Kamis 30 September 2021, 08:15 WIB

Perokok Berkurang Petani Tembakau Kian Tertekan

Ardi T Hardi | Nusantara
Perokok Berkurang Petani Tembakau Kian Tertekan

Antara
Petani tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

 

NASIB para petani tembakau kian tertekan karena berbagai masalah yang dihadapi, mulai dari rencana dinaikkannya cukai hasil tembakau hingga
dampak musim kemarau basah yang membuat kualitas tembakau turun.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno menyatakan, tekanan terhadap Industri Hasil Tembakau dan Petani Tembakau semakin tidak ringan. "Kita didera kebijakan-kebijakan yang tidak menguntungkan petani tembakau," kata dia dalam Munas IV APTI di Sleman, DIY, Rabu (29/9).

Ia mencontohkan, rencana penaikan cukai hasil tembakau (IHT). Seolah-olah cukai dibebankan kepada konsumen dan menjadi masalah bagi industri.

Padahal, IHT memiliki rantai yang panjang, dari petani, buruh, perusahaan, hingga pengasong. "Pada akhirnya, naiknya cukai imbasnya sangat dirasakan petani," kata dia.

Soeseno menjabarkan, naiknya cukai hasil tembakau membuat harga rokok naik, prevelensi merokok turun, serapan tembakau turun, banyak tembakau yang tidak terserap, hingga harga tembakau turun.

Ia menyebut, akibat naiknya cukai hasil tembakau, peredaran rokok turun sekitar 10 persen dari 304 miliar batang setahun, turun sekitar 30 miliar
batang setahun. Jika sebatang diandaikan 1 gram, sekitar 30 ribu ton tembakau tidak terserap akibat naiknya cukai hasil tembakau.

"Kalau terus-menerus seperti ini (cukai hasil tembakau naik), pertanian tembakau terus ditekan," kata dia. Terlebih, pada 2022, cukai hasil tembakau rencananya dinaikkan menjadi 203 triliun atau sekitar 12,5 persen.

Selain kebijakan penaikan cukai hasil tembakau, petani tembakau pada tahun ini juga tertekan karena musim kemarau basah, mengakibatkan kualitas tembakau turun dan harga tembakau turun.

Ketua DPD APTI DIY, Djuwari menyatakan, harga tembakau saat ini jatuh sekitar 30 persen. Ia menyebut, tembakau perkilogram level A hanya Rp19 ribu, level B Rp25 ribu, dan level C Rp47 ribu.

"Kerugian petani sangat banyak karena normalnya, harga tembakau mencapai Rp70 ribu perkilogram," kata dia. Para petani tetap menanam tembakau karena mereka memiliki kenangan manis, pernah merasakan harga tembakau menyentuh Rp250 ribu perkilogram.

Ketua DPC APTI Temanggung, Siyamin juga menyatakan hal senada. Ia merinci, biaya yang dikeluarkan untuk menanam tembakau mencapai Rp40 juta perhektar.

Padahal, hasil tembakau dari sehektar lahan tidak sampai satu ton. "Dengan harga tembakau Rp45 ribu perkilogram. jelas petani rugi," terang dia.

Sekjen APTI, Muhdi menyampaikan, pihaknya terus menyerukan kepada pemerntah untuk tidak jadi menaikkan cukai hasil tembakau agar petani semakin tertekan. "Kami juga mendorong agar road map IHT ini juga dapat berpihak kepada petani tembakau," tutup dia. (OL-13)

Baca Juga: Tetap Berdaya di Tengah Keterbatasan

 

Baca Juga

Dok PT Pos Indonesia

PT Pos Indonesia Jalin Kerja Sama Dengan Kementerian PPN/Bappenas

👤Naviandri 🕔Kamis 19 Mei 2022, 15:23 WIB
PT Pos Indonesia (Persero) menyepakati kerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas tentang pemanfaatan layanan jasa...
MGN/Khairul Anam

Pengikut Aliran Kelompok Mahfudijanto di Pasuruan Bertobat

👤Khairul Anam (MGN), Muhardi (SB) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 15:07 WIB
Mereka juga membaca istighfar dan dua kalimat syahadat sebanyak tiga kali sebagai tanda mereka...
MGN/Darbe Tyas

BMKG Cilacap: Awas, Gelombang Tinggi di Samudra Hindia Capai 4 Meter Lebih

👤Darbe Tyas (MGN), Yuchri Prabudi (SB) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 14:56 WIB
PERINGATAN gelombang tinggi di wilayah perairan Samudra Hindia diberikan oleh Badan Meteoraologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya