Selasa 08 Desember 2020, 02:40 WIB

Positivity Rate 8%, Jakarta masih Kritis

Hilda Julaika | Megapolitan
Positivity Rate 8%, Jakarta masih Kritis

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Seorang warga yang mengenakan masker duduk di trotoar jalan MH Thamrin Jakarta.

 

PERNYATAAN Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahwa perkembangan covid-19 di Jakarta masih terkendali pada saat mengumumkan perpanjangan PSBB transisi dikritik epidemiolog Dicky Budiman.

Menurut Dicky, kondisi penyebaran covid-19 di Ibu Kota masih kritis bila melihat positivity rate-nya di kisaran 8%.

Positivity rate-nya masih jauh dari 5%, angka aman yang bisa menyatakan penyebaran covid-19 terkendali.

“Walau sudah di bawah 10%, posisi itu sebenarnya tinggi. Artinya covid-19 di Jakarta itu kritis, bukan masih terkendali,” ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Berdasarkan angka positivity rate tersebut, lanjut Dicky, masih ada potensi pemburukan situasi covid- 19 di Jakarta.

Hal itu harus dijawab dengan peningkatan testing dan tracing oleh Pemprov DKI Jakarta.

“Untuk tracing (pelacakan kontak) harus ditingkatkan lagi. Data terakhir, Jakarta baru bisa melacak kontak kasus covid-19 1:8. Padahal idealnya harus bisa menyentuh angka 1:25,” tambah lulusan Griffith University, Australia, itu.

Ia mengatakan tanpa meningkatkan tracing, pemburukan kondisi covid-19 di Jakarta akan terjadi.

“Saat ini saja angka kematian masih tinggi, angka hunian di rumah sakit juga tinggi. Itu artinya masih banyak kasus yang lolos. Harus di perbaiki dengan peningkatan fasilitas dan pembatasan yang lebih ketat,” pungkasnya.

Secara terpisah, anggota DPRD DKI dari Fraksi PDIP, Gilbert Simanjuntak, menilai Jakarta sudah seharusnya menerapkan PSBB total.

Pasalnya, tren kasus covid-19 naik terus-menerus. Ditambah lagi dengan lahan permakaman khusus jenazah covid-19 yang semakin sempit, yang dikhawatirkan tak mampu lagi menampung jenazah bila terjadi peningkatan jumlah kematian.

Selain itu, lanjut Gilbert, faktor kelelahan dari tenaga kesehatan di DKI menjadi pertimbangan. Mereka sudah berjuang selama 10 bulan.

Pada Desember ini juga mereka dihadapkan pada libur akhir tahun yang rawan kerumunan.

“Mengingat kecenderungan tersebut, sudah sepatutnya PSBB dengan pengawasan ketat dilakukan lagi karena di akhir tahun ada libur dan kebiasaan masyarakat yang ingin menikmati akhir tahun dengan liburan dan kumpul-kumpul,” tambahnya.

Pasalnya, ketika ada kerumunan yang tidak menerapkan protokol kesehatan amat mungkin terjadi kenaikan kasus covid-19.

“Tanpa pengawasan ketat, sangat mungkin kasus ini naik lagi dengan segala dampaknya,” tukasnya. (Hld/X-7)

Baca Juga

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Seluruh Wilayah Jakarta Bakal Diguyur Hujan Hari Ini

👤Hilda Julaika 🕔Minggu 05 Desember 2021, 08:44 WIB
"Waspada potensi hujan disertai kilat/petir di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur pada siang dan...
Antara/Reno Esnir

Imbas Rentetan Kecelakaan, DPRD DKI Minta Audit Total PT Transjakarta 

👤Hilda Julaika 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 22:30 WIB
Menurutnya, penting untuk menemukan akar permasalahan yang menyebabkan insiden kecelakaan bisa terjadi saat melayani...
Dok. Kasoem

Perluas Edukasi Perawatan Mata, Kasoem Vision Care Perbarui Layanan Cabang Bogor 

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 22:27 WIB
Layanan Vision Care mengandalkan layanan perawatan penglihatan berkesinambungan dengan pemeriksaan mata yang detail serta solusi produk...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya