Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PERENCANAAN pembangunan nasional dan daerah di Indonesia, harus mengacu pada Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH), guna menghadapi ancaman serius Triple Planetary Crisis.
Era kepemimpinan baru yang akan datang diharapkan dapat mengintegrasikan perencanaan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) dengan D3TLH dalam perencanaan pembangunan.
Hal ini dikemukakan oleh Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Hanif Faisol Nurofiq di sela-sela kegiatan Diseminasi Pendayagunaan Data dan Informasi D3TLH dalam Perencanaan Pembangunan, Tata Ruang, dan Usaha dan/atau Kegiatan yang digelar di secara hibrid.
Dalam sambutannya Hanif mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi ancaman Triple Planetary Crisis. "Penyebab utama dari Triple Planetary Crisis adalah aktivitas manusia dalam pemanfaatan SDA pada kegiatan industri, transportasi, bangunan, energi, pertanian, dan lain sebagainya. Hal tersebut memicu meningkatnya ancaman bencana alam dan bencana lainnya. Oleh karena itu diperlukan perencanaan pemanfaatan SDA yang baik," kata Hanif dalam pernyataannya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (24/12).
baca juga: Ada 608 Ribu Hektare Wajib Rehabilitasi oleh Perusahaan Pemegang IPPKH
Menurutnya Indonesia akan segera memasuki era kepemimpinan yang baru. Hal ini menjadi peluang untuk dapat mengintegrasikan perencanaan pemanfaatan SDA ke dalam perencanaan pembangunan.
"D3TLH adalah Instrumen Tata Lingkungan untuk pemanfaatan SDA berkelanjutan, yang dapat didayagunakan dalam perencanaan pembangunan, tata ruang dan SDA," tambah Hanif.
Pengembangan, penerapan dan pendayagunaan D3TLH telah didukung dengan landasan hukum/yuridis dan scientific yang sangat kuat. Dalam pengembangan D3TLH tersebut, KLHK berkolaborasi dengan berbagai pakar perguruan tinggi, PEPSILI, BKPSL dan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) serta unit-unit kerja KLHK dan pihak terkait lainnya.
"D3TLH harus didukung dengan kebijakan dan regulasi, pedoman teknis, peningkatan kapasitas SDM, Sistem informasi D3TLH dan kerangka mekanisme pembiayaan. Hal tersebut akan kita kuatkan melalui kegiatan desiminasi D3TLH ini," ujar Hanif.
Dengan kegiatan ini diharapkan D3TLH sebagai salah satu instrumen tata lingkungan dapat mewujudkan visi NKRI yang berdaulat, maju, adil dan makmur serta Visi Indonesia Emas 2045.
Pada kesempatan sama, Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor (PDLKWS) Erik Teguh Primiantoro mengungkapkan pentingnya D3TLH terhadap konteks perencanaan pembangunan, tata ruang, dan lainnya.
"Menjadi suatu isu sebagai input untuk RPJP, RPJM, dan lainnya. D3TLH menjadi input penting dalam penyusunan RPPLH yang saat ini sedang periode prosun. Dilandaskan kajian ilmiah untuk tingkat nasional dengan berdasarkan jasa lingkungan terhadap berbagai standar kebutuhan dasar hidup, serta dihasilkan 34 materi teknis provinsi," ungkapnya.
Sementara nara sumber kegiatan, Anggoro Cahyadi selaku perwakilan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemendikbud mengatakan isu lingkungan dalam konteks kebudayaan beberapa waktu terakhir sudah terhubung dalam kebijakan.
Dalam hal ini, berkaitan dengan pemajuan kebudayaan terkait perlindungan, pemanfaatan dan pembinaan.
Prof Bambang Sergi Laksmono, Guru Besar bidang Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia menekankan dimensi sosial masyarakat memiliki outcome akhir menuju kesejahteraan.
Dimensi sosial tidak terlepas dari lingkungan hidup yang akan berdampak langsung terhadap kearifan lokal dan penggunaan SDA. Ekoregion menjadi konteks besar dan kata kunci yang mempengaruhi kondisi sosial masyarakat.
Tata kelola yang dimaksud secara esensial berkenaan dengan keseimbangan, bagaimana membangun ketercukupan dalam pemenuhan pangan, sandang, dan papan yang bergantung pada topangan lingkungan hidup. Jasa lingkungan hidup dipertahankan D3TLH dengan memelihara supply seperti pemeliharaan dan pengawasan.
Kegiatan yang digelar Ditjen PKTL melalui Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor (PDLKWS) diikuti oleh tim penyusunan D3TLH nasional dan Dinas LHK 38 provinsi se Indonesia, ahli lingkungan dan perencanaan, akademisi dari berbagai perguruan tinggi, KPK, BPS, dan KLHK. (N-1)
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
The HUD Institute meninjau perencanaan kota mandiri di tengah dorongan pembangunan perumahan dan menyoroti pentingnya integrasi tata ruang regional.
Kementerian ATR bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat sepakat memperkuat fungsi kehutanan pada lahan-lahan milik PTPN I.
Pengaturan tata ruang, penyediaan ruang terbuka hijau, serta penerapan prinsip keberlanjutan sejak tahap awal pembangunan jadi unsur dalam konsep kawasan hunian ramah lingkungan .
Langkah strategis ini bertujuan meminimalkan konflik agraria serta mencegah eskalasi bencana lingkungan di wilayah Jawa Barat.
Dedi menyatakan bahwa inventarisasi dan penetapan batas sempadan oleh Kementerian PU akan menjadi "senjata" bagi pemerintah daerah untuk melakukan penegakan hukum secara tegas.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa pemerintah akan meninjau kembali tata ruang di wilayah yang terdampak banjir di Sumatera.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved