono. Itu kan dalam mendalang sudah lebih meninggalkan yang dulunya dilakukan para dalang lainnya. Misalnya ada yang diwarnai dengan minuman arak-arakan itu dihilangkan. Selain dengan penyajiannya itu perlu dihilangkan dan diganti dengan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman sekarang,” jelas Atmo Tan Sidik.
Kepala Sub Bagian Umum Balai Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan RI, Neneng Kartini, berharap agar acara semacam ini dapat menjadi pemicu semangat bagi para guru untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang kekayaan budaya lokal kepada siswa-siswanya.
"Dengan begitu, generasi muda akan semakin mencintai dan bangga dengan budaya leluhur mereka," papar Neneng. (N-2)
Tradisi munggahan merupakan strategi sosial untuk memperkuat solidaritas, memperbarui relasi, dan menjaga identitas budaya.
Tradisi ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur, dan dewa-dewa yang disembah serta sebagai simbol penyucian sebelum memasuki Tahun Baru Imlek.
Dalam tradisi Tiongkok kuno, feng shui berkembang sebagai sistem penataan ruang berbasis pengelolaan energi (qi) untuk menjaga keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan kekuasaan.
para pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah diberikan wadah untuk menampilkan karya tari yang memadukan musik modern dengan nilai-nilai budaya Indonesia.
Selain kemandirian finansial, standar sosial di Indonesia juga turut memperberat pertimbangan generasi muda untuk menikah.
Tradisi tabayyun di kalangan ulama dan warga NU telah lama familiar dan mengakar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved