Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid mengatakan upaya membumikan Pancasila untuk mencegah radikalisme dan intoleransi diperlukan demi menguatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Halaqah Kebangsaan ini kita lakukan untuk membangun spirit kebangsaan dan spirit keberagaman yang artinya bahwa berbangsa, bernegara harus selalu digelorakan dengan selalu mencintai, menghormati, memegang teguh konsensus nasional yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, serta NKRI harga mati," ungkap Nurwakhid seperti dilansir Antara di Jakarta, Selasa (6/9).
Menurut dia, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara harus senantiasa diamalkan di tiap sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam upaya menegakkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.
Ia menegaskan pentingnya membangun kesiapsiagaan nasional yang berisi kontra radikalisasi, kontra narasi, kontra propaganda untuk diimplementasikan masyarakat sebagai pertahanan diri agar selalu siap siaga dalam menjaga Tanah Air.
"Masyarakat harus militan untuk menjadi buzzer dalam kontra radikalisasi yaitu dengan menggelorakan cinta Tanah Air, cinta Pancasila, cinta NKRI, cinta Bhinneka Tunggal Ika, serta mencintai perdamaian, mencintai persatuan, dan selalu waspada terhadap bentuk radikalisme terorisme yang mengatasnamakan agama, liberalisme, kapitalisme dan sebagainya," ujarnya dalam acara Halaqah Kebangsaan dengan tema 'Membumikan Pancasila dalam Sendi-Sendi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara' di Pondok Pesantren KHA Wahid Hasyim Bangil 1, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (5/9).
Nurwakhid menambahkan, bangsa Indonesia diharapkan tidak hanya selalu membangun badannya, atau fisik atau infrastruktur, tetapi juga membangun jiwa.
Baca juga: Di Hadapan Ribuan Mahasiswa, Ganjar Ajarkan Semangat Anti Korupsi
"Bangunan jiwa, bangunan badan adalah spiritualitas, iman dan taqwa, tetapi juga harus iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Artinya perpaduan antara spiritualitas dan profesionalitas itulah yang akan memajukan bangsa Indonesia guna mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional," sambungnya.
Nurwakhid mengapresiasi kegiatan yang diinisisasi oleh Polres Pasuruan yang bekerja sama dengan Pondok Pesantren KHA Wahid Hasyim Bangil dan beberapa pemangku kepentingan terkait yang ada di Pasuruan. Menurutnya kegiatan ini sangat luar biasa.
"Harapan kita semua Forkopimda terutama Polres Pasuruan untuk meresonansi atau memberikan fasilitas dan koordinasi kepada pemangku kepentingan terkait yang ada di sini dan mentransformasikan kepada masyarakat. Karena polisi di sini adalah sebagai pelayan, pengayom pelindung masyarakat dan penegak hukum," harapnya.
Nurwakhid berpesan kepada seluruh peserta yang hadir agar jangan mudah dipolitisasi agama oleh kelompok apa pun.
"Ingat politisasi agama adalah pemicu utama di dalam radikalisme dan terorisme, maka hilangkan semua bentuk politik identitas maupun politisasi agama," tegasnya
Pada kesempatan yang sama, pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan menjelaskan bahwa hari ini masyarakat sudah terancam bahkan sudah teradu domba antarsuku antaragama.
"Ini yang harus menjadi perhatian dan kesadaran. Kita sekarang sudah dikepung dari segala penjuru. Oleh karena itu saatnya kita kembali kepada Pancasila, karena Pancasila sudah finish bukan final, karena Pancasila sudah sesuai dengan agama, tidak ada satu pun yang bertentangan," jelas Ken.
Ken berharap masyarakat kritis terhadap informasi yang terima. Jangan sampai menjadi korban hoaks atau bahkan menjadi pelaku karena turut menyebarkan informasi yang salah akibat salah belajar agama.
"Tolok ukur beragama adalah akhlak. Kalau kita belajar agama ternyata kita menjadi pemarah, berarti kita belajar dengan guru yang salah. Stop, unfollow, jangan ikuti, kalau diikuti kita bisa terpapar," katanya. (Ant/OL-16)
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved