Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMENUHAN hak dan perlindungan khusus terhadap anak masih menjadi pekerjaan rumah bagi Sumatra Utara. Hal ini dilihat dari masih minimnya jumlah sekolah ramah anak.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sumut Nurlela mengatakan provinsinya masih membutuhkan lebih banyak lagi unit pendidikan berstatus sekolah ramah anak (SRA).
"Baru 1.956 sekolah di Sumut yang diinisiasi sebagai sekolah ramah anak," ungkapnya, Kamis (2/6).
Jumlah itu hanya sebanyak 6,84% dari total jumlah sekolah di Sumut yang mencapai 28.590 unit pendidikan. Baik sekolah swasta maupun negeri dan mulai dari tingkat PAUD hingga SLTA.
Padahal, menurut dia, SRA sangat penting bagi pemenuhan hak dan perlindungan khusus terhadap anak. SRA merupakan satuan pendidikan formal, nonformal dan informal yang mampu memenuhi hak dan perlindungan khusus.
"Termasuk mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan," imbuhnya.
Baca juga: PGRI Minta Guru Ciptakan Sekolah Ramah Anak
Dia memaparkan, diperlukan upaya menciptakan suasana kondusif dan paritisipatif agar peserta didik merasa nyaman. Faktor penting yang perlu diperhatikan pihak sekolah adalah partisipasi aktif anak terhadap berbagai kegiatan yang diprogramkan, sesuai kebutuhan.
Jika suasana tersebut dapat tercipta, maka kondusifitas lingkungan akan mendukung tumbuh kembang potensi anak karena keleluasaan berekspresi. Karena itu dibutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat yang sebenarnya menjadi pendidikan terdekat.
"Lingkungan yang mendukung, akan memberi rasa aman dan nyaman bagi anak," tambah dia.
Dia juga mengatakan, sekolah memiliki peran penting dalam pemenuhan hak anak atas pendidikan. Karena itu penyelenggaraan SRA, yang merupakan indikator kabupaten dan kota layak anak, perlu dilakukan lebih proaktif.
Terlebih, perlindungan terhadap potensi kekerasan harus dapat diberikan oleh pengelola sekolah, termasuk lingkungannya. Untuk itu perlu dibangun persepsi sekolah ramah anak dengan menciptakan suasana belajar dan pembelajaran tepat guna.(OL-5)
IDUL Fitri baru saja kita rayakan. Selama sebulan, kita berlatih menahan diri dan mempertajam empati.
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
PENGAMAT dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji menilai wacana pembelajaran jarak jauh atau PJJ maupun work from home atau WFH tak berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah tidak hanya menyasar perluasan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, tetapi juga menjadi motor penciptaan lapangan kerja
Di terminal bus, pelabuhan, dan bandara, kita menyaksikan jutaan orang melakukan eksodus yang secara kultural disebut mudik
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menegaskan bahwa Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya sekadar menjadi tempat belajar.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menegaskan bahwa satuan pendidikan harus ramah anak, sehingga anak mendapatkan haknya atas pendidikan secara utuh.
Workshop yang digelar di Sang Timur, Sabtu (19/10) ini merupakan tahap ketiga workshop perlindungan anak yang diinisiasi Yayasan Karya Sang TImur.
Bunda, sedang bersiap menyekolahkan si kecil? Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar anak mendapatkan pendidikan terbaik untuk mengoptimalkan potensi mereka.
Tim dosen Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melaksanakan Psikoedukasi Sekolah Ramah Anak (SRA) di Bogor, Jawa Barat.
Direktur Sekolah Prestasi Global, Faisal mengungkapkan rasa syukur dan bangga dan terima kasih kepada Unit TK atas apa yang sudah diraih pada lomba SRA (Sekolah Ramah Anak).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved