Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS perundungan atau bullying masih kerap terjadi di lingkungan pendidikan khususnya sekolah. Padahal selayaknya sekolah menjadi tempat ramah anak yang terbebas dari aksi perundungan.
Nasib nahas dialami Fatir Arya Adinata (12), siswa SDN 09 Jatimulya, Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat, yang menjadi korban perundungan yang diduga dilakukan teman sekolahnya.
Berdasarkan laporan ibunya Fatir, Diana Novita, tindakan perundungan yang terjadi pada Februari 2023. kkibat kekerasan fisik, Fatir mengalami cedera pada bagian kaki dan mengalami infeksi dan mengalami luka dalam.
Baca juga: Setop! Kekerasan di Satuan Pendidikan
Berbagai upaya pengobatan medis dilakukan namun tidak kunjung membuahkan kesembuhan, bahkan kondisinya semakin memburuk. Kondisi Fatir membuat orangtuanya mengalami kesedihan mendalam.
Pada Agustus 2023, Fatir dan keluarganya harus menghadapi beban lebih berat saat dokter mengatakan bahwa Fatir mengalami masalah berat dengan tulangnya dan harus dilakukan tindakan amputasi pada bagian kaki kirinya.
Kini Fatir masih dirawat secara intensif di ruang ICU RS Kanker Dharmais Jakarta usai tindakan amputasi karena kondisnya yang menurun.
“Mohon doanya, saat ini anak saya sedang di ICU RS Kanker Dharmais karena kondisinya menurun pasca operasi amputasi kaki,” kata Diana Novita, orangtua Fatir kepada wartawan, Sabtu (28/10).
Diana menyatakan operasi amputasi merupakan jalan terakhir yang diambil karena sejumlah pemeriksaan di tiga rumah sakit berbeda mulai dari rontgen, hingga MRI, menyatakan hasil yang sama.
Baca juga; Sekolah Diingatkan Pantau Masa Orientasi untuk Cegah Perundungan
“Saya dan keluarga terpukul dengan kejadian ini, apalagi anak saya masih berusia anak-anak dan masa depannya masih panjang. Saya berharap keadilan atas kasus yang menimpa anak saya,” ucap warga Jatimulya, Tambun Selatan.
Tidak sampai di situ, Diana yang berstatus single parent dengan dua orang anak itu saat ini harus kehilangan pekerjaannya lantaran harus mendampingi Farid untuk menjalani pengobatan dan perawatan.
Laporannya Tak Direspons
Upaya mencari keadilan juga telah dilakukan Diana mulai dari melaporkan anaknya yang menjadi korban perundungan ke pihak sekolah hingga ke Polres Metro Bekasi.
Sayangnya sampai sekarang, belum ada tindakan lebih lanjut dan respos atas laporannya baik pihak sekolah maupun kepolisian
“Saya sudah lapor ke Polres Metro Bekasi pada 17 April 2023. Laporan ini karena saya tidak mendapatkan keadilan dan jalan keluar dari pihak sekolah maupun keluarga pelaku atas aksi bullying dan dampaknya yang sedang dialami anak saya,” kata Diana .
Kronologis Kejadian
Diana mengungkapkan, kejadian perundungan sudah berulang kali dialami Fatir. Puncaknya terjadi pada Februari 2023, tepatnya di jam istirahat sekolah. Fatir yang tengah berada di kelas diajak lima orang temannya untuk jajan di luar sekolah.
Saat itu, Fatir yang tengah berjalan diselengkat atau ditendang oleh temannya dari arah belakang sehingga ia terperosok jatuh dengan kondisi luka dibagian tangan dan memar pada dengkul kaki.
Ironisnya, temannya tersebut bukan menolong tapi justru menertawakan dan mengolok-oloknya seraya mengancam agar tidak menceritakan kejadian tersebut baik ke orangtuanya maupun guru.
Aksi bullying tersebut berlanjut hingga kembali ke kelas kendati teman-temannya melihat Fatir yang tengah kesakitan. Begitupula dengan hari-hari berikutnya, tindakan bullying masih terus berlangsung.
Baca juga: Cegah Perundungan, Polres Klaten Giatkan Pembinaan dan Penyuluhan Pelajar
Dijelaskan Diana, hal ini baru ia ketahui tiga hari pasca-kejadian saat Fatir tidak bisa bangun dari tempat tidurnya karena sakit dibagian kaki. Fatir, kata dia, saat itu bahkan masih menutup-nutupi apa yang dialaminya lantaran ketakutan karena diancam oleh teman-temannya.
“Akhirnya saya paksa untuk mengaku dan saya kaget dengan apa yang terjadi dan dialami anak saya,” ucap Diana.
Atas kejadian ini, Diana sudah menemui pihak sekolah agar dipertemukan dengan keluarga pelaku. Namun, apa yang dialami Fatir justru pihak sekolah tidak memberi respons positif dan pihak sekolah justru mengatakan Fatir bukan korban perundungan tapi hanya sebagai korban candaan.
“Saya sangat kecewa dengan kondisi anak saya yang sedang sakit dan harus terus menjalani pengobatan tapi dianggap bukan sesuatu yang buruk. Aksi bullying yang dilakukan teman-temannya di kelas juga dianggap hanya sebuah bercandaan,” pungkas Diana. (S-4)
ICAS tidak sekedar kompetisi, melainkan sebagai ruang pembelajaran yang melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk menghadapi tantangan masa depan.
Kesejahteraan siswa merupakan faktor penting yang selama ini kurang diteliti di Indonesia, padahal sangat berpengaruh pada perkembangan psikososial dan prestasi akademik.
Kombinasi antara aktivitas sekolah yang padat, curah hujan tinggi, dan kelembapan yang meningkat dapat menciptakan lingkungan yang rawan terhadap penularan penyakit.
Data hasil TKA menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam memetakan capaian pendidikan antarwilayah.
Kemendikdasmen berkomitmen menyempurnakan TKA melalui evaluasi berkelanjutan dan dialog dengan pemangku kepentingan.
Kenaikan kelas dan kelulusan seringkali hanya menjadi formalitas administratif demi mengejar target persentase kelulusan 100%. Masih ditemukannya siswa yang belum bisa membaca dan menulis.
WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar, mengajak anak-anak Indonesia untuk berempati dan peduli kepada masyarakat yang terdampak bencana Sumatra.
BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memberikan 120 Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Pancasila kepada sekolah jenjang pendidikan Dasar dan Menengah di Kota Singkawang
Pelajar sekolah dasar (SD) di tiga desa yang berada di Morowali Utara yaitu Desa Bunta, Bungintimbe, dan Tanauge mendapatkan bantuan sepatu dan tas sekolah
SDN 1 Porara di Desa Morosi kini memiliki 16 ruang kelas, 22 guru, serta 500 murid, dengan 107 siswa baru tercatat pada tahun ajaran 2025.
Kegiatan ini diikuti siswa sekolah dasar kelas 5–6 dari Bojonegoro dan Jakarta dengan semangat besar untuk belajar sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM).
PHBS ini sebenarnya utamanya untuk anak-anak usia sekolah, karena biasanya mereka sudah dikasih untuk makan bekal sendiri, jadi sudah dilepas sama orangtua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved