Kamis 23 Juli 2020, 01:55 WIB

Waspadai Lonjakan Kasus Covid-19 di Luwu Utara

Lina Herlina | Nusantara
Waspadai Lonjakan Kasus Covid-19 di Luwu Utara

ANTARA/Abriawan Abhe
Warga korban banjir bandang memilih bantuan pakaian layak pakai di sekitar pengungsian Perbukitan Desa Meli, Baebunta, Luwu Utara.

 

PASCABANJIR bandang pada enam kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, ahli epidemiologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Ridwan Amiruddin menilai ada potensi penularan kasus Covid-19 di sana.

"Setelah bencana alam banjir bandang Masamba, Kabupaten Luwu Utara, potensi peningkatan kasus Covid-19 di wilayah Luwu Raya berpotensi mengalami peningkatan yang signifikan," ungkap Ridwan, Rabu (22/7).

Ia menuturkan, jika mencermati data tren Covid-19 di wilayah Luwu Raya yang meliputi Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, dan Palopo, angka pertumbuhan kasusnya (Rt) sekitar 0,5-1,2. Namun potensi bergeraknya kasus Covid-19 meningkat, masih terbuka lebar.

Pemicu potensi peningkatan kasus tersebut salah satunya karena kondisi awal Covid-19 di wilayah Luwu Utara sudah terbentuk sebelumnya per 18 Juli yang tercatat ada 41 kasus. Sementara pekan sebelumnya masih rendah dengan pertumbuhan yang terkendali di bawah nol atau berkisar 0,5-0,9.

"Begitu juga dengan wilayah Luwu, Luwu Timur dan Kota Palopo. Wilayah tersebut memiliki pergerakan kasus yang berfluktuasi relatif terkendali juga dengan pertumbuhan kasus pekan ini sekira 0,5 hingga 1,26," beber Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulsel ini.

Tidak hanya itu, Ridwan menambahkan, potensi penularan ini didukung dengan pergerakan populasi ke wilayah bencana dengan berbagai  kepentingan yang bersifat urgen. Salah satunya sebagai relawan.

"Begitu banyak relawan dari wilayah episentrum Makassar dan kota lain, yang akan melewati beberapa kabupaten/kota menuju pusat bencana dan tentu akan berinteraksi dengan banyak orang yang terkadang dengan protokol kesehatan yang terbatas," urai Ridwan.

Bencana banjir bandang pun memaksa ribuan warga mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Laporan tim relawan menunjukkan tenda-tenda pengungsian sementara sangat terbatas.

Protokol kesehatan seperti menjaga jarak juga sulit dilakukan. Belum lagi, fasilitas umum kebersihan untuk sarana air bersih mandi, cuci dan kakus (MCK) sangat minim.

"Evakuasi korban banjir yang dilakukan oleh petugas maupun warga menunjukkan penanganan yang bersifat darurat dengan alat pelindung diri (APD) sangat minim. Dengan jumlah korban yang semakin banyak disertai penanganan/evakuasi korban seadanya, maka potensi besar terjadinya transmisi penyakit termasuk COVID-19 sangat besar," lanjut Ridwan. (R-1)

Baca Juga

DOK MI

Positif Covid-19 di Kebumen Capai 2.537 Kasus

👤Lilik Darmawan 🕔Rabu 02 Desember 2020, 01:40 WIB
Kebumen masih tercatat sebagai zona merah. Di tingkat kecamatan, ada 7 kecamatan yang masuk zona merah, 16 kecamatan zona oranye dan 3...
DOK MI

Penegakan Prokes, Satgas Covid-19 Cianjur Sasar THM dan Restoran

👤Benny Bastiandy 🕔Rabu 02 Desember 2020, 01:15 WIB
Sasaran operasi yustisi pendisiplinan penerapan protokol kesehatan diarahkan ke wilayah Cipanas dan Pacet yang banyak lokasi tempat hiburan...
ANTARA

Masuk Zona Merah, Temanggung Hentikan Simulasi KBM Tatap Muka

👤Tosiani 🕔Rabu 02 Desember 2020, 00:32 WIB
Kepala Divisi Komunikasi dan Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Temanggung Gotri Wijianto, mengatakan penghentian simulasi KBM...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya