Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengemukakan dari hasil monitoring jumlah gempa susulan sampai pukul 17.50 Wita tercatat sebanyak 19 kali kejadian setelah gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Laut Maluku sekitar pukul 13.06.14 WIB.
"Semua gempa susulan tersebut tidak dirasakan," kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado Edward Henry Mengko di Manado, Rabu (18/1).
Edward menjelaskan gempa terjadi karena ada batuan yang patah di lokasi pusat gempa. Patahnya batuan ini karena ada energi yang terakumulasi akibat pergeseran lempengan.
Titik pertemuan antara lempeng yang bergerak dan lempeng diam, lama kelamaan akan terjadi penumpukan energi dan menyebabkan ada batuan yang pecah atau patah.
"Kenapa harus ada gempa susulan setelah gempa besar, karena untuk batuan di sekitar mencapai kestabilan agar tidak patah lagi," ujarnya.
Baca juga: Satu Rumah di Maluku Utara Ambruk akibat Gempa
Apabila mencapai kestabilan, aktivitas gempa susulan akan berhenti.
"Stabil bukan berarti tidak ada gempa lagi, karena itu daerah pertemuan lempeng suatu saat apabila energi terkumpul dan ketika bergerak terus akan terlepas lagi," ujarnya.
Pukul 13.06.14 WIB wilayah Laut Maluku diguncang gempa tektonik, hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo 7,0.
Episenter gempa terletak pada koordinat 2,80 LU, 127,03 BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 124 kilometer arah selatan Melonguane pada kedalaman 71 kilometer.
BMKG menyebutkan gempa tektonik magnitudo 7,0 (setelah diperbarui) yang terjadi di selatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, akibat deformasi batuan dalam lempeng Laut Maluku. (Ant/OL-16)
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa Sumba tersebut terjadi pada pukul 18.41 WIB.
DUA bangunan rumah warga di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan rusak terdampak gempa 4,2 magnitudo, Minggu (15/3). Kedua bangunan itu berada di dua lokasi berbeda.
BMKG melaporkan gempa bumi tektonik di Laut Selatan Sukabumi, Jawa Barat hari ini 13 Maret 2026 dini hari pukul 02.18 WIB. berdasarkan BMKG gempa terkini itu tak berpotensi tsunami
Gempa bumi 5,4 magnitudo yang terjadi berpusat di Kota Sukabumi kedalaman 43 kilometer tidak berpotensi tsunami.
BMKG mencatat sedikitnya 20 gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,1 hingga 4,1 terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa (10/3) dini hari.
Menurut BMKG, gempa Sukabumi itu berada di 7.62 LS dan 106.41 BT, 71 kilometer dari barat daya Kabupaten Sukabumi, atau tepatnya ada di 26 kilometer laut.
Jauh di bawah Samudra Atlantik, terdapat King’s Trough Complex, sistem parit raksasa sepanjang 500 km. Ilmuwan kini temukan penyebab terbentuknya ngarai ini.
BMKG memproyeksikan intensitas kegempaan tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2025 yang mencatat angka fantastis.
Gempa bumi adalah fenomena alam yang sering kali datang tanpa peringatan, mengguncang permukaan bumi dan meninggalkan jejak kerusakan yang tak jarang memakan korban jiwa.
BUMI memiliki sejumlah lapisan dengan struktur yang unik. Salah satu lapisan Bumi ialah inti bumi, yang merupakan pusat Bumi yang sangat panas dan padat. Ada kemungkinan inti bumi bocor.
Gempa bumi berkekuatan 6,0 melanda wilayah Fukushima di timur laut Jepang pada Kamis (4/4). Badan Meteorologi Jepang tidak mengeluarkan peringatan tsunami.
Indonesia dan Jepang memiliki kesamaan dalam hal bencana gempa karena berada di kawasan cincin api (ring of fire). Namun, kesiapan masyarakat Jepang terhadap bencana lebih mumpuni.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved