Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan bahwa dai dan daiah merupakan salah satu garda depan dan berperan penting dalam pencegahan radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama.
Hal itu disampaikan Deputi 1 Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Nisan Setiadi pada Sarasehan Dai dan Daiah Sulawesi Selatan di Makassar, Sulsel, Kamis (20/7).
"Intoleransi, radikalisme, dan terorisme masih jadi ancaman laten dan potensial yang tidak bisa dihadapi secara parsial, tetapi butuh keterlibatan multipihak. Dalam kaitan ini, penting pelibatan dai dan daiah yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dan umat," ujar Nisan seperti dikutip Antara di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan BNPT memiliki tiga strategi pencegahan radikalisme dan terorisme, yaitu kesiapsiagaan nasional, kontraradikalisasi, dan deradikalisasi. Pelibatan dai dan daiah, sambung dia, merupakan bagian dari strategi kontraradikalisasi, yang di dalamnya terdapat kontraideologi, kontranarasi, dan kontrapropaganda.
Oleh sebab itu, Nisan mendorong agar para dai dan daiah menyampaikan Islam yang moderat saat berdakwah. "Dai dan daiah berperan penting memperkuat imunitas masyarakat agar tidak terpapar virus intoleran, radikalisme, dan terorisme. Oleh karena itu, dai dan daiah saat berdakwah bisa menyampaikan Islam yang moderat atau wasathiyah, rahmatan lil alamin, dan Islam yang akhlakul karimah," ujarnya.
Dalam pandangan Nisan, intoleransi, radikalisme, dan terorisme merupakan virus, layaknya covid-19. Siapa, di mana, dan kapan
pun dapat terpapar tanpa memandang latar belakang ekonomi, profesi, maupun pendidikan.
Ia menilai penyebaran ideologi intoleransi, radikalisme, dan terorisme lebih membumi daripada komunisme. Pasalnya, radikalisme dan terorisme menawarkan bahagia dunia akhirat dengan mati syahid dan dijanjikan surga, sedangkan komunisme hanya menawarkan kebahagiaan dunia.
"Mereka membajak agama melalui ayat-ayat kitab suci, seolah-olah itu perjuangan jihad dan menghalalkan kekerasan. Mereka itu sering menyalahtafsirkan masalah agama untuk kepentingan meradikalisasi masyarakat," kata Nisan.
Baca juga: Hadi Tjahjanto: PTSL Kuatkan Ekonomi Rakyat Sumatra Utara
Pada hakikatnya, lanjut dia, dakwah bertujuan mengajak dan mendorong umat untuk berbuat kebaikan. Oleh sebab itu, dakwah harus dengan cara santun dan baik agar mampu merebut hati rakyat.
"Jangan ada dai dan daiah dalam dakwah itu memprovokasi, mengadu domba, dan menjelekkan pemerintah yang ujungnya selesai pengajian masyarakat malah hatinya panas, dan ingin berbuat melawan pemerintah," kata dia.
Nisan memandang perlu BNPT bersama Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan ormas Islam bekerja sama dan bersinergi dalam meningkatkan kompetensi dai dan daiah dalam mencegah paham intoleran, radikalisme, dan terorisme tersebut.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan itu, antara lain, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, Direktur Pencegahan BNPT Irfan Idris, Ketua Umum MUI Sulsel KH Nadjamuddin, dan Kepala Urusan Agama Islam Kemenag Sulsel Wahyudin Hakim.
Nasaruddin Umar mengapresiasi BNPT atas digelarnya kegiatan tersebut. Menurut dia, sarasehan dai dan daiah adalah upaya yang bagus dalam memperkuat upaya pencegahan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di Tanah Air.
"Saya ucapkan selamat kepada BNPT mampu menghimpun dan mengumpulkan penguasa-penguasa mimbar di Sulsel ini. Saya senang karena materi dan peserta kegiatan ini sangat luar biasa. Ini orang pintarnya Sulsel berkumpul di sini. Ini prestasi tersendiri bagi BNPT," ujarnya.
Diaa berharap BNPT bisa menggelar kegiatan serupa di tempat lain dengan merangkul para dai dan daiah sebab pemberian informasi seputar pencegahan radikalisme dan terorisme kepada pendakwah penting.
"Semoga ke depan BNPT terus menemukan cara terbaik untuk menyelamatkan warga, bangsa, dan umat dari berbagai macam aspek-aspek negatif daripada radikalisme dan terorisme," katanya. (Ant/I-2)
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gimĀ online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Mandat tersebut juga ditegaskan kembali dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI.
Al Araf menilai draft Peraturan Presiden tentang Tugas TNI dalam Mengatasi Terorisme yang saat ini beredar mengandung persoalan inkonstitusional
Dengan posisi yang masih berupa draf, pembahasan mendalam belum dapat dilakukan, apalagi untuk menentukan sikap politik lembaga legislatif.
Aturan tersebut wajib memiliki batasan yang jelas agar tidak mencederai hak asasi manusia (HAM).
Ancaman terorisme saat ini semakin kompleks, terutama dengan adanya situasi ketidakpastian global yang rentan menjadi lahan subur ideologi kekerasan.
Urgensi peran militer semakin tinggi jika aksi terorisme sudah melibatkan aktor lintas negara (transnasional) dalam melancarkan serangannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved