Sabtu 03 Agustus 2019, 17:00 WIB

Modifikasi Cuaca Disebut hanya Hilangkan Polutan selama 24 Jam

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Modifikasi Cuaca Disebut hanya Hilangkan Polutan selama 24 Jam

MI/PANCA SYURKANI
Kepala BBTMC, Tri Handoko Seto,

 

BALAI Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) mengungkapkan teknologi modifikasi cuaca hanya dapat menghilangkan polutan selama 24 jam.

Kepala BBTMC, Tri Handoko Seto, mengatakan, meski menggunakan teknologi modifikasi cuaca, pencemaran udara di Jakarta diyakini tetap ada. Sebab, kata dia, faktor-faktor penyebab pencemaran udara hingga faktor pendukung polutan tetap bertahan di udara masih ada.

"Selama masih banyak kendaraan pribadi dan industri yang menyebabkan polutan itu masih ada ya tetap pencemaran udara akan tetap ada. Ditambah lagi sedang musim kemarau, polutan lebih lama bertahan di udara dibandingkan saat musim hujan," kata Tri saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Sabtu (3/8).

Modifikasi cuaca yang diterapkan untuk menghilangkan polutan di udara yakni dengan mendinginkan suhu atmosfer agar kondisinya tidak stabil. Pendinginsn atmosfer dilakukan dengan menebar es kering di lapisan atmosfer dalam proses penyemaian menggunakan pesawat.

Dengan kondisi yang tidak stabil itu akan membongkar lapisan inversi atau lapisan di mana polutan terjebak di udara sehingga polutan bisa diberi celah untuk naik ke lapisan atasnya.

"Karena saat musim kemarau seringnya atmosfer itu menghangat menyebabkan atmosfer lebih stabil. Akibatnya ada lapisan yang tebal dan membuat polutan terjebak di situ," ujarnya.


Baca juga: Biaya Modifikasi Cuaca untuk Polusi Sekitar Rp132 Juta Per Hari


Tri menyebut proses persiapan teknologi modifikasi cuaca untuk mengatasi pencemaran udara hanya memerlukan waktu 3-5 hari. Dalam waktu-waktu tersebut, pihaknya mengkaji keadaan cuaca beserta atmosfer di wilayah yang akan dilakukan penyemaian untuk memodifikasi cuaca.

"Setelah disemai proses penyemaian butuh 2-3 jam. Setelahnya dalam waktu 3-5 jam sudah mulai terlihat hasilnya polutan naik ke lapisan atmosfer atas dan udara akan menjadi lebih jernih, tidak pekat," kata Tri.

Ia menyebut keberhasilan penanganan pencemaran udara menggunakan TMC tidak dapat diprediksi karena keadaan atmosfer yang berbeda-beda. Namun, menurutnya teknologi ini sangat cocok digunakan di kota-kota besar dengan kondisi pencemaran udara yang buruk seperti Jakarta.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka opsi untuk menerapkan TMC guna mengatasi pencemaran udara di Ibu Kota.

Pencemaran udara di Jakarta diketahui telah memburuk beberapaa pekan terakhir dibuktikan dari hasil pemantauan situs pemantau kualitas udara Air Visual yang menempatkan Jakarta di peringkat pertama kota dengan kualitas udara terburuk setiap paginya. (OL-1)

 

Baca Juga

Dok. Bebek Kaleyo

Perluas CIta Rasa Olahan Bebek, Bebek Kaleyo Buka Outlet di Summarecon Bekasi 

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 27 Januari 2022, 23:12 WIB
Desain interior restoran Bebek Kaleyo Summarecon Bekasi bergaya scandinavian garden yang minimalis dipadu dengan ornamen batu...
AFP/Fayez Nureldine

Jakpro dan IMI Terbang ke Diriyah untuk Pelajari Penyelenggaraan Formula E 

👤Selamat Saragih 🕔Kamis 27 Januari 2022, 19:47 WIB
Widi mengatakan, IMI bersama Jakpro sebagai panitia penyelenggara sedang mempelajari bagaimana penyelenggaraan balap Formula E di Diriyah...
MI/Susanto.

Anies Prediksi Jakarta Tetap Macet meski Pusat Pemerintahan Pindah

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Kamis 27 Januari 2022, 18:13 WIB
Tantangan yang dihadapi untuk menjadi kota bisnis global bukan hanya dihadapi Jakarta...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya