Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Malam Tahun Baru 2026, Haedar Nashir: Saatnya Refleksi bukan Euforia

Ardi Teristi Hardi
31/12/2025 16:28
Malam Tahun Baru 2026, Haedar Nashir: Saatnya Refleksi bukan Euforia
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.(Dok. Antara)

MEMASUKI malam tahun baru 2026, Indonesia masih merasakan duka akibat bencana banjir Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan daerah lainnya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pun mengimbau, dalam menghadapi tahun baru 2026, agar tidak ada pesta pora dan euforia kembang api dari saudara sebangsa di negeri tercinta, sebagai wujud empati merasakan derita sesama. 

“Mari awali kehadiran tahun 2026 dengan semangat baru untuk lebih tangguh dan makin bersatu menghadapi musibah dan menjalani kehidupan," ungkap dia, Rabu (31/12). 

Dalam refleksi akhir tahun bertajuk, “Bangkit Bersama untuk Indonesia” Haedar mengajak untuk semakin memperkuat jiwa, pikiran, dan orientasi tindakan yang luhur berbasis hikmah kebijaksanaan dalam menghadapi setiap musibah dan dinamika kehidupan. 

“Mari lakukan refleksi spiritual, intelektual, dan sosial dalam kehidupan kebangsaan agar perjalanan ke depan semakin terarah di jalan yang benar dan lebih tercerahkan,” ajak Haedar.

Lebih khusus ia membahas bagaimana merenungkan kembali sekaligus merawat nilai-nilai ketuhanan (hablum minallah) yang diajarkan oleh seluruh agama yang hidup di negeri tercinta. Sebagaimana nilai substansial bernegara yang terkandung dalam Pancasila sebagai fondasi dasar negara Republik Indonesia.

Di tengah bencana, lanjut Haedar, spirit bangkit mesti dibangun oleh seluruh pihak. Bukan menebar keriuhan, kekalutan, dan suasana pesimis. Bangsa ini harus tangguh dan bangkit dalam menghadapi bencana maupun tantangan kehidupan lain seberat apa pun. 

“Kami menaruh hormat kepada saudara-saudara korban terdampak bencana yang masih terus berjuang mengatasi kesulitan dengan kesabaran dan semangat kebersamaan yang tinggi,” tutur Haedar.

Haedar juga mengatakan, pascabencana terbuka peluang mengkaji kondisi ekosistem Indonesia secara menyeluruh. Kajian-kajian hendaknya dilakukan secara objektif dengan pendekatan multidisipliner dan multiperspektif yang didukung riset lapangan yang andal agar hasil kajian mendekati kebenaran yang substansial dan menyeluruh. 

“Bersama dengan itu mari menata Indonesia di bidang politik, sosial, ekonomi, tata ruang, lingkungan, dan semua aspek secara benar dan tersistem menuju Indonesia yang lebih baik dan berkemajuan,” tegas Haedar.

Haedar juga mengatakan, Indonesia saat ini dan ke depan menuntut kohesivitas hidup bersama, baik dalam menghadapi bencana maupun berbangsa-bernegara. Dasar Persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika mesti menjadi patokan hidup bersama dalam menghadapi situasi sesulit apa pun maupun dalam dinamika hidup berbangsa. 

“Jadikan keduanya sebagai nilai yang hidup (living value) dan teraktualisasi dalam kehidupan bersama,”jelas Haedar.

Bangun kebersamaan yang tulus dan otentik. Jauhi centang perenang, saling hujat, saling tuding, saling membodohkan, dan menumpah amarah yang menjadikan kehidupan berbangsa laksana bara yang dapat berpotensi membawa bencana baru dalam kehidupan kebangsaan. 

“Jaga kerukunan dan kehormatan antarkomponen bangsa yang menjadi penopang kuat keindonesiaan,” imbuh Haedar.

Haedar juga menegaskan agar media sosial jangan menjadi wahana perseteruan yang mengoyak persatuan dan kebersamaan. Harganya terlalu mahal bila bangsa ini pecah disebabkan para warganya tidak mampu menahan diri dalam bermedia sosial. 

“Alangkah ruginya hidup ini jika manusia menjadi korban kebebasan media sosial yang liar, padahal seluruh warga bangsa sejatinya saling memerlukan untuk hidup bersama dalam harmoni dan keadaban tinggi,” tegas Haedar.

Dalam situasi kritis di mana sebagian orang mudah marah atas keadaan di tengah hegemoni media sosial yang memproduksi berita-berita sensitif, terbuka potensi konflik di tubuh bangsa ini. Sementara itu berbagai pandangan keras hadir saling berbenturan di tengah informasi yang sahih tidak didapatkan. 

Manakala kondisi ini tidak terkelola dengan baik, akan lahir anarki sosial dan kegaduhan struktural dalam berbagai bentuk yang tentu tidak diinginkan bersama. 

“Di sinilah pentingnya kedewasaan dan kearifan seluruh pihak di tubuh bangsa ini,” jelas Haedar. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya