Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MASJID Fatimah Umar, di Jalan BTN Makkio Baji, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial (Medsos), karena hendak dijual pemilik lahannya, Hilda Rahman. Meskipun masjid ini telah digunakan oleh warga sejak dibangun pada tahun 1990-an, lahan masjid tersebut ternyata bukanlah tanah wakaf.
"Lahan masjid bukan wakaf. Ceritanya begini, jadi sebelumnya pas didirikan pertama itu rencananya keluarganya yang mau tinggal yah. Kemudian dibuatlah kira-kira musala pada saat itu," ujar Imam Masjid Fatimah Umar, Ismail Kappaja, Senin (15/7).
Menurutnya, awalnya, pembangunan musala ini tidak tuntas, sehingga warga sekitar, yang diinisiasi oleh seorang pegawai kejaksaan, menggalang dana untuk menyelesaikan pembangunan musala hingga akhirnya rampung. Lahan masjid ini memiliki luas bangunan 381 meter persegi dan tanah kosong di belakang masjid seluas 212 meter persegi.
Baca juga : Ramadan 2023, Al Markaz Siapkan 3 Imam Tarawih Qari Internasional
Setelah terbangun, pemilik lahan tidak mengikuti perkembangan lebih lanjut. Seiring berjalannya waktu, musala tersebut berkembang menjadi sebuah masjid.
Pada tahun 2015, pengurus masjid sempat mendatangi rumah pemilik untuk memperjelas status lahan apakah akan diwakafkan atau tidak, namun hanya bertemu suami pemilik lahan yang mengatakan agar lahan tersebut digunakan saja dulu. Tidak ada keputusan pasti mengenai status lahan.
Lalu 2021, pemilik lahan muncul untuk melihat tanah kosong di belakang masjid dan berencana membuat rumah tahfidz Alquran serta menimbun tanah kosong tersebut.
Baca juga : Pembangunan Masjid 99 Kubah Makassar Dilanjutkan
Namun, setelah proses penimbunan selesai, tiba-tiba muncul rencana untuk menjual lahan tersebut dengan harga awal Rp2,5 miliar. Proses penjualan sempat hampir terjadi, tetapi batal karena perbedaan pandangan mengenai nama masjid yang tidak boleh diubah.
Beberapa waktu kemudian, Hilda Rahman dan adiknya, Mahmud Umar, datang ke pengurus masjid dan menyerahkan urusan tersebut kepada Mahmud. Namun, beberapa bulan kemudian, pemilik lahan kembali menghubungi pengurus masjid untuk meminta agar lahan masjid tersebut tetap dijual.
Harga tanah kosong di belakang masjid ditawarkan Rp1,5 miliar, sedangkan lahan dengan bangunan masjid totalnya Rp3,5 miliar.
Baca juga : Empat Mahasiswa Unhas Laporkan Dugaan Pelecehan Seksual di Kampus
Beberapa kali rencana penjualan terjadi, tetapi tidak ada tanda tangan perjanjian yang berhasil. Akhirnya, pihak keluarga memasang spanduk di depan masjid dengan harga terakhir sekitar Rp3 miliar dengan dua sertifikat.
Ismail menyebut bahwa pemilik lahan membutuhkan dana untuk membuka pesantren di Jakarta dan membebaskan lahan akses jalan di sana.
Pemilik lahan, Hilda Rahman, belum memberikan konfirmasi terkait masalah ini. Pesan dan panggilan telepon dari wartawan tidak direspons. Sebelumnya, masalah ini telah dimediasi oleh Lurah Bangkala, Achmad Fadly Akbari, bersama pihak pengurus masjid dengan disaksikan Babinsa dan Bhabinkamtibmas pada 3 Juli 2024. Meskipun spanduk tetap dipasang di depan masjid, warga tetap menjalankan aktivitas ibadah seperti biasa. (LN)
Kondisi Masjid Syuhada Tamiang sebelumnya cukup memprihatinkan karena tertutup material lumpur, noda, serta kerak sisa bencana yang mengeras.
AWAL Oktober kemarin, saya berkesempatan hadir menjadi salah satu pembicara pada ajang the 4th PCINU Belanda’s Biennial International Conference di University of Groningen, Belanda.
Masjid ini dirancang menjadi pusat ekosistem terpadu yang menggabungkan aspek spiritual, kewirausahaan (ecopreneurship), dan pemberdayaan masyarakat.
Masjid perlu terus dimakmurkan dan dimanfaatkan sebagai sarana membangun masyarakat yang religius sekaligus mandiri.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Masjid Nurul Hidayah Kebayoran Baru Jakarta Selatan meluncurkan Program Sedekah Barang.
Kemenag dan Kemenkop UKM menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai langkah strategis untuk membangkitkan dan memperkuat ekonomi umat
Tim SAR temukan FDR dan CVR pesawat jatuh di Maros-Pangkep, Sulsel, Rabu (21/1). Data kotak hitam segera diserahkan ke KNKT untuk investigasi penyebab kecelakaan.
TIM SAR gabungan berhasil menemukan korban kedua berjenis kelamin perempuan, dari jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di lereng Gunung Bulusaraung namun belum dievakuasi
KNKT menyampaikan bahwa pesawat ATR 42 pecah berhamburan akibat menabrak lereng gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Sakti juga menyampaikan rasa keprihatinannya atas insiden pesawat ATR 42-500 dengan kode registrasi PK-THT yang hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan tersebut.
ATR adalah singkatan dari Avions de Transport Régional (Prancis) atau Aerei da Trasporto Regionale (Italia).
Jumlah penumpang on board (POB) sebanyak 11 orang, delapan kru pesawat dan tiga orang penumpang. Saat ini tim SAR Gabungan telah mengerahkan personel, mobil truk, drone dan rescue car satu tim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved