Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMKOT Depok dan Pemkot Bogor memberlakukan jam malam agar mengurangi interaksi warga dan menurunkan penularan covid-19. Namun, cara ini diprediksi tak akan efektif mengurangi penularan covid-19 secara signifikan.
Sebabnya, kebijakan itu masih dilakukan secara parsial. Padahal kedua kota itu sangat terkait erat aktivitas lingkungan, ekonomi, sosial, hingga budayanya ke daerah satelit lainnya yakni Bodetabek dan Jakarta.
"Kalau seluruh Jabodetabek berlakukan yang sama mungkin bisa. Tapi kalau dua daerah ini saja, nggak akan efektif," kata ahli kebijakan publik Trubus Rahadiansyah saat dihubungi Media Indonesia, Senin (31/8).
Trubus mengatakan, Kota Bogor dan Depok sangat terhubung dengan Jakarta. Apalagi di Jakarta justru memberlakukan jam kerja sebanyak duasif yang masing-masing berjarak tiga jam untuk mengurangi kepadatan di transportasi umum.
Perusahaan diwajibkan menerapkan dua sif kerja dengan jarak tiga jam sehingga ada karyawan yang pulang kantor pada pukul 19.00 WIB.
"Idealnya bisa saja dia sampai rumah pukul 20.00 WIB. Tapi kalau angkutan umumnya, semisal KRL penuh karena ada antrean social distancing kan mau tidak mau dia nunggu dulu. Bisa-bisa pukul 20.00 WIB yang jadi batas jam malam, dia masih di jalan naik motor atau angkot. Mau tidak mau yang begini pasrah kena sanksi," papar Trubus.
Menurutnya kebijakan apapun untuk menanggulangi covid-19 di daerah kawasan aglomerasi seperti Jabodetabek harus dilakukan beriringan oleh satu kawasan tersebut. Jika dilakukan secara parsial, akan tetap timbul celah pelanggaran akan tetap terjadi.
"Seperti di Tangerang Raya denda masker hanya Rp50ribu. Di Jawa Barat secara umum Rp150 ribu. Tapi di Jakarta ini Rp250ribu plus ada progresifnya sampai Rp1 juta. Akan ada kepatuhan yang beda-beda. Orang Tangerang ke Jakarta bisa jadi patuh karena sanksinya lebih berat, atau sama sekali tidak patuh karena terbiasa di daerahnya tidak ketat pengawasannya. Hal-hal seperti ini harus dipikirkan dengan cara duduk bersama semua kepala daerahnya," tandasnya.(OL-4)
Naiknya tinggi muka air Bendung Katulampa ini terjadi sejak Kamis (22/1) siang. Hal tersebut bisa terjadi karena wilayah puncak Bogor diguyur hujan.
Korban adalah gurandil atau penambang emas tanpa ijin (PETI) yang menggali, mencari emas di sekitar area pertambangan milik Aneka Tambang (Antam) UBPE Pongkor.
Langkah ini diambil untuk menekan intensitas hujan di daratan dengan cara menebar garam di awan-awan hujan sebelum memasuki wilayah pemukiman padat.
Kabar yang menyebutkan adanya ledakan maupun ratusan orang terjebak di dalam lubang tambang. Menurut dia, informasi yang menyebut angka 700 korban berasal dari kesalahpahaman
Masyarakat diimbau waspada, terutama di wilayah Bogor yang diprediksi akan mengalami hujan lebat disertai potensi bencana hidrometeorologi.
Antam, sambung dia, memastikan bahwa tidak terdapat kejadian ledakan sebagaimana yang diinformasikan dalam konten yang beredar, serta tidak ada karyawan Antam
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
DALAM beberapa minggu terakhir, rumah sakit dan klinik di wilayah Jabodetabek mencatat peningkatan signifikan pasien dengan gejala flu yang mirip covid-19.
KEPALA Biro Komunikasi dan Persidangan Kemenko PMK, Budi Prasetyo, mengatakan pemerintah berencana pola penanganan tuberkulosis (Tb)) akan dilakukan secara terpadu seperti covid-19.
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan data program keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan secara rutin seperti laporan covid-19 pada saat pandemi lalu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved