Headline

Revisi data angka kemiskinan nasional menunggu persetujuan Presiden.

Fokus

Keputusan FIFA dianggap lebih berpihak pada nilai komersial ketimbang kualitas kompetisi.

Ribuan Obat Perangsang yang Disita Polri hendak Dijual ke Kaum LGBT

Siti Yona Hukmana
23/7/2024 07:56
Ribuan Obat Perangsang yang Disita Polri hendak Dijual ke Kaum LGBT
Ilustrasi(Freepik)

Polri mengungkap fakta baru dalam penyitaan ribuan botol obat perangsang atau poppers dari tiga pelaku berinisial RCL selaku importer di Bekasi Utara, P selaku importer di Banten, dan MS selaku rekan kerja P.

Para pelaku tersebut diketahui menjual obat perangsang itu ke kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

"Iya. Itu digunakan untuk komunitas LGBT," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri Brigjen Mukti Juharsa kepada wartawan, Selasa (23/7).

Baca juga : Malaysia Batalkan Festival Musik setelah Ciuman Sesama Jenis Band Inggris

Mukti mengatakan obat perangsang itu bisa dipakai oleh pria dan wanita. Namun, lebih familiar digunakan oleh kelompok penyuka sesama jenis.

"Yang biasa memakai adalah kelompok sesama jenis kaum laki-laki, homoseksual," ungkap jenderal bintang satu itu.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) III Dittipidnarkoba Bareskrim Polri Kombes Suhermanto menambahkan pelaku yang mengedarkan ke kaum LGBT itu adalah RCL. Namun, secara umum, sasaran pembeli tidak hanya kaum LGBT.

Baca juga : PKS Minta Pemprov DKI Jakarta Larang Pertemuan LGBT Se-Asean

"Penjualanya secara umum, siapa saja bisa beli. Namun, produk ini lebih banyak digunakan komunitas sesama jenis," kata Suhermanto saat dikonfirmasi terpisah.

Suhermanto mengatakan RCL tidak hanya pengimpor dan pengedar. Ia juga mengonsumsi obat perangsang tersebut.

"Pengimpor sekaligus mengedarkan. Dia pernah coba juga," bebernya.

Baca juga : Larangan Hak Adopsi Pasangan Gay Italia Diprotes

Sebelumnya, Dittipidnarkoba Bareskrim Polri menyita 959 botol dan 710 kotak obat perangsang yang digunakan untuk hubungan seksual sesama jenis. Tiga pelaku ditangkap berinisial RCL selaku importer poppers di Bekasi Utara, P selaku importer poppers di Banten, dan MS selaku rekan kerja P.

Selain itu, ada dua tersangka yang masuk daftar pencarian orang (DPO). Keduanya berinisial E dan L yang merupakan warga negara asing (WNA) selaku eksporter dari Tiongkok.

Dalam konferensi pers, Kasubdit III Kombes Suhermanto menjelaskan bahwa awal mulanya para pelaku mengedarkan obat terlarang ini melalui marketplace dan media sosial. Setelah BPOM melarang peredaran obat bermuatan isobutil nitrit, para pelaku melakukan peredaran ilegal secara personal.

"Jadi cara peredarannya awalnya melalui market place, tapi setelah ada pelarangan dari BPOM, di market place Tokopedia, Shopee dan lain lain itu sudah di-block. Jadi mereka mengedarkan dari komunitas tertentu dan langsung chatting, dan ada juga media lainnya," pungkas Suhermanto. (Z-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya