Senin 22 Maret 2021, 10:38 WIB

Petani Manggarai Barat Ogah Jual Beras ke Bulog

John Lewar | Nusantara
Petani Manggarai Barat Ogah Jual Beras ke Bulog

MI/John Lewar
Petani di Manggarai Barat lebih memilih menjual ke pasar atau disimpan daripada dijual ke Bulog karena harga ditawarkan rendah.

 

PETANI di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur enggan menjual gabah dan berasnya ke Bulug karena harganya rendah. Sejumlah petani di persawahan Kecamatan Lembor, Manggarai Barat mengatakan mereka enggan menjual beras dan gabah ke Bulog karena harganya lebih rendah dibandingkan harga jual di pasar.

"Kami enggan menjual gabah dan beras ke Bulog karena harganya sangat rendah. Bisa-bisa petani rugi jauh kalau dikalkulasikan dengan total pengeluaran setiap hari. Saya yakin para petani lainnya menolak menjual ke Bulog baik beras maupun gabah," kata Firmus Jebain Yohanes kepada mediaindonesia.com, Senin (22/3).

Menurutnya, harga beras yang dipatok Bulog Rp8.300 per kg sementara harga beras dijual di pasar rata-rata Rp12.300 per kg. Perbedaan Rp4000 per kg ini membuat petani tertarik menjual ke pasar daripada ke Bulog. 

Bila pemerintah benar-benar memperhatikan jerih payah petani, maka harga jual beras dan gabah harus mendekati harga jual di pasar. Petani lainnya, Lambertus Sakarias dari Kecamatan Kuwus Barat mengatakan kemungkinan besar petani tidak menjual beras mereka ke Bulog, dan memilih menjual ke pasar karena perbedaan harga jual beras yang cukup tinggi.

"Saat ini saja beras ladang khusus beras merah dijual di pasar seharga Rp15.000/kg. Tentu beras jenis lain juga ikut naik,seperti roslin, IR, Meramo harganya di atas Rp12 ribu per kg," terang Lambertus.

Petani memilih menyimpan beras di lumbung untuk ketahanan pangan, dan sebagian dijual ke pasar atau warga sekitar bukan ke Bulog. 

Tokoh masyarakat Bari, Petrus Jeman menjelaskan pada tahun ini petani di Kabupaten Manggarai Barat mengalami krisis pasokan pupuk. Berarti akan terjadi penurunan produksi gabah dan beras. Petani cenderung menyimpan beras di rumah karena untuk cadangan pangan selama pandemi. 

"Pandemi korona belum berakhir sehingga petani cenderung mengamabkan stok beras. Dan kondisi alam saat ini belum memasuki musim panen sehingga petani enggan menjual beras atau gabah saat ini," jelas Petrus.

baca juga: Harga Beras Anjlok di Sejumlah Daerah Bekas Banjir Jateng

Kepala Subdivre Bulog Manggarai Baratm Zulkarnaen mengatakan target pembelian beras tahun ini 90 ton. Pihaknya masih menjajaki ke tingkat petani menjelang masa panen. 

"Persoalan di Manggarai Barat, panen tidak serempak di masing-masing kecamatan. Dan Bulog hanya akan membeli beras dari petani dengan harga beli Rp8.300 per kg," pungkasnya. (OL-3)

Baca Juga

Ist/BP Batam

Kepala BP Batam Lantik Pejabat Struktural Badan Usaha Bandar Udara dan Pelabuhan

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 29 Juni 2022, 07:34 WIB
Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, mengatakan, pelantikan ini merupakan implementasi dari SK BP Batam Nomor 95 Tahun...
dok.ist

Sikap Petani Di Bergas Lor Curi Perhatian Ganjar

👤Haryanto 🕔Rabu 29 Juni 2022, 07:10 WIB
ADA peristiwa tak terduga pada Peringatan Bulan Soekarno di Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, seorang petani berdiri tegak...
Ant/Mohammad Ayudha

PLTSA Putri Cempo Diuji Cobakan Hasilkan Listrik

👤Widjajadi 🕔Rabu 29 Juni 2022, 07:05 WIB
PROYEK Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo yang merupakan proyek pengembangan pembangkit listrik berbasis sampah di Kota...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya