Minggu 14 Juni 2020, 08:20 WIB

Organda: Bus AKAP Tetap Terapkan Maksimal Penumpang 50%

Kautsar Widya Prabowo | Megapolitan
Organda: Bus AKAP Tetap Terapkan Maksimal Penumpang 50%

ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA
Petugas keamanan berjalan di depan loket pembelian tiket di Terminal Jatijajar, Depok, Jawa Barat, Jumat (12/6).

 

ORGANISASI Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta tetap membatasi jumlah maksimal penumpang 50% pada bus bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menambah maskimal penumpang 70% tidak tepat.

"Kalau sampai 70% (maksimal penumpang) ada pelanggaran jaga jarak, itu menjadi masalah," ujar Ketua Organda DKI Jakarta Safruhan Sinungan, Minggu (13/6).

Aturan itu hanya dapat diterapkan pada bus dengan tipe atas atau super luxury. Bus yang memiliki jarak antar penumpang kurang lebih satu meter, sesuai dengan protokol jaga jarak.

"Bus yang besar penumpang tidak banyak hanya 25%. Itu gak ada masalah dengan ketentuan jaga jarak," tuturnya.

Kendati demikian, Safruhan menilai dalam pandemi covid-19 peminat untuk menggunakan bus mewah itu rendah. Tidak menutup kemungkinan perusahaan otobus (PO) yang memikiki bus tersebut juga akan menaikan harga tiket.

"Siapa orang yang mau jalan-jalan pakai bus luxry. Semua kondisi susah," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyakini kebijakan untuk tetap mengizinkan maskimal penumpang 50% agar tidak terjadi potensi penyebaran penyakit.

Angkutan umum terutama bus dapat dituding menjadi sumber penyebaran penyakit jika tidak menjalankan protokol kesehatan penanganan covid-19.

"Kita enggak pernah tau penumpang sehat atau tidak. Jangan terjebak sarana transportasi (sebagai) penyebar covid-19," imbuhnya.

Baca juga: Bus AKAP Tetap Beroperasi Meski Rugi

Berdasarkan Surat Edaran Kemenhub Nomor 13 Tahun 2020, kapasitas maksimal transportasi udara naik dari 50% menjadi 70%. Ketentuan kapasitas pada mobil penumpang, bus antarkota antarprovinsi (AKAP), bus pariwisata, dan lintas batas negara juga meningkat.

Pada fase I dan II, bus diizinkan beroperasi dengan penumpang maksimal 75%. Rentang waktu fase I dari 9-30 Juni 2020 dan fase II dari 1-31 Juli 2020.

Fase III dari 1-31 Agustus 2020, mobil berpenumpang dan bus diizinkan mengangkut 85% dari kapasitas. Angkutan danau dan penyeberangan dibedakan berdasarkan zonasi.

Moda transportasi di wilayah zona merah hanya diperbolehkan mengangkut 50% penumpang dari total kapasitas. Zona oranye 60%, kuning 75%, dan hijau 85%.

Moda transportasi kereta api antarkota diizinkan mengangkut 70% pada fase I dan 80% di fase II. Hal ini juga berlaku untuk kereta api lokal, prambanan, express, dan bandara. (A-2)

 

Baca Juga

MI/Andri Widiyanto.

Sidang Pekan Depan, JPU Hadirkan Delapan Saksi Fakta Kasus Unlawful Killing

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 21:47 WIB
Penasihat hukum terdakwa, Henry Yosodiningrat, meminta agar nanti saksi tersebut dihadirkan secara satu per satu dan pihaknya ingin...
MI/Andri Widiyanto.

Penasihat Hukum Terdakwa Unlawful Killing tidak Keberatan Atas Dakwaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 21:33 WIB
Namun demikian, lanjut Henry, ada beberapa catatan sesuai dengan uraian penuntut umum sendiri yang dianggap perlu diangkat dan diketahui...
MI/Andri Widiyanto.

Terdakwa Unlawful Killing Laskar FPI Dijerat Pasal Pembunuhan dan Penganiayaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 21:21 WIB
Briptu Fikri disebut termasuk ke dalam salah satu orang yang menyebabkan tewasnya empat laskar...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya