Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendesak pemerintah segera mengakhiri pemutusan listrik di Desa Wadas, Jawa Tengah. Trauma masyarakat jangan terus dibiarkan berlarut-larut oleh negara.
"Meminta kepada PLN agar segera menghidupkan kembali aliran listrik ke Desa Wadas sehingga warga dapat kembali berkegiatan dengan normal. Aksi sepihak PLN mematikan listrik di Desa Wadas sejak hari Senin (7/2) merupakan tindakan dzalim dan melanggar UU Perlindungan Konsumen," ujar Ketua PP GP Ansor Luqman Hakim dalam keterangannya, Sabtu (12/2).
Menurut dia Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor turun langsung ke lokasi konflik di Desa Wadas. LBH Ansor memperoleh banyak data dari warga yang pro dan kontra pembebasan lahan.
"LBH Ansor juga bertemu dan melakukan wawancara terhadap beberapa warga yang pernah ditangkap polisi," katanya.
Baca juga: Wadas Memanas, Kompolnas Bantah Polisi Kembali ke Era Orba
Ia mengatakan LBH Ansor mendirikan Posko Advokasi LBH Ansor untuk Keadilan Warga Wadas. Beberapa kondisi yang terjadi di Desa Wadas yakni banyak warga yang masih trauma atas peristiwa pengepungan, penangkapan dan penahanan warga oleh aparat polisi.
"Masih sangat banyak polisi berjaga dengan senjata lengkap dan membawa anjing pelacak (K-9). Listrik PLN masih padam. Sudah sejak hari Senin (7/2) listrik dimatikan oleh PLN," jelasnya.
Menurut dia sinyal seluler juga sulit diperoleh menyebabkan informasi dari Desa Wadas tidak mudah diakses. Maka Desa Wadas masih terisolir.
Sebagai kader NU yang mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah VI di DPR RI dari Fraksi PKB, dimana di dalamnya termasuk Desa Wadas Kec. Bener Kab. Purworejo, ia meminta kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk segera merealisasikan komitmennya menarik seluruh pasukan polisi dari Desa Wadas dan sekitarnya.
"Penarikan pasukan ini penting untuk mengurangi faktor traumatik warga," tuturnya.
Luqman juga menghimbau kepada semua pihak yang peduli untuk ikut memberi pendampingan psikologis guna menghilangkan trauma warga Desa Wadas. Trauma tidak hanya dialami warga yang pernah ditangkap polisi, tetapi juga warga lainnya, termasuk anak-anak.
"Meminta kepada provider telekomunikasi seluler agar segera menormalkan kembali sinyal seluler di Desa Wadas. Mematikan jaringan seluler di Desa Wadas merupakan tindakan sewenang-wenang, merugikan konsumen dan menghalangi warga mendapatkan keadilan," pungkasnya. (OL-4)
Menjelang 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.
Kondisi lingkungan yang lembap dan air yang menggenang dapat menjadi media penghantar arus listrik dari instalasi yang tidak terlindungi.
Peristiwa tragis ini terjadi saat keduanya berada di dalam rumah ketika air sungai tiba-tiba meluap dan masuk ke pemukiman dengan cepat.
Dua dari tiga korban merupakan pasangan suami istri berinisial HW, 54, dan NJ, 49.
Selain keberadaan bengkel, ketersediaan infrastruktur pengisian daya menjadi krusial.
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan masih terjadi pemadaman listrik bergilir di empat kabupaten di Provinsi Aceh pascabencana banjir bandang
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved