Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Pekan Terakhir, Peningkatan Kasus Covid-19 di Jabar Tinggi

Ferdian Ananda Majni
11/8/2020 09:04
Pekan Terakhir, Peningkatan Kasus Covid-19 di Jabar Tinggi
Warga mengenakan masker saat beraktivitas di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat.(ANTARA/Novrian Arbi)

SELAMA pekan terakhir, terjadi kenaikan kasus yang cukup tinggi di Provinsi Jawa Barat (Jabar) yaitu sebesar 50,6%. Hal itu disampaikan Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah saat menyampaikan analisa data covid-19 Jabar periode 9 Agustus 2020.

Dewi memaparkan lima kabupaten/kota di Jabar yang menyumbang kenaikan kasus tertinggi di Jawa Barat adalah sebagai berikut:

  • Kota Bandung 40 kasus menjadi 155 kasus (287,5%)
  • Kabupaten Bandung dari 45 kasus menjadi 119 kasus (164,4%)
  • Cirebon dari 1 kasus menjadi 34 kasus (meningkat lebih dari 10 kali lipat)
  • Kota Cimahi dari 7 kasus menjadi 35 kasus (400%)
  • Kota Sukabumi dari 1 kasus menjadi 28 kasus (meningkat lebih dari 10 kali lipat)

Dewi menambahkan, peningkatan kasus tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah laju penularan yang tinggi, munculnya klaster baru, dan jumlah pemeriksaan yang ditingkatkan.

Baca juga: Abaikan Masker, PNS Sapu Jalan

“Biasanya kita bisa lihat dari tiga hal, yang pertama memang laju penularannya sedang tinggi di sana, yang kedua ada klaster baru, dan yang ketiga memang jumlah testing yang juga ditingkatkan di Jawa Barat,” kata Dewi saat berdialog di Graha BNPB, Jakarta, Senin (10/8).

Dewi menjelaskan peringkat kabupaten/kota di Jabar berdasarkan jumlah kumulatif kasus covid-19 pada peringkat nasional. Kota Depok menempati posisi pertama provinsi dan ke-17 di peringkat nasional.

“Yang pertama ini memang ada di Kota Depok. Ini peringkat 17 dalam peringkat nasional,” sebut Dewi.

Tidak hanya itu, berdasarkan analisa insiden kumulatif kasus per 100 ribu penduduk, Kota Depok masih menempati peringkat pertama provinsi dan peringkat ke-68 nasional.

Dewi lebih lanjut menjelaskan analisa per 100 ribu penduduk digunakan untuk melihat laju penularan dan menyamakan perbandingan jumlah penduduk di masing-masing daerah.

“Kita bisa melihat laju penularan yang ada di sana. Misalnya begini, kita melihat hanya angka bulatnya saja, dua daerah sama-sama 100. Tapi ternyata jumlah penduduk di kota A ini ada seribu yang satu 10 ribu. Pasti kita akan melihat perbedaan. Di sini kita melihat berarti yang 100 kasus per 10 ribu, tentu jauh lebih kecil laju penularannya dibandingkan dengan yang seribu,” jelas Dewi.

Selain itu, Dewi memaparkan angka kematian akibat covid-19 Jabar berada di bawah angka kematian nasional dan rata-rata dunia, yaitu sebesar 3,01%. Angka kematian yang cukup baik menandakan penanganan yang baik pula sehingga angka kematiannya relatif rendah.

“Dari seluruh jumlah kasus positif, ini persentasenya 3,01%, di bawah nasional, di bawah rata-rata dunia juga. Jadi memang kita melihat ada angka kematian yang cukup baik. Artinya apa, tertangani pasien-pasien yang ada disana, sehingga angka kematiannya juga termasuk kecil,” ujar Dewi.

Pada dua pekan terakhir, data menunjukkan pergeseran zonasi risiko covid-19 di kabupaten/kota di Jawa Barat. Terjadinya penambahan pada zona risiko sedang, penurunan di zona risiko rendah, dan satu kabupaten kota berada di zona risiko tinggi, yaitu Kota Depok.

Dewi menjelaskan, faktor yang menyebabkan tingginya kasus covid-19 di Kota Depok adalah tingginya mobilitas penduduk ke daerah Jabodetabek.

“Mungkin ternyata memang yang di Depok ini juga cukup banyak yang memang positifnya itu karena mobilitasnya sangat tinggi, terutama ke daerah Jabodetabek itu sudah seperti satu area yang tidak terpisahkan,” tutur Dewi.

Dewi memaparkan klaster-klaster yang ditemukan di Provinsi Jawa Barat. Terdata sebanyak 150 klaster dengan total kasus sebanyak 476 kasus. Peringkat klaster tertinggi Jabar berasal dari pemukiman diikuti fasilitas kesehatan, perkantoran, dan rumah ibadah.

Dewi menegaskan bahwa data klaster dianalisis berdasarkan domisili, bukan berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Data ini memang harus kita analisis berdasarkan domisili. Bukan berdasarkan NIK,” tegas Dewi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengupayakan penanggulangan covid-19 di berbagai bidang, seperti pelayanan kesehatan, sosial dan ekonomi, teknologi informasi, dan berupa kebijakan yang diterapkan.

Dewi menyebut, sejauh ini, masih banyak hal yang harus dilakukan oleh semua pihak, terutama merubah perilaku masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan.

“Pekerjaan kita masih banyak terutama, perubahan perilaku. Ini adalah tugas untuk kita semua, bagaimana seluruh masyarakat Indonesia patuh, disiplin, menerapkan protokol kesehatan, dimanapun berada,” pungkasnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya