Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH jembatan penghubung kecamatan di Empat Lawang, Sumatra Selatan roboh usai diterjang banjir luapan dari Sungai Musi. Padahal jembatan ini masih dalam progres pengerjaan oleh Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional wilayah Sumsel.
Bahkan disebutkan jembatan ini masih dalam tahapan pembangunan dan progresnya masih mencapai 35 persen. "Jembatan yang sedang dibangun ini
roboh akibat adanya luapan air Sungai Musi yang mengenai badan jembatan. Akibatnya bangunan jembatan roboh dan terbawa aliran sungai yang deras,"
ujar Kapolres Empat Lawang, AKBP Wahyu, Selasa (23/3).
Ditambahkan Kapolsek Ulu Musi, Hermansyah menjelaskan peristiwa jembatan roboh itu terjadi Rabu (23/) dini hari sekitar pukul 03.40 WIB. Namun
beruntung dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa.
"Kejadiannya subuh tadi sekitar pukul 04.40 WIB tidak ada korban jiwa, untuk total kerugian belum ditaksir. Kejadiannya di Desa Padang Tepong
Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang telah terjadi bencana alam naiknya debit air Sungai Musi (kiriman dari Hulu Kabupaten, Kepahyang
Provinsi Bengkulu). Mungkin disana hujan deras," terangnya.
Menurutnya, karena debit air yang cukup tinggi diduga yang menjadi penyebab robohnya jembatan tersebut. "Akibat naiknya debit air sehingga steger
(tiang) penyangga rangkaian jembatan tergerus air sungai yang meningkat sehingga rangkaian jembatan roboh ke sungai musi," ungkap dia.
Pembangunan jembatan sendiri, kata dia, diperkirakan sudah berjalan 35 persen, sebelum akhirnya roboh diterjang luapan air sungai.
"Pemasangan rangkaian jembatan penghubung Kec Ulu Musi menuju ke Kecamatan Paiker sudah mencapai lebih kurang 35 persen sebelum roboh. Pembangunan jembatan ini yang dimulai pembangunannya pada bulan Mei 2020 lalu," jelas Hermansyah.
Camat Ulu Musi, Saili menyebut pasca robohnya jembatan yang dibangun dengan dana APBN tersebut, pihaknya langsung melakukan peninjauan di lokasi
kejadian dan menggali informasi penyebab robohnya jembatan yang belum 100 persen selesai itu.
"Saat meninjau lokasi, kita dapat informasi dari konsultan pengawas, tiang penyangga jembatan yang dibangun dengam dana APBN itu ambruk akibat
diterjang oleh meluapnya sungai musi berikut material sampah kayu dan sebagainya yang tersangkut di tiang penyangga tersebut," ungkap Saili.
Jembatan tersebut, apabila rampung nantinya akan menghubungkan Kecamatan Ulu Musi dan Kecamatan Paiker, namun sebelum adanya jembatan ini warga setempat harus keliling terlebih dahul melewati jembatan alternatif.
"Walaupun jembatan itu belum bisa difungsikan, masih ada jalan anternatif yakni melewati jembatan puntang, namun warga harus menempuh jarak sekitar 6
kilometer menuju jembatan puntang tersebut, atau bisa juga lewat simpang perigi," ungkapnya.
Sebagai alternatif sementara, lanjutnya, warga sekitar yang enggan berkeliling sejauh enam kilometer, menyebrang sungai musi dengan menggunakan perahu rakit. "Alternatif warga sekitar yang mau buru-buru menyebrang ada juga yang menggunakan rakit ponton," kata dia.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Sumsel, Kiagus Syaiful Anwar mengatakan, robohnya jembatan tersebut akibat banjir
bandang akibat hujan terus menerus yang terjadi di wilayah Bengkulu atau hulu sungai.
"Robohnya karena banjir bandang," kata dia. Pihaknya sudah mengambil langkah cepat untuk menangani kejadian tersebut.
"Penanganannya akan dibongkar dulu, kemudian dipasang yang baru," kata dia. Meski mengalami kerugian cukup besar, namun pihaknya memastikan bahwa
pembangunan jembatan ini diasuransikan. Sehingga tidak begitu membuat pihaknya rugi besar. "Karena ini diasuransikan," pungkasnya. (OL-13)
WARGA Desa Aek Nabara, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, harus berjibaku menyelamatkan diri setelah banjir besar di Sumut yang memutus akses utama desa
Warga menyeberangi Jembatan Bontotallasa yang ambruk di Dusun Pakere, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
Warga bersama siswa menggunakan jasa rakit penyeberangan untuk melintasi Sungai Krueng Nagan yang menghubungkan Desa Latong dengan Desa Alue Buloh, Aceh.
Hujan dengan intensitas sedang yang terjadi mengakibatkan peningkatnya debit air sungai tinggi serta terkikisnya fondasi jembatan penghubung 4 desa.
Perbaikan mulai dilakukan pada Jumat (7/2). Perbaikan ini dilakukan karena kondisi jembatan yang memiliki panjang delapan meter dan lebar 1,5 meter ini sudah rusak dan nyaris ambruk.
JEMBATAN Mondokan, yang merupakan jembatan kuno peninggalan Belanda di Dukuh Winong, Desa Winong, Kecamatan Gondang, pada Minggu malam (15/12) putus dihantam banjir.
Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) disebut menjadi faktor utama terjadinya banjir bandang di sejumlah wilayah Kabupaten Pohuwato, Gorontalo
Selain itu, perhatikan tanda alam seperti awan Cumulonimbus yang berbentuk seperti bunga kol berwarna gelap, yang seringkali menjadi penanda akan terjadinya hujan lebat disertai petir.
Selain kebutuhan primer, salah satu yang juga dibutuhkan warga Aceh Tamiang adalah bantuan untuk memperbaiki kendaraan yang rusak akibat banjir.
BANJIR lumpur dan galodo yang kembali melanda sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatra Barat, tidak mengalihkan perhatian warga pesisir dari ancaman bencana lain yang tak kalah berbahaya.
Tanggul Sungai Bremi di Pekalongan jebol Rabu pagi (7/1). 335 KK terdampak banjir mendadak setinggi 1 meter, BPBD lakukan penanganan darurat
BANJIR di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro, Sulawesi Utara, yang terjadi mulai Senin (5/1) dini hari menewaskan 16 orang, sementara tiga warga lainnya hilangĀ
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved