Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI di beberapa daerah mengeluhkan hasil produksi gabah kering giling dan gabah kering punggut yang menurun tajam lantaran gagal panen. Hal inilah yang menjadi penyebab kosongnya sejumlah penggilingan padi di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Pemilik penggilingan padi, Engkus, 66, warga Cicurug Bata, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya mengatakan, sejak tiga pekan terakhir penggilingan padi yang dioperasikan setiap hari ini tidak ada satu pun petani menjual gabah kering pungut lantaran karena mereka mengalami kerugian cukup besar.
Namun, hasil produksi yang didapatkan para petani pada musim kemarau selama ini menurun secara drastis karena terserang hama burung pipit, ulat, cuaca ekstrem dan petani sekarang juga banyak menyimpan gabah. "Gabah yang dimiliki para petani hanya bisa mengiling gabah seperlunya untuk kebutuhan sehari-hari dan mereka juga tidak berani menjual harga murah," katanya, Kamis (24/8).
Baca juga : Kemarau Rusak Hasil Panen Petani Cabai Rawit
Ia mengatakan, gabah yang dimiliki petani hanya bisa mengiling gabah seperlunya untuk kebutuhan sehari-hari karena produksi gabah yang mereka panen menurun drastis.
Penurunan gabah telah menyebabkan adanya petani rugi besar setelah hasi poduksi gabah mereka terserang hama dan cuaca ekstrem, imbas suplai air yang menyusut di puncak musim kemarau.
Baca juga : Doa dan Tata Cara Salat Istisqa untuk Meminta Hujan, Sesuai Sunnah Rasulullah
"Kami biasanya menerima harga gabah kering giling (GKG) Rp 5.500 perkg dan gabah kering punggut (GKP) Rp4.500 hingga Rp4.700 per kg dari para petani dan menampung hingga 1 ton lebih. Akan tetapi, sudah tiga pekan tidak ada petani yang menjual gabah hingga terpaksa penggilingan padi yang kami miliki sementara berhenti beroperasi sambil menunggu petani yang akan menggiling untuk kebutuhan sehari-harinya," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Gerakan Petani Mandiri Indonesia (GPMI) Jawa Barat, Yuyun Suyud mengatakan, kekeringan yang terjadi kurang lebih dua bulan hingga hasil produksi padi pada musim panen kedua anjlok dan hanya menghasilkan 45 persen.
Penurunan gabah, disebabkan suplai air untuk lahan persawahan semakin berkurang hingga lahan pertanian banyak terserang hama burung dan wereng coklat.
"Musim kemarau menjadi dampak turunnya hasil produksi gabah ditambah lagi serangan hama wereng coklat, burung susah diprediksi dan sulit diantisipasi. Namun, penurunan gabah minimnya pengairan lahan persawahan yang mana sudah terjadi di berbagai daerah termasuk di Jawa Barat mulai mengalami kekeringan berdampak gagal panen dan kebutuhan beras di pasaran merangkak naik," pungkasnya. (Z-4)
pemerintah harus mulai serius mengatur penggilingan padi kecil, penggilingan padi menengah, dan penggilingan padi besar agar tetap bisa hidup bersama.
Penggiling padi diminta untuk tetap memproduksi beras dan mensuplai ke pasar tradisional dan pasar modern dengan menepati syarat mutu seperti yang tertera dalam labeling di packaging.
kenaikan harga gabah dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium yang tidak berubah mendorong pihak-pihak tertentu untuk melakukan pengoplosan beras
Menurut Bupati, produktivitas pada musim tanam kedua tahun ini tidak lepas dari beberapa faktor pendukung.
PEMERINTAH mengklaim berhasil mencetak tonggak sejarah baru dalam penguatan ketahanan pangan nasional.
Ia menjelaskan, gabah yang diserap diwujudkan untuk bantuan pangan pada masyarakat.
MENTERI Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa seluas 4.000 hektare sawah terdampak puso akibat bencana di Pulau Sumatra.
RATUSAN hektare area persawahan di Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Bangka Belitung, kembali terendam banjir.
Kehadiran produk asuransi pertanian besutan BRINS ini dapat memberikan perlindungan nyata bagi petani.
Hal ini akibat tidak turunnya hujan di wilayah tersebut dalam dua bulan terakhir. Kondisi juga diperparah dengan mengeringnya sejumlah waduk dan embung di kawasan Pantura setempat.
Perhitungan kerugian petani akibat serangan hama tikus mencapai Rp10 juta-Rp15 juta per hektare.
PEMERINTAH Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mengimbau para petani agar menunda tanam padi guna mengantisipasi ancaman gagal panen (puso) akibat cuaca buruk dan bencana banjir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved