Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGA Warga yang tinggal di Kampung Penganduan Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pernah kekurangan air bersih pada tahun 2012. Hal itu disebabkan adanya alih guna lahan serta penebangan pepohonan di desa ini.
“Dari sebelum pabrik AQUA berdiri saja sudah terjadi kekeringan di desa kami. Hal tu disebabkan banyak pepohonan yang ditebang dan dibikin rumah serta vila-vila di dataran kami,” ujar Ketua Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) Desa Ciherang, Acep Nur Fitriana.
Dia menuturkan sebelum ada pembangunan rumah-rumah baru dan vila-vila di desanya, masyarakat masih bisa mengakses air bersih meskipun agak jauh jaraknya. Warga masih bisa menikmati air bersih meskipun masuk musim kemarau. Tapi, lanjutnya, pada sekitar tahun 2012, banyak warga yang menjual tanahnya ke pihak lain yang kemudian digunakan untuk membangun rumah-rumah besar dan vila.
Baca juga: Atasi Kekeringan Cadangan Air Bersih Semarang Kian Menipis
“Akibatnya, akses pengambilan air bersihnya jadi tertutup. Warga pun mulai merasa resah dengan kondisi tersebut,” tukasnya.
Kemudian, pabrik AQUA berdiri sekitar satu kilometer dari Desa Ciherang. Waktu itu, kata Asep, dia bersama warga lainnya pun mencoba mengajukan program kolaborasi.
Baca juga: Separuh Wilayah Indonesia Memasuki Musim Kemarau
“Yang kami ajukan hanya program saja bahwa kami punya gagasan ingin ada satu sumber air bersih di desa kami dan kami sama sekali tidak meminta anggaran,” ucapnya.
Gayung Pun bersambut. Menurut Asep, gagasannya disetujui dalam bentuk Sarana Air Bersih (SAB). Kemudian, pabrik tersebut bekerjasama dengan pihak ketiga, yaitu Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCI) untuk melakukan pengeboran air.
“Mulai dari pengeboran-nya, reservoir-nya, terus sama jalur, semua itu dari AQUA sendiri. Setelah jalur sudah beres, baru masyarakat dikumpulkan untuk memilih atau membuat panitia untuk mengelola sendiri sumber airnya. Alhamdulillah, kata Asep, hingga kini Desa Ciherang tidak pernah mengalami kekurangan air bersih lagi,” ucapnya.
Nursin dari YPCII mengutarakan kerja sama itu telah berhasil membangun sebanyak 14 sarana air bersih yang tersebar di sejumlah titik di Desa Ciherang Pondok dan juga Desa Ciderum. Untuk Desa Ciherang Pondok sendiri telah dibangun lima titik. Pihaknya pun meminta masyarakat penerima manfaat program bisa turut menjaga serta memelihara fasilitas yang telah diberikan agar bisa digunakan dalam waktu yang cukup lama.
Tidak hanya membantu penyediaan air bersih saja, pabrik juga membantu masyarakat dalam pengembangan UMKM. Adang yang tinggal di Desa Tangkil, mengaku merasakan bantuan yang diberikan terhadap keluarganya. Untuk menghidupi ekonomi keluarga, Adang memiliki usaha keripik pisang, singkong, dan talas. Dia mengaku sangat sulit untuk mendapatkan penghasilan karena keripik yang dititipkan di warung-warung susah lakunya. Dia mulai diberikan pelatihan bagaimana untuk membuat kemasan yang lebih menarik agar keripiknya bisa terjual dengan lebih mahal dan laku.
“Saya diberikan pelatihan untuk membuat produk keripik dengan berbagai rasa dan juga membuat kemasan yang menarik. Dengan adanya varian rasa dan kemasan yang lebih menarik, alhamdulillah penjualan keripik saya meningkat tajam. Harganya juga bisa jauh lebih mahal. Dulu, saya jualnya hanya Rp 3 ribu saja per 75 gramnya, sekarang saya bisa jual Rp 10 ribu per 75 gramnya,” tuturnya.
Dia juga mengatakan mendapat bantuan semua peralatan yang mempermudahnya dalam pembuatan keripik. Sebelumnya, dia membuat keripiknya dengan cara manual. “Alhamdulillah, berkat bantuan AQUA, saya bisa memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak bersama istri saya,” ujar Asep yang memiliki enam orang anak ini. (RO/Z-7)
Kecamatan Pauh dan Kuranji mengalami krisis air bersih akibat sumur mengering serta kerusakan bendungan dan irigasi pascabencana November 2025.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih di Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Jateng, Jatim, Kalsel dan Sulsel.
Ratusan pengungsi banjir di Aceh Tamiang mendesak bantuan air bersih dan MCK. PDAM rusak fatal, kondisi tenda pengungsian memprihatinkan.
Menurut anggota tim pengabdian Dr Imam Muslem, kegiatan tersebut dilakukan secara adaptif mengikuti dinamika pasca bencana.
BANJIR bandang dan tanah longsor yang puncaknya terjadi pada 26-27 November lalu sedikitnya telah meluluhlantakkan 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
ESKALASI bencana berupa banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) tidak dapat disederhanakan sebagai fenomena cuaca biasa.
Banjir kali ini lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya karena pembukaan lahan hutan semakin masif.
Larangan tersebut dikeluarkan dengan tegas setelah melalui hasil kajian bahwa di Bali alih fungsi lahan pertanian semakin terstruktur, sistematis dan masif.
KOMISI XII DPR mendorong Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengambil langkah lebih berani dalam merespons rangkaian bencana hidrometeorologi di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
BENCANA yang kini tengah melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sangat mungkin terjadi di wilayah Jawa Barat, bahkan bisa lebih parah.
Kementerian ATR/BPN mencatat Indonesia memiliki lahan baku sawah seluas 7,38 juta hektare yang terancam alih fungsi,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved