Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

26% Bayi dan Balita di Flores Timur Mengalami Stunting

Ferdinandus Rabu
05/7/2019 09:09
26% Bayi dan Balita di Flores Timur Mengalami Stunting
Ilustrasi(MI/Gana Buana )

KASUS stunting menjadi momok yang cukup meresahkan di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah kasus stunting cukup tinggi di daerah ini, terkait minimnya pola makan bergizi dan minimnya pandangan pola hidup yang sehat. Sekitar 26% bayi dan balita mengalami stunting. Atau 6 hingga 7 ribu bayi/balita mengalami stunting.

Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Flores Timur, NTT memberikan perhatian serius dengan meningkatkan sosialisasi bagi warga di rumah-rumah sakit hingga puskesmas dan posyandu. Selain itu, perhatian serius ini juga diwujudkan dalam penandatanganan kerjasama atau MoU bersama 72 bupati/ walikota se-Indonesia dalam rangka komitmen pelaksaan percepatan pencegahan stunting.

Kasubag publikasi dan dokumentasi Humas Flotim, M. Tribudi saat dikonfirmasi, Jumat (5/7) pagi mengakui keseriusan pemerintah menurunkan angka stunting di daerah ini. Termasuk berpartisipasi dalam penandatanganan MoU bersama 72 bupati/ walikota se-Indonesia di Jakarta.

"Pada 3 Juli lalu, Bupati Flotim Antonius H. Gege Hadjon hadir di Jakarta bersama 72 bupati/ walikota se-Indonesia untuk melakukan penandatanganan MoU sebagai komitmen pencegahan stunting. Saat mengikuti rapat koordinasi teknis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan, Kementerian Sekretariat Negara, Sekretariat Wakil Presiden. Penandatangan MoU tersebut sebagai komitemen pemerintah daerah untuk serius mengatasi masalah stunting di daerah ini," jelas Tribudi.

Penandatanganan MoU bersama sejumlah bupati dan walikota tersebut merupakan komitmen pemerintah daerah menindaklanjuti upaya pemerintah pusat untuk mencapai target penurunan angka stunting dalam RPJMN 2015-2019 sebesar 28% pada akhir tahun 2019.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan Flotim menyebutkan, hingga April tahun 2019 ini, sekitar 26% bayi dan balita mengalami stunting. Atau dari 20 ribu bayi, sekitar 6 hingga 7 ribu bayi-balita mengalami stunting. Jumlah kasus yang cukup tinggi dan membutuhkan perhatian serius setiap pihak.

Tingginya kasus stunting ini diakui oleh Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Flotim, Kamaria Lamanale.

"Iya betul. Kasus stunting cukup meresahkan, karena jumlah bayi yang terdampak cukup banyak. Jika laporan tahunan pada 2018 lalu mencapai 44%, maka pada laporan bulanan hingga April sudah mencapai 26%. Data ini berdasarkan hasil timbangan bayi di posyandui. Angka ini akan terus bergerak, dan dikhawatirkan meningkat setiap bulannya," ujar Kamaria.

baca juga: Yamaha Siap Tebar Ancaman di GP Jerman

Lebih lanjut, Kamaria pun mengakui masih banyak tantangan yang dihadapi dalam upaya pencegahan stunting di daerah ini. Termasuk pengetahuan tentang stunting yang minim, juga asupan gizi dan pola hidup sehat yang tidak sesuai.

"Banyak hal yang telah dilakukan daerah ini untuk mencegah stunting, tapi mungkin belum fokus, belum maksimal, dan belum terintegrasi dengan baik. Sehingga kami akan terus berupaya melakukan berbagai kegiatan dalam rangka kampanye stunting, dan memberikan konseling bagi ibu-ibu di setiap puskesmas dan posyandu hingga ke pelosok-pelosok," sambung Kamaria. (OL-3)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya