Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KANTOR Pasar Tradisional Kemirimuka di jalan Arief Rahman Hakim (ARH), Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji, Kota Depok, tertutup timbunan sampah. Ketinggian timbunan sampah mencapai lebih dari 3 meter.
Kepala Tata Usaha Pasar Tradisional Kemirimuka Budi Setyanto mengatakan sampah itu menumpuk sejak sebelum bulan puasa. Sampah itu, lanjut dia, mayoritas berasal dari produksi rumah tangga serta produksi pedagang pasar setempat.
"Warga masyarakat di sepanjang sejajar Rel Kereta Api (KRL) dan pedagang membuang sampah ke sekitar Kantor Pasar Kemirimuka serta sekitar Kantor Ketertiban Pasar Kemirimuka. Akibatnya, sampah penuh dan menutup dua kantor tersebut, " ujarnya, Senin (9/5).
Sampah berton-ton ini hingga sekarang belum dibersihkan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok.
"Tadi pihak DLHK kesini. Tapi cuma menengok dan mengangkut 2 truk sampah, sampai sekarang tak datang lagi," ungkapnya.
Budi mengatakan sampah itu sudah membusuk dan berair. Bahkan ulat-ulat timbunan sampah banyak masuk ruangan. Ulat sampah juga menghinggapi dinding bangunan pasar.
Baca juga: Pasokan Minyak Goreng Curah ke Pasar Terbatas
Sama dengan di Pasar Kemirimuka, timbunan sampah juga berserakan di tempat pembuangan sementara (TPS) Pasar Tradisional Agung, Jalan Proklamasi, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya. Sampah di Pasar Agung tak cuma di TPS melainkan sudah sampai ke gerbang di samping pasar yang bersebelahan dengan rumah-rumah penduduk.
Sejumlah warga masyarakat disana menyayangkan buruknya kinerja Kepala Pasar Agung dan Kepala Tata Usaha Pasar Agung.
"Kami juga menyayangkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Dagin) Kota Depok yang cuek terhadap kondisi sampah di Pasar Agung. Dinas Dagin selaku manajer pasar harusnya turun ke lapangan bukan duduk manis di kantor," ujar Mukmin, seorang warga saat ditemui di Pasar Agung, Senin (9/5).
Menurut dia, Dinas Dagin perlu menggerakkan personel Dinas Dagin dan pasar melakukan kerja bakti.
"Perlu kerja bakti membersihkan sampah agar warga tak kebauan. Ulat-ulat sampah juga tak hinggap ke rumah-rumah. Bila perlu ajak warga bersih-bersih. Dengan kegiatan ini, maka kondisi pasar tidak jorok dan kebauan. Selain itu, penyakit juga bisa dicegah,'' ungkap Mukmin.
Kepala Bidang Kebersihan DLHK Kota Depok Iyai Gumilar mengakui sampah Kota Depok banyak menumpuk dan berserakan di jalan-jalan, kawasan permukiman, dan TPS pasar. Karena tempat pembuangan akhir (TPA) sedang dilakukan penataan dan perbaikan oleh DLHK.
Ia mengatakan dari 1.300 ton per hari produksi sampah Kota Depok, yang bisa terbuang ke TPA per hari cuma hanya 20 ton.
"Cuma 20 ton per hari," tuturnya.(OL-5)
Jelang Natal dan tahun baru, harga cabai merah dan telur di pasar tradisional terus merangkak naik cukup signifikan hingga banyak pembeli mengeluhkan kenaikan itu
Pasar Murah yang dilakukan Pemprov Jatim selama menyasar daerah daerah pinggiran kota yang sangat jauh dari pasar Tradisional, sehingga tidak perlu harus ke Pasar Tradisional.
Pasar tradisional masih menghadapi tantangan besar, tidak hanya soal kesan kumuh, tetapi juga persaingan dengan pasar modern dan e-commerce.
Sebanyak 153 pasar yang dimiliki Jakarta, belum semuanya direvitalisasi
Sebanyak 60 dari 153 pasar tradisional yang dikelola Perumda Pasar Jaya di Jakarta dalam kondisi kumuh dan rawan banjir akibat tak terawat dan kosong
Kenaikan tersebut, banyak dikeluhkan para pembeli termasuk komoditas lain ikut merangkak naik seperti sayuran, cabai merah, bawang putih, bawang merah dan lainnya.
Selain kendala fisik, pasar tersebut juga kerap dijadikan tempat berkumpulnya gelandangan dan pengemis
Melubernya sampah ke jalan tersebut terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Sebagian wilayah Condet, Jakarta sudah kebanjiran, Jumat (30/1).
Kondisi ini memaksa pengendara untuk ekstra waspada dan menurunkan kecepatan secara drastis guna menghindari kecelakaan.
Jarak struktur bangunan yang tidak terlalu menempel pada lereng menjadi faktor kunci minimnya dampak fatal.
Pemerintah Kota Depok turut mengeluarkan peringatan dini bagi warga, terutama bagi mereka yang bermukim di daerah dengan topografi perbukitan atau dekat aliran sungai.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved