Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Tetap Bersatu dalam Perbedaan

(Tosiani/Bagus Suryo/N-4)
23/5/2016 01:50
Tetap Bersatu dalam Perbedaan
(ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

MS Sin Vandara terpana menyaksikan pertunjukan angklung dan drama musikal tentang kelahiran Pangeran Siddharta atau Buddha Sakyamuni saat perayaan Waisak 2560 BE di Taman Lumbini, Kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (21/5) malam. Berkali-kali warga Kamboja itu melempar senyum ke sekelilingnya sambil berucap 'menakjubkan', meskipun saat itu ia harus duduk berimpit dengan ribuan umat Buddha lainnya di tengah guyuran hujan. "Ini luar biasa besar, menakjubkan," ujar Van, sapaan akrab Ms Sin Vandara. Puluhan ribu orang yang memenuhi pelataran candi membuatnya takjub. Mereka berasal dari berbagai sekte yang memang berbeda-beda, mendirikan tenda-tenda dan menggelar upacara Waisak dengan cara yang berbeda. Tiap sekte pun membacakan parita-parita suci dalam bahasa yang berbeda dan cara yang berbeda pula. Van sendiri mengaku berasal dari sekte Theravada.

Ia datang ke Indonesia untuk menghadiri International Borobudur Buddhist Conference yang diselenggarakan sejak Kamis (19/5) lalu. "Di Kamboja, juga ada perayaan Waisak, tapi belum pernah sebesar ini. Di sana biasanya hanya ada upacara di pagoda maupun wihara," serunya. Menyaksikan Waisak di Indonesia merupakan pengalaman luar biasa Van yang datang bersama beberapa temannya. Berbagai ritual telah diikutinya, mulai dari pengambilan air berkah di Umbul Jumprit di Kabupaten Temanggung, pengambilan api abadi Mrapen di Grobogan, ritual Pindhapata, hingga upacara di Candi Mendhut. Van juga berkesempatan menyaksikan Pradaksina, semacam napak tilas perjalanan Buddha dengan menempuh jalur dari Candi Mendhut ke Candi Borobudur.

Setelah kembali ke negaranya, ia berniat membagikan kisah perjalanannya itu kepada teman-teman dan saudaranya di Kamboja. Di sisi lain, insiden kecil antara petugas pengamanan, panitia Waisak, dan sejumlah wartawan menjadi catatan penting. Menjelang acara pelepasan lampion bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, panitia mengenakan biaya Rp100 ribu kepada sebagian jurnalis. "Jika memang diperlakukan sebagai pengunjung, mestinya saya juga mendapatkan lampion. Namun, saya hanya mendapatkan satu kantong plastik untuk alas duduk," ujar seorang pewarta foto, Suryo Wibowo.

Ritual dan doa merayakan Waisak juga dilakukan oleh Suku Tengger di lereng Gunung Bromo di pelataran Candi Sumberawan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (22/5). Candi Sumberawan yang terletak di Desa Toyomarto menjadi tempat berkumpul bagi umat semua agama, sebab kawasan itu juga menjadi destinasi wisata. Karena itu, Ketua Adat Tengger Desa Ngadas, Malang, Ngatono, mengatakan akan mengundang umat beragama lainnya seperti Islam, Hindu dan Kristen, agar berkumpul bersama saat Dharma Santi Waisak. "Waisak tahun ini untuk menguatkan ajaran welas asih. Tidak hanya sekedar ucapan, tapi juga diterapkan secara nyata," tegasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya