Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir mengatakan hakikat puasa adalah agar setiap muslim cukup seperlunya dalam makan, minum, dan pemenuhan kebutuhan biologis. Secala lebih luas secukupnya dan tidak berlebihan dalam urusan dunia.
"Penuhilah semua keperluan hidup itu secara tengahan (tawasuth, tawazun) dan tidak berlebihan," ucap Haedar dalam Khotbah Idul Fitri 1445 H di Lapangan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (10/4).
Namun, realitas saat ini menunjukkan segala masalah dan penyakit kehidupan manusia sering terjadi karena sikap berlebihan, rakus, dan melampaui batas.
Baca juga : Idul Fitri Berpotensi Bareng, Ini Kata Ketum PP Muhammadiyah
Makan dan minum yang berlebihan menimbulkan penyakit di tubuh manusia. Penyimpangan, penyalahgunaan, korupsi, konflik, serta prahara dalam kehidupan masyarakat dan bangsa sering terjadi karena nafsu menguasai dan rebutan kepentingan yang berlebihan.
"Karena nafsu ingin menang melampui batas timbullah penghalalan segala cara dalam segala kontestasi kehidupan. Ketika menang bersikap angkuh diri tanpa rasa syukur. Ketika kalah jatuh diri dan larut dalam kekecewaan berkepanjangan tanpa sikap tawakal," kata dia.
Kontestasi politik, olahraga, dan kehidupan sehari-hari jika disikapi berlebihan banyak menimbulkan masalah, seperti saling benci dan permusuhan yang keras dalam hubungan antarmanusia.
Baca juga : Awal Ramadan 2024 Diprediksi Berbeda, Idul Fitri Bagaimana?
Hubungan antarbangsa di ranah global menjadi gawat darurat,bahkan terjadi perang karena sikap rakus suatu negara. Israel contoh negara yang sangat rakus sehingga menjadi agresor dan penjajah yang jahat.
Setelah berhasil menduduki tanah Palestina pada 1948 dan mendirikan negara sendiri, bangsa Zionis itu agresif ingin memusnahkan bangsa dan negeri Palestina.
"Segala bentuk penjajahan di muka Bumi juga lahir karena kerakusan, yang membuat negeri jajahan menderita berkepanjangan seperti dialami bangsa Indonesia ratusan tahun lamanya," jelas Haedar.
Baca juga : MUI Dorong Kepolisian Segera Panggil dan Usut Peneliti BRIN
Selain itu, akibat kerusakan lingkungan hidup global saat ini seperti perubahan iklim, bajir, kerusakan sumberdaya alam, dan berbagai bencana alam terjadi karena ulah tangan manusia yang melampaui batas.
Allah menegaskan dalam Al-Quran, Dhaharal-fasâdu fil-barri wal-ba?ri bimâ kasabat aidin-nâsi, artinya 'Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.' (QS Ar-Rum:41).
Sementara Islam mengajarkan hidup cukup hasil ikhtiar yang halal dan baik. Sebaliknya jauhi segala hal yang melampaui batas.
Baca juga : Polri Selidiki Kasus Peneliti BRIN yang Ancam Warga Muhammadiyah
Sikap ekstrem yang mengarah pada berlebihan (ghuluw) maupun yang mengarah pada penegasian (tafrith) dan mengurang-ngurangkan (tanqis) tidak dibenarkan oleh Ajaran Islam.
"Ketika harus bernahyu-munkar pun mesti dengan cara yang makruf atau baik; di samping dengan hikmah, edukasi yang baik, dan mujadalah yang lebih baik sejalan pendekatan dakwah yang diajarkan Allah (QS Al-Nahl: 125)," tegas Haedar.
Haedar mengajak kaum muslimin melalui puasa Ramadan dan Idul Fitri untuk membangun sikap hidup tengahan dan tidak berlebihan.
"Setiap muslim mesti bersikap wasathiyah atau atau moderat dalam menjalani kehidupan. Bangun keseimbangan hidup antara ruhani dan jasmani, jiwa dan fisik, individu dan kolektif, ibadah mahdhah dan muamalah, serta antara dunia dan akhirat secara utuh, bermakna, dan bertujuan utama," kata dia.
Menurut Haedar, di situlah makna hidup manusia yang bermartabat mulia (fi ahsan at taqwim) yang membedakannya dengan makhluk Tuhan lainnya.. (Z-1)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pun mengimbau, dalam menghadapi tahun baru 2026, agar tidak ada pesta pora dan euforia.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan pentingnya peradaban Islam berkemajuan dalam Milad ke-70 Universitas Muhammadiyah Jakarta sebagai teladan PTMA.
KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan sejumlah masalah dihadapi generasi muda Indonesia saat ini. Itu bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Banyak anak-anak bangsa yang berkarakter positif untuk bekerja keras meraih kesuksesan dalam pendidikan dan dimensi kehidupan lainnya.
Haedar menegaskan bahwa dalam aspek kemampuan di bidangnya maupun sikap moral selaku pejabat publik akan selalu dihisab publik.
Haedar berpesan supaya para pemimpin bangsa, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun pejabat publik, seharusnya bercermin pada keteladanan Nabi Muhammad.
KETUA PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, sangat menyesalkan adanya acara menyanyi dan berjoget seusai acara peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan pelapor adalah bagian dari Aliansi Pemuda NU dan Aliansi Pemuda Muhammadiyah.
KETUA Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulul Abshar Abdalla menyoroti pentingnya humor dalam kehidupan bermasyarakat. Ia turut menyayangkan soal laporan terhadap Komika Pandji Pragiwaksono
PENGASUH dari Pondok Pesantren Denanyar Jombang Abdussalam Shohib atau akrab disapa Gus Salam mengatakan kasus Mens Rea Pandji Pragiwaksono seharusnya tidak menjadi laporan pidana.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pun mengimbau, dalam menghadapi tahun baru 2026, agar tidak ada pesta pora dan euforia.
DESEMBER 2025 seharusnya menjadi bulan penuh refleksi dan harapan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved