Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Solusi Pemprov DKI Kurangi Beban TPST Bantargebang dengan Pengurangan Sampah dari Sumber

Media Indonesia
11/3/2026 10:10
Solusi Pemprov DKI Kurangi Beban TPST Bantargebang dengan Pengurangan Sampah dari Sumber
Foto udara sejumlah operator menggunakan alat berat melakukan pencarian korban longsor gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/3/2026).(Antara)

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengungkapkan sejumlah langkah strategis untuk mengurangi tekanan pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi. Salah satu upaya utama yang dilakukan adalah mendorong pengurangan sampah langsung dari sumbernya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa semakin banyak sampah yang dipilah dan dikurangi sejak awal, baik di rumah tangga, perkantoran, maupun kawasan permukiman maka beban yang harus ditangani TPST Bantargebang sebagai lokasi pengolahan akhir akan semakin berkurang.

"Upaya pengurangan sampah di sumber merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang pengelolaan sampah Jakarta, sekaligus untuk mengurangi beban timbunan yang masuk ke tempat pemrosesan akhir setiap harinya," ujar Asep dalam keterangan di Jakarta, Rabu (11/3).

Menurutnya, pengurangan sampah dari sumber dapat dimulai dengan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat sehari-hari, seperti memilah sampah berdasarkan jenisnya. Kategori tersebut meliputi sampah organik yang mudah terurai, material yang dapat didaur ulang, sampah residu, serta limbah B3 rumah tangga.

Selain memilah sampah, warga juga dianjurkan untuk mengolah sampah makanan melalui proses pengomposan. Barang-barang yang masih memiliki nilai guna pun sebaiknya dimanfaatkan kembali agar tidak langsung menjadi limbah.

"Langkah-langkah tersebut terbukti efektif menekan volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas pengolahan maupun tempat pemrosesan akhir," kata Asep.

Di sisi lain, Asep menyebutkan bahwa Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengembangan fasilitas pengolahan modern, seperti Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, yang mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif bagi industri semen.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa penerapan teknologi pengolahan sampah saja tidak cukup tanpa dukungan masyarakat. Partisipasi aktif warga dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumber tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah di Jakarta.

Oleh karena itu, Pemprov DKI mengajak masyarakat untuk mulai membangun kebiasaan memilah serta mengurangi sampah dalam aktivitas sehari-hari.

"Jika masyarakat semakin aktif memilah dan mengurangi sampah, maka sistem pengelolaan sampah Jakarta akan semakin berkelanjutan dan beban TPST Bantargebang dapat terus berkurang karena hanya residu yang dikirim ke sana," ungkap Asep.

Sebagai informasi, TPST Bantargebang saat ini menerima rata-rata 7.354 ton sampah setiap hari yang berasal dari wilayah DKI Jakarta. Sementara itu, total beban harian yang harus ditangani fasilitas pengolahan sampah tersebut mencapai sekitar 7.734 ton per hari. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya