PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta angkat bicara mengenai pernyataanMenteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang meminta agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa fokus untuk mengejar vaksinasi dosis kedua.
Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Penduduk dan Permukiman Suharti Sutar mengatakan, tantangan menyelesaikan vaksinasi dosis kedua ada pada waktu interval penyuntikkannya. Ia menegaskan, pemberian dosis kedua tidak bisa dipercepat dan tetap berdasarkan pada interval tersebut.
Semisal saat ini Pemprov DKI menggunakan vaksin AstraZeneca dan Sinovac untuk warga umum dan Sinovac juga bagi pelajar berusia 12-17 tahun. Kedua jenis vaksin itu memiliki interval pemberian dosis 1 dan 2 yang berbeda. AstraZeneca memiliki interval lebih lama yakni hingga 4 minggu.
"Kan beda Sinovac cepat, karena AZ lebih lambat menunggu sekian minggu dulu baru masuk. Jadi memang dosis 2 yang AZ baru mulai Agustusan. Kalau percepatan dengan apa yang ada sudah cepat, dosis dua itu otomatis. Jadi nggak ada percepatan, sesuai dengan interval yang ditetapkan," jelas Suharti di Jakarta.
Namun demikian, Pemprov DKI tetap akan melakukan sejumlah upaya untuk mengejar vaksinasi covid-19 dosisi pertama. Sebab, hingga saat ini belum seluruh warga di Jakarta yang mendapatkan vaksin.
Salah satunya adalah dengan menjadikan vaksin sebagai syarat untuk berpergian hingga syarat agar masyarakat bisa berekreasi seperti pergi ke pusat perbelanjaan hingga makan di restoran.
"Semua data individu yang dari dukcapil yang ada dan yang belum divaksin kita punya. Data itu yang akan dijadikan kelurahan untuk melihat keluarga yang sudah tervaksin dan belum tervaksin. Oleh karena itu dengan adanya regulasi masuk mal boleh vaksin kecuali mereka yang komorbid tidak boleh divaksin," ujarnya.
Baca juga : Ada Terobosan Gerebek Malam Vaksinasi PKL dan Tunawisma
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengebut vaksinasi dosis kedua. Saat ini capaian vaksinasi dosis pertama di Jakarta sudah di atas 100% yakni 9,3 juta.
Namun demikian, Airlangga menegaskan, pekerjaan mengejar program vaksinasi ini dan pembentukan 'herd immunity' belum selesai. Target vaksin baru bisa selesai jika semua warga sudah selesai divaksin dengan dosis lengkap.
"PR belum selesai. Yang dikejar bukan vaksin pertama saja tapi juga vaksin kedua. Vaksin kedua ini PR bersama Bali dan dan Kepulauan Riau," kata Airlangga dalam peluncuran nasional vaksinasi covid-19 bagi ibu hamil di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (19/8).
Selain itu, ia berharap gerak cepat Jakarta dalam hal penanganan pandemi termasuk vaksinasi bisa diikuti oleh wilayah Bodetabek. Sebab, Jakarta tidak bisa dipisahkan oleh Bodetabek sebagai wilayah aglomerasi.
Apabila hanya Jakarta yang memiliki penanganan baik dalam hal covid-19, ia khawatir hal ini tidak berdampak positif secara terus-menerus karena akan ada efek pingpong kasus covid dari wilayah sekitarnya.
"Ini seperti bejana berhubungan. Ditekan di satu titik maka akan bocor di titik lain. Makanya ini kita kejar terus. Wilayah aglomerasi ini harus dikunci. Begitu juga dengan daerah lainnya di luar Jawa. Begitu Jawa selesai, lalu meningkat di luar Jawa lalu akan kembali lagi ke Jawa. Maka ini harus diselesaikan," ungkap Airlangga. (OL-7)